Ekonomi

Petani Kopi Sipirok Siap Adopsi Pola Kopi Gayo

TAPSEL, FaseBerita.ID – Petani Kopi Sipirok, memiliki komitmen yang tinggi dalam mengadopsi penerapan pola pengolahan Kopi Gayo, Aceh Tengah. Hal itu, setelah melakukan studi banding ke Kabupaten Bener Meriah, Aceh pada Senin (25/2) lalu.

Rombongan petani dan pengolah kopi yang berjumlah 38 orang, disambut Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, Juanda, saat melakukan kegiatannya.
Disebutkan Juanda, Aceh Tengah (Ateng), dijuluki Kota Kopi karena memang Kopi Gayo ini sudah terkenal hingga ke mancanegara.

“Untuk ladang kopi 49 ribu hektare, varietas Gayo 1 dan Gayo 2, ada pula Ateng (Aceh Tengah). Sedangkan varietas baru yang akan diluncurkan adalah Ateng Super (Gayo 3),” jelasnya.

Tentu, untuk penanganan pengolahan di Aceh Tengah di antaranya berkat adanya koperasi petani kopi, kafe, dan mobil kafe. Koperasi besar di Aceh Tengah ada enam.

Dan saat ini kelompok petani kopi ada sebanyak 1.500 yang disahkan oleh Bupati. Sebelum disahkan bupati, akan dianggap sebagai kelompok petani kopi ilegal.

“Jumlah penyuluh yang ada di Aceh Tengah sebanyak 145 orang,” tambah Juanda.

Rombongan studi banding yang didukung penuh oleh Pemkab dan PT NSHE ini, juga meninjau Kampung kopi Tebes Lues untuk mempelajari pengolahan kopi hingga ke tahap ekspor.

Ketua Koperasi Ridwan Husein, Manajer Pabrik Koperasi, Haris dan Humas Koperasi, Iwan Tosah menyambut rombongan dan melihat aktivitas pabrik pengolahan kopi.

Menurut Iwan Tosah, koperasi menerima greenbean dari petani, lalu akan ditimbang, diuji kualitas baru negosiasi harga. Di mana, koperasi menerima greenbean dari kolektor. Kolektor yang mengumpulkan gabah dari petani dan mengolahnya menjadi greenbean.

“Jadi standar kualitas sudah diajarkan dari level petani hingga kolektor. Misalnya biji kopi yang dijemur diaspal itu tidak akan laku dijual karena mempengaruhi kualitas biji kopi,” ujar Iwan.

Haris menjelaskan koperasi kopi ini sudah berdiri sejak 2005 dengan anggota hanya 500 orang. “Sekarang anggotanya sebanyak 5.500 petani yang tergabung dalam 100 kelompok tani atau kolektor. Sedangkan karyawan koperasi berjumlah 100 orang,” terangnya.

Diungkapkan, semua kopi yang diproses pabrik koperasi adalah milik koperasi petani. Koperasi Baburrayyan mempunyai mesin Huller sebanyak 11 unit disebar ke sejumlah titik agar mudah dijangkau kelompok tani.

Sebanyak 90 persen kebun kopi yang ada di Gayo sudah ada organik. Sisanya masih belajar organik.

“Di sini kami memproses kopi dengan metode semiwash. Proses sampai pengemasan harus sangat teliti karena untuk diekspor. Biji yang terlalu kecil atau pecah akan dijual lokal atau juga ke Medan,” jelasnya.

Jumlah ekspor yang dilakukam koperasi ke Amerika Serikat dan Eropa sebanyak 110 kontainer per tahun. Harga satu kontainer mencapai Rp1,5 Miliar.
Ridwal Husein selaku Ketua Koperasi Baburrayyan juga penggagas MPIG Gayo bercerita pada 2002 dulunya hanya koperasi simpan pinjam. Tapi tidak bisa bersaing dengan bank.

Tahun 2004-2005 mulai berevolusi melirik koperasi petani kopi karena Amerika Serikat dan Eropa sangat berminat dengan kopi organik. Sehingga kita mencoba beralih ke kopi.

“MPIG Gayo berdiri belakangan, sekitar tahun 2010 berdasarkan peraturan pemerintah. Fungsi MPIG adalah untuk melindungi hak paten kopi di daerah. Sehingga tidak bisa diklaim oleh pihak lain,” ujarnya.

Menurutnya, MPIG tidak boleh memiliki usaha hanya wadah bagi para petani kopi. Diharapkan, koperasi petani kopi dan MPIG di Sipirok akan segera bisa berdiri dan berjalan lancar untuk membantu kesejahteraan petani kopi.(ran)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button