Ekonomi

Rupiah Menguat Tajam, Tembus ke Level 13.912 per Dolar AS

FaseBerita.ID – Pada penutupan perdagangan akhir pekan, nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan tajam hingga 1,82 persen di kisaran level 13.912 per Dolar Amerika Serikat (AS). Arus dana asing yang masuk ke Indonesia hari ini menjadi penguat nilai tukar rupiah hingga bisa tembus di bawah 14.000.

“Penguatan ini seiring dengan kepercayaan investor dalam berinvestasi di pasar keuangan Indonesia. Saya kira rupiah masih akan menguat di pekan depan,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Jumat (21/6/2019).

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkoreksi 0,343 persen atau turun 20 poin di level 6.315. Level tertinggi IHSG berada di level 6.352 dan terendah berada di level 6.269. Pelemahan IHSG ini karena hampir seluruh sektor saham di bursa terkecuali sektor agri dan pertambangan mengalami pelemahan.

Gunawan mengatakan, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diharapkan sejumlah pelaku saham belum juga terlihat. BI hanya memberikan angin segar adanya penurunan suku bunga pada waktu mendatang namun belum dapat dipastikan apakah akan dilakukan. Karena itu, investor saham dan pelaku pasar keuangan cenderung wait and see menindaklanjuti adanya perubahan suku bunga ini.

Pada perdagangan hari ini, sektor agri masih dapat bertahan dengan penguatan 0,647 persen karena penurunan suku bunga tidak begitu memberikan pengaruh yang signifikan pada sektor tersebut.

Sementara itu, sektor pertambangan mengalami penguatan 1,4 persen setelah beberapa hari mengalami pelemahan akibat pelemahan harga minyak dunia. Penguatan saham pertambangan kali ini disinyalir berasal dari adanya kenaikan harga minyak dunia yang terjadi setelah penyerangan Iran terhadap drone minyak AS yang menyebabkan harga minyak naik 5 persen.

“Begitupun, hal ini saya kira dapat menimbulkan ketegangan kembali hubungan AS dengan Iran yang berakibat pada naik turunnya harga minyak dunia,” kata Gunawan.

Selain itu, turunnya persediaan minyak di AS juga menjadi penyebab kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 4,63 persen menjadi US$ 64,45barel. Begitupun, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik 5,4 persen menjadi US$ 56,65 per barel.

Untuk bursa global, nayoritas saham bergerak di 2 zona. Bursa Wallstrett masih menunjukkan penguatan sementara bursa Asia cenderung melemah dimana Indeks Hangseng turun 0,269 persen, Indeks Kospi turun 0,435 persen, Indeks Korea naik 0,266 persen. (bbs/ila)