Ekonomi

Regal Spring Ciptakan Peluang Bisnis untuk Warga Pinggiran Danau Toba

FaseBerita.ID – Memproduksi tilapia premium, sembari membangun masyarakat sekitar. Itulah misi awal yang dipertahankan Regal Springs Indonesia –produsen ikan filet putih terbesar di dunia, hingga saat ini. Hadir di Danau Toba sejak 1998 lalu, apa yang telah dilakukan perusahaan membangun masyarakat sekitar?

Didirikan tahun 1988 di sebuah danau air tawar di Wunut, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia, bisnis Regal Springs Tilapia tumbuh dan berkembang hingga ke Honduras, Meksiko, termasuk ke Sumatera Utara, persisnya di wilayah Danau Toba.

Memproduksi ikan tilapia yang diakui konsumen rasanya paling fresh di dunia, Regal Spring menjadi produsen ikan putih terintegrasi terbesar di dunia. Rantai integrasinya mulai dari pembibitan ikan tilapia, pembesaran, pengolahan, hingga pemasaran ke Amerika Serikat dan Eropa.

Saat ini, bisnis ikan daging putih produksi Regal Spring diakui sebagai nomor 1 paling banyak dikonsumsi di USA. Fillet tilapia yang paling disukai adalah hasil budidaya di perairan Danau Toba. Bebas dari kandungan antibiotik, aditif, dan bahan pengawet. Apa rahasianya?

“Perusahaan membudidayakan ikan di kolam jaring apung di danau air tawar yang terjaga kemurniannya, dengan kondisi arus alami. Keramba dibangun di danau dengan kedalaman sekitar 100 meter untuk menghasilkan ikan tilapia yang sehat. Karena kualitas air sangat mempengaruhi kualitas daging ikan, perusahaan berkepentingan menjaga kualitas air dan danau tetap prima,” kata Dian Octavia, Senior Community Affairs Manager Regal Springs Indonesia (RSI), didampingi Senior External Affairs Manager RSI, Kasan Mulyono, kepada Sumut Pos, pertengahan pekan lalu.

Berkomitmen untuk terus beroperasi secara keberlanjutan di Indonesia, PT Aquafarm Nusantara (AN) di bawah manajemen RSI, memiliki filosofi bisnis baru: KAMI PEDULI.

Program ini bertujuan menghasilkan produk RSI tilapia alami yang lebih baik untuk kebutuhan konsumen, sekaligus memelihara lingkungan dan sumber daya alam dan membangun masyarakat sekitar.

3 Pilar Kami Peduli

Dalam misi mengurangi kemiskinan dan kekurangan lapangan pekerjaan yang dihadapi masyarakat sekitar, Regal Springs Indonesia sejak awal kehadirannya, telah menggulirkan sejumlah program Corporate Social Responsibility (CSR). Namun konsep KAMI PEDULI baru diluncurkan tahun 2018. Program ini memiliki tujuan yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) yang digaungkan oleh PBB.

“Ada 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang digaungkan PBB, sebagai acuan seluruh jenis industri di dunia. Mulai dari pemeliharaan air bersih, gender equality, pendidikan, kesehatan, infratruktur, dan seterusnya. Intinya, menjaga bumi sebagai bagian masyarakat global,” kata Dian Octavia.

RSI merangkum setidaknya 6-8 tujuan tersebut dalam program KAMI PEDULI, yang diurai dalam 3 nilai dasar. Yaitu, kepedulian terhadap lingkungan, kepedulian terhadap komunitas, dan kepedulian untuk memproduksi ikan Tilapia secara alami.

Pilar pertama, peduli lingkungan. Sebagai bisnis yang bergerak di bidang pembudidayaan ikan air tawar, air menjadi sumber daya vital untuk menghasilkan ikan Tilapia yang aman untuk dikonsumsi.

“Air ibarat darah bagi bisnis ini. Kualitas ikan sangat dipengaruhi kualitas air. Karena itu, kondisi perairan tempat pembudidayaan ikan amat dijaga. Program pengujian kualitas air danau diawasi secara independen oleh Wageningen University Belanda. Selain itu, air danau yang menjadi tempat budidaya juga telah diuji oleh laboratorium independen berstandar ISO 17025,” kata Dian.

Selain itu, produksi dan penebaran pakan dilakukan secara bertanggung jawab.

RSI juga menanamkan prinsip zero waste dalam proses budidaya. Bisa dipastikan tidak ada bagian dari ikan Tilapia yang dibuang, sehingga tidak ikut mencemari lingkungan.

“Bagian-bagian yang biasanya dibuang, kami coba manfaatkan kembali. Misalnya, tulang ikan dijadikan pupuk kompos, dan dibagikan kepada warga sekitar perusahaan secara gratis. Kulit ikan diolah kembali untuk obat luka bakar. Sisik ikan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik,” jelas Dian.

Pilar kedua, peduli komunitas. Sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat di sekitar lokasi pembudidayaan, program KAMI PEDULI turut memperhatikan aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat. Di antaranya peduli terhadap pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur setempat, perekonomian warga, hingga edukasi masyarakat mengelola limbah domestik.

“Kami meniru konsep Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang meraih penghargaan Nobel Perdamaian. Ia mengatakan: ‘Every time I see a problem, I create a business to solve it.’ Ia menciptakan bisnis untuk mengurai masalah sosial yang ada. RSI pun setuju cara itu. Pertumbuhan ekonomi seharusnya berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, kami mendukung program-program pendidikan dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Dian.

Dan pilar ketiga, peduli dalam produksi ikan tilapia yang lebih baik. Dimulai dari proses budidaya secara alami di danau (bukan di kolam), pemberian pakan terapung untuk memaksimalkan penggunaan pakan, serta pengendalian unit operasional yang lebih baik.

Konsepnya, memproduksi ikan dilapia secara alami yang lebih baik, sebagai nutrisi makanan kelas dunia, tanpa antibiotik.

“Untuk mencapai ketiga pilar itu, RSI bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, dengan menekankan skala prioritas secara bertahap,” cetus Dian. (smg)

USI