Ekonomi

TPL Bina 50 Poktan Untuk Pola Tanam Tumpang Sari

TOBASA, FaseBerita.ID – PT TPL Tbk mengembangkan pola tanam tumpang sari di kawasan perpabrikan Parmaksian, Porsea, Kabupaten Toba Samosir sebagai proyek percontohan atau demplot untuk pengembangan perekonomian masyarakat di sekitar unit usaha perusahaan.

Staf Pondok Bina Tani, Suwarno Simatupang kepada wartawan yang bertugas di Kabupaten Simalungun, Selasa (27/8/2019) mengatakan, pola tanam itu diterapkan terhadap 50 kelompok tani (poktan) binaan perusahaan.

Ke-50 poktan itu berada di lima sektor meliputi Aek Nauli Kabupaten Simalungun, Tele (Samosir dan Humbahas) Aek Raja (Tapanuli Utara), Habinsaran (Toba Samosir) dan Sidempuan (Tapanuli Selatan).

PT TPL memberikan benih, mendanai proses tanam dan membeli hasil panennya yang selanjutnya dikelola secara mandiri poktan.

Tumpang sari suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan.

Pihaknya telah melakukan pertanaman komoditas sayuran seperti cabai, jahe, kunyit, jagung, ubi di sela atau antara pohon euchalyptus dengan hasil baik.

Suwarno mengatakan, selain untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar perusahaan, juga menunjukkan tanaman jenis euchalyptus yang menjadi bahan baku PT TPL bukan “musuh” tanaman lain dan bukan penyerap air.

Jamin Limbah Industri Ramah Lingkungan

PT Toba Pulp Lestari (TPL) Tbk memberikan kepastian limbah cair industri yang dialirkan ke Sungai Asahan telah melalui proses pengolahan sesuai baku mutu air normal ber-pH 7-9.

“Tidak berdampak pada kesehatan dan tidak mencemari lingkungan,” ujar Manager Eviromil, Jekson Sinurat, Selasa (27/8/2019), kepada wartawan wilayah tugas Kabupaten Simalungun pada kesempatan media trip ke kawasan pabrik di Porsea, Kabupaten Toba Samosir.

Limbah yang sudah melalui proses pengolahan itu dapat digunakan untuk mandi dan mencuci oleh ribuan karyawan yang tinggal di kompleks perusahaan.

Dikatakan, limbah cair dari pengolahan kayu ecaliptus menjadi bubur kertas itu diproses di instalasi pengolahan air limbah (Ipal) melalui tiga tahapan secara biologi dengan bakteri pengurai zat-zat organik.

Air dari hasil pengolahan limbah industri  tetap dimonitoring melalui alat dan diuji dengan memelihara ikan dan bebek yang tumbuh kembang normal serta tanaman subur. (ant/int)