Ekonomi

Pensiunan Perkebunan Olah Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar

FaseBerita.ID – M Sayudi (57) sebenarnya hanya ingin memanfaatkan hari hari pensiunnya. Namun, dia bukan tipe orang yang senang duduk bersantai diam tanpa mengerjakan sesuatu. Daya pikirnya masih produktif.

Buktinya, bisa menembus batas nalar kemampuan lelaki paruh baya diusianya dengan menciptakan inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan banyak orang sehari hari.

Saat ditemui di kedianamnnya, warga Desa Mekar Sari, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, ini masih sibuk mengolah beberapa limbah plastik, baik ia kumpulkan sendiri atau diantar tetanganya. Lokasi pengerjaannya hanya memanfaatkan teras rumah dengan alat seadanya.

Kepada wartawan, Sayudi bercerita bahwa mulanya dia belajar secar otodidak melalui dunia internet. Belum lama memang, sejak setahun terakhir penelitiannya membuahkan hasil, walau tak terhitung berapa puluh bahkan ratusan kali percobaan yang sudah dilakukannya. Hasilnya, walau belajar otodidak dia sukses melebur sampah plastik seberat kurang lebih 1 kilogram menjadi 0,7 liter bahan bakar minyak (BBM) berjenis premium.

“Ini  terdiri dari solar sebanyak 60 %, minyak lampu sebanyak 15 %, dan bensin sebanyak 25 %. Setelah 5 kali, saya melakukan penelitian dengan alat seadanya. Mesinnya ini jugak saya rakit sendiri,” katanya saat berbincang bersama sejumlah wartawan, Rabu (5/3).

Untuk membuat mesin pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak ini, ia mengaku telah menghabiskan biaya hingga hampir 9 juta rupiah saja. Sayudi menceritakan, kisah mula awal keinginanya ingin mengolah limbah plastik diketahui membutuhkan waktu hampir seratus tahun baru bisa terurai di dalam tanah.

Banyaknya sampah plastik di sekitar lingkungan tempat dia tinggal juga ikut menginisiasi niatan kuat Sayudi berkreasi menciptakan penemuannya itu.

“Saya bukan akademisi, tetapi saya punya kemauan dan tekad serta kepedulian terhadap masalah sampah. Begitu saya mendapatkan informasi bahwa plastik memiliki kandungan minyak di dalamnya, langsung saya coba,” ungkapnya.

Percobaan demi percobaan bukan dilaluinya tanpa tantangan bahkan kendala. Mulai dari mesin yang dia ciptakan sering rusak, kompor meledak, terkena luka bakar akibat percikan minyak tanah dari tabung bocor, dan lain lain. “Tapi saya puas saja begitu melihat ini berhasil,” katanya.

Ia menjelaskan, adapun cara yang dilakukan untuk mengubah sampah plastik menjadi senyawa lain melalui proses yang dinamakan pirolisis. Setelah itu, dilakukan pemisahan senyawa-senyawa yang dihasilkan dari mesin yang dia ciptakan hingga menjadi BBM murni.

Limbah plastik ini akan diubah menjadi cair dan gasnya menjadi residu yang berupa padatan. Gas yang tidak terkondensasi juga diharapkan sebagai bahan bakar, dan di dalam pengolahan tersebut, diperlakukan waktu sekitar 6 jam untuk menghasilkan BBM.

“Untuk hasilnya saya coba ke sepeda motor saya sendiri, ya Alhamdulillah, sepeda motor saya dapat berjalan sebagaimana mestinya, dan sampai saat ini. Sepeda motor tersebut tidak mengalami masalah di bagian mesinnya,” terang Suyadi.

Meski tdak tinggal dan hidup di kota besar bahkan ibu kota kabupaten di Kisaran, Sayudi berharap penemuannya ini mendapatkan tindak lanjut serta dukungan dari pihak lain, hingga proses penyempurnaannya lebih matang dan karyanya dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Karena belum pernah ada pengujian kandungan minyak yang diciptakannya itu ke labolatorium.

“Karena saya bercita-cita ingin memproduksi mesin tersebut, agar dapat mengatasi permasalahan sampah yang ada di bumi ini, dan saya bersedia hasil penemuan saya diuji ke laboratorium,” pungkasnya. (per/sr)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker