Historia

Kisah Menteri Termuda dalam Sejarah Indonesia

Usianya masih 22 tahun ketika diangkat sebagai Menteri Keamanan Rakyat oleh Presiden Sukarno. Hilang tanpa jejak.

Tangga Veranda Istana Merdeka, Jakarta, kembali menjadi saksi lahirnya putra-putri terbaik bangsa. Rabu (23/10/2019) sekira pukul 08.30 WIB, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan jajaran menterinya. Kompak berseragam batik, menteri-menteri terpilih dalam Kabinet Indonesia Maju ini akan mendampingi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf selama 5 tahun kedepan.

Dari sekian menteri yang sebelumnya dipanggil oleh Jokowi, sosok Nadiem Makarim cukup mendapat sorotan. Pendiri perusahaan transportasi berbasis daring, Gojek, itu menjadi menteri termuda dalam jajaran pemerintahan Jokowi. Berusia 35 tahun, Nadiem resmi menempati kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya panggilnya mas. Mas Nadiem Anwar Makarim,” kata Jokowi.

Namun Nadiem bukanlah menteri termuda dalam sejarah Indonesia. Masih ada Suprijadi, menteri masa Presiden Sukarno yang diangkat pada usia 22 tahun. Meski tidak pernah hadir, nama Suprijadi telah ditetapkan di dalam jajaran menteri kala itu.

Pemimpin Pembrontakan

Dilahirkan pada 13 April 1923 di Jawa Timur, Supriyadi dikenang sebagai pemimpin tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pemimpin pemberontakan di Blitar masa pendudukan Jepang. Setelah menamatkan Europeesche Lagere School (setingkat Sekolah Dasar), Supriyadi menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat Sekolah Menengah Pertama), kemudian masuk Sekolah Pamong Praja di Magelang, Jawa Tengah. Namun masuknya Jepang ke Hindia Belanda membuat ia terpaksa harus meninggalkan sekolahnya.

Supriyadi lalu mengikuti pelatihan khusus pemuda bentukan Jepang, Seimendoyo, di Tangerang, Jawa Barat. Ketika Oktober 1943 Jepang membentuk PETA, Supriyadi terlibat di dalamnya. Ia bergabung dengan diberi pangkat shodanco atau komandan pleton. Selama masa pelatihan, Supriyadi telah merencanakan perlawanan terhadap Jepang. Kabar kekejaman romusha di berbagai tempat yang santer terdengar membuat Supriyadi marah. Maka ketika ditempatkan di Blitar, Jawa Timur, Supriyadi telah bertekad untuk melawan.

“Apa pun yang diperlakukan Jepang kepada kita, harus kita hadapi,” ucap Kemal Idris menirukan ucapan Supriyadi sebelum pemberontakan, dimuat Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi.

Pada 14 Februari 1945, Supriyadi dan sejumlah tentara PETA berontak melawan Jepang. Dikisahkan Ratnawati Anhar dalam Pahlawan Nasional Supriyadi, sebagai tanda dimulainya pemberontakan, para perwira PETA menembakkan mortir sebanyak tiga kali ke arah Hotel Sakura, tempat yang banyak digunakan orang-orang Jepang. Setelah itu, Muradi melapor kepada Supriyadi bahwa persiapan telah sepenuhnya siap.

“Shodanco Suprijadi masuk ke kantor Honbu dan menelepon Bapak Bupati Blitar dan Kepala Kepolisian Blitar, memberitahukan bahwa hari itu tentara PETA Blitar akan mengadakan latihan besar-besaran dengan menggunakan peluru tajam. Hal ini diberitahukan agar kedua pembesar itu jika menerima laporan dari siapa saja dapat menenangkan rakyat dan anak buahnya,” tulis Ratnawati.

Namun kekuatan Jepang rupanya masih terlampau besar. Rapatnya pertahanan tentara Jepang membuat komando PETA mulai kesulitan mengatur pasukannya. Meski sempat merepotkan, perlawanan pasukan PETA akhirnya berhasil dipadamkan. Pemerintah militer Jepang yang marah, segera menangkap para pemberontak. Sebagian dihukum mati, sementara sisanya dipenjara. Tetapi Supriyadi tidak masuk di dalam keduanya. Keberadaan pemimpin pemberontakan itu tidak diketahui.

Hilang Tak Berjejak

Setelah Sukarno mengikrarkan kemerdekaan Indonesia, susunan pemerintahan pun segera dibentuk. Ada 12 menteri yang memimpin departemen dan 5 menteri negara yang ditunjuk dalam kabinet presidentil tersebut. Satu di antaranya Kementerian Kemanan Rakyat dengan menterinya Supriyadi, yang ketika diangkat masih berusia 22 tahun.

Bibit Suprapto dalam Perkembangan Kabinet dan Pemerintahan Indonesia menyebut Supriyadi tidak pernah sekalipun menunjukan dirinya di depan para menteri. Semua orang bahkan tidak tahu apakah ia bersedia menduduki jabatan Menteri Kemanan Rakyat atau tidak.

“Maka tanggal 20 Oktober 1945 Presiden mengangkat Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat ad Interim yaitu menteri sementara sebelum menteri yang asli ditemukan,” tulis Bibit.

Hilangnya Supriyadi masih diselimuti misteri hingga kini. Belakangan banyak orang yang mengaku sebagai dirinya. Namun sejarawan meragukan kebenarannya. Bahkan mulai banyak orang yang mempertanyakan sosok Suprijadi, apakah dirinya memang benar-benar ada atau tidak.

Jika memang sosok Suprijadi ini tidak jelas rimbanya, lantas mengapa bisa Sukarno mengangkatnya menjadi menteri? Rupanya di dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno pernah menceritakan kisah pertemuannya dengan Supriyadi. Si Bung dibuat terkagum-kagum dengan semangat militernya.

Dikisahkan beberapa minggu sebelum pemberontakan, Suprijadi, Muradi, dan Sunanto datang menemui Sukarno yang saat itu sedang berada di rumah orangtuanya di Blitar. Dalam wajah serius, ketiga perwira PETA itu mengutarakan niat mereka melakukan pemberontakan. Kendati mengagumi semangat cinta tanah air para opsir muda itu, Sukarno menyatakan “tidak setuju” dengan rencana pemberontakan tersebut.

Kiprah Trimurti, Menteri Buruh Bersandal Jepit

Setelah resmi menjadi menteri, Trimurti mulai bekerja. Dia senang karena ternyata banyak teman lama berada di kementeriannya. Wilopo, seorang ahli hukum yang pernah jadi ketua Komisi Perburuhan lalu kepala Jawatan Perburuhan, menjabat menteri muda perburuhan. Sekjennya, Mr. Sumarno, juga sudah dikenalnya sejak di Indonesia Muda.

Soal gaji yang minim bukanlah soal. Sebagai menteri, Trimurti mendapat gaji Rp750 per bulan. Padahal sebagai penulis, dia bisa mengumpulkan Rp 3.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya selama sebulan. Jelas sekarang dia tak bisa lagi melakukan pekerjaan sambilan. Untuk mencukupinya, dia terpaksa menjual barang-barang untuk keperluan hidup.

Meski sudah jadi menteri, Trimurti tidaklah berubah. Dia tetap tampil sederhana. Kesederhanaan Bu Menteri terlihat ketika, sebagai menteri perburuhan, dia memberikan kursus politik di “presidenan” Yogya. Seperti dikutip Tjiptoning dalam Apa dan Siapa, Trimurti berjalan ke muka dengan langkah besar-besar. Dia naik podium dan angkat bicara: “Saudara-saudara kaum wanita yang bersandal dan tidak bersandal!… walaupun saya kebetulan bersandal.”

Dia juga menolak ketika mendapat tawaran sebuah rumah besar yang berlokasi di muka Istana Pakualaman. Sebuah tawaran yang menurutnya tak pantas di tengah situasi politik dan ekonomi yang gawat karena agresi militer Belanda. Trimurti menolak.

“Saya sudah punya rumah di Pakuningratan, kenapa mesti pindah. Saya pikir-pikir nanti nyapunya juga repot,” ujar Trimurti kepada Erwiza Erman, dalam proyek sejarah lisan Arsip Nasional.

Trimurti juga mendorong organisasi-organisasi buruh untuk memperkuat diri agar siap menghadapi segala kemungkinan. “Pergerakan buruh harus dibawa ke front perjuangan nasional karena beberapa pabrik dan onderdil pabrik telah dirusak dan diangkut pergi oleh orang-orang Belanda dan Jepang, maka produksi di Indonesia menjadi sangat berkurang,” ujarnya, dikutip Soeloeh Rakjat, 17 Juli 1947.

Perpecahan di kalangan organisisasi buruh menjadi perhatiannya. Perpecahan itu, terkait sikap pro-kontra mengenai Linggarjati, juga perbedaan aliran politik, sudah begitu parah, bahkan menjurus ke tindakan intimidasi dan culik-menculik. Modalnya, pengalamannya menyatukan buruh swasta dalam GASPI. Dia turun ke lapangan untuk menangani soal perburuhan yang riil.

“Kaum buruh dalam kelompoknya masing-masing tentu ingin mendesakkan kepada pemerintah supaya kemauan mereka dituruti. Dan kemauan itu tidak sama. Kalau kemauan itu bertentangan satu sama lain, pemerintah harus lebih berhati-hati lagi memberikan keputusan,” ujar Trimurti seperti dikutip dalam biografinya.

Trimurti juga sadar bahwa Kabinet Amir Sjarifuddin sangat lemah dan butuh dukungan besar dari rakyat. Untuk masa itu, yang memungkinkan adalah dukungan dari kelompok buruh. Tak heran jika Trimurti turun ke lapangan untuk meyakinkan kelompok buruh agar mendukung pemerintah.

“Dalam arti tertentu, S.K. Trimurti jadi corong bagi Amir untuk cari dukungan dari organisasi buruh,” ujar Jafar Suryomenggolo, peneliti sejarah buruh pada Kajian Asia Tenggara di Universitas Kyoto, Jepang. (histori)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close