Ekonomi

Rupiah Tetap Kompetitif untuk Ekspor-Impor Pergerakan Nilai Tukar Dinilai Terlalu Kuat

FaseBerita.ID – Tren rupiah yang menguat sejak awal bulan justru memunculkan kekhawatiran akan berdampak pada daya saing produk dalam negeri. Sebab, mata uang Garuda mengalami penguatan yang cukup tajam. Meski mengapresiasi kinerja Bank Indonesia (BI), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai penguatan rupiah terlalu kuat.

”Terkait dolar ini, operasi moneternya Pak Gubernur (BI) baik. Cuma agak terlalu kuat nih Pak Gubernur, jadi daya saing kita agak alarming (mengkhawatirkan) juga nih. Jadi, kekuatan Pak Gubernur nih harus di-adjust (disesuaikan) sedikit,’’ ujarnya pada video conference Selasa malam (9/6).

Seperti diketahui, nilai tukar yang terlalu kuat memang tidak berdampak baik, terutama pada neraca perdagangan. Nilai tukar rupiah yang terlalu menguat cenderung tidak akan memacu peningkatan produksi barang atau produk dalam negeri. Sebab, para pelaku usaha lebih memilih impor dari negara lain yang menyuplai barang itu.

Hal tersebut tentu akan membawa dampak pada para pelaku usaha, terutama para importer yang memiliki kewajiban valas. Barang impor yang terlalu murah dan sebaliknya barang ekspor yang terasa mahal akan membawa dampak pada daya saing produk dalam negeri.

Kemarin (10/6) data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatat rupiah berada pada posisi Rp 14.803 per dolar AS (USD). Posisi itu melemah 110 poin atau 0,79 persen dari posisi Rp 13.973 per USD pada Selasa (9/6).

Meski dalam perdagangan kemarin ditutup melemah, jika dilihat dari tren pergerakan sejak awal bulan ini, rupiah memang lebih banyak menunjukkan penguatan daripada pelemahan.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo meminta Menko Perekonomian tidak cemas. Dia memastikan nilai tukar rupiah tetap kompetitif untuk kegiatan ekspor-impor. Rupiah juga masih undervalue atau di bawah nilai semestinya. Praktis, masih berpotensi menguat.

Perry menjelaskan, nilai tukar mata uang dipengaruhi faktor fundamental dan teknikal. ”Fundamental itu inflasi, defisit transaksi berjalan, serta perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri,” terang dia. Tercatat, inflasi pada Mei rendah dengan 0,07 persen month-to-month dan 2,19 persen secara tahunan.

Begitu pula defisit transaksi berjalan triwulan I 2020 terpantau rendah. Yakni, 1,5 persen PDB (produk domestik bruto). Selain itu, perbedaan antara suku bunga dalam dan luar negeri tinggi. ”Yield SBN 10 tahun Indonesia sebesar 7,06 persen, sedangkan yield US Treasury Note 10 tahun sebesar 0,8 persen. Sehingga yield spread sebesar 6,2 persen,” urai Perry.

Sementara itu, faktor teknikal adalah premi risiko. Perry yang juga menjabat ketua umum ISEI itu menjelaskan, salah satu ukuran premi risiko adalah credit default swap (CDS). Premi CDS Indonesia lima tahun tercatat turun ke 126,78 bps per 4 Juni. Meski demikian, kata Perry, angka tersebut masih tinggi jika dibandingkan dengan premi CDS Indonesia lima tahun sebelum Covid-19. Yakni, sebesar 66–68 bps.

”Kami tentu menimbang nilai tukar rupiah tetap bagus untuk ekspor, juga tidak menjadi kendala untuk impor. Jangka menengah dan panjang dengan fundamental yang bagus akan mendukung stabilitas ekonomi,” jelas Perry.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, pergerakan rupiah yang melemah kemarin dipicu adanya pernyataan dari pemerintah terkait tren penguatan rupiah yang cenderung mengurangi daya saing dari produk ekspor tanah air. Begitu pula IHSG yang merosot 2 persen sejak awal perdagangan kemarin dan ditutup melemah 2,3 persen ke level 4.921. Juga, disertai dengan net sell investor asing di pasar saham sebesar USD 36,5 juta.

Pelemahan rupiah dan IHSG juga dipengaruhi antisipasi investor asing menjelang rapat FOMC bulan Juni.

Mengingat, suku bunga acuan The Fed diperkirakan akan tetap. ”Menurut saya, pengumuman jumlah kasus Covid-19 per hari ini tidak terlalu signifikan memengaruhi pelemahan di pasar keuangan domestik meski menjadi atensi pasar,” papar Josua.

Perkembangan rupiah dalam jangka pendek, lanjut dia, dipengaruhi keputusan The Fed tadi malam. (JP)