Ekonomi

Pemberdayaan UMKM, Solusi Tumbuhkan Ekonomi Rakyat

FaseBerita.ID – Pelaku ekonomi kreatif di Mandailing Natal (Madina) sering mengeluhkan kekalahan produk mereka dibandingkan dengan produk dari luar daerah. Hal ini disampaikan Muhammad Ridwan Lubis SPdI, calon anggota DPRD Madina dari Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil V (Siabu, Bukit Malintang, Nagajuang, Panyabungan Utara, Hutabargot) nomor urut 6.

Misalnya, pelaku UMKM jenis batu bata di desa Jambur Padang Matinggi Kecamatan Panyabungan Utara. Ada sekitar 70an orang pelaku ekonomi kreatif di bidang batu bata  di desa ini. Mereka mengeluh karena selama puluhan tahun lamanya mereka menggiati usaha ini, tetapi belum ada perhatian serius dari pemerintah sehingga produksi mereka kalah saing, dan penghasilan mereka masih jauh dari yang diharapkan.

Muhammad Ridwan Lubis kepada wartawan mengatakan, baru-baru ini, ia silaturahmi dengan kelompok usaha batu bata di desa Jambur Padang Matinggi. Di situ, ada sejumlah kendala yang dikeluhkan pelaku usaha dalam menjalankan usaha turun temurun itu.

“Saya sudah mendengarkan banyak keluhan mereka, yang pada intinya sudah puluhan tahun mereka menggiati usaha produksi batu bata, tapi belum ada perhatian berupa pembinaan, pemberdayaan dan sebagainya dari Pemerintah,” sebutnya.

“Mereka sebenarnya sudah sering menyampaikan keluhan tersebut melalui pemerintah maupun anggota DPRD Madina selama ini, tapi sama sekali belum ada tindak lanjut atas aspirasi yang mereka sampaikan. Padahal, permasalahan yang mereka alami sebenarnya bukan hal yang rumit, bahkan sangat mudah bila memang betul-betul ditindaklanjuti oleh pemerintah dan DPRD Madina,” ungkapnya

Selain pelaku UMKM bidang batu bata, Muhammad Ridwan Lubja juga menemukan kendala yang dialami pedagang oleh-oleh dan makanan ringan khas Mandailing yang mengaku kalah bersaing dengan produk makanan ringan luar daerah yang sebenarnya jenis makanannya sama.

Kalah saingnya bukan soal cita rasa, bahkan cerita soal rasa, lebih gurih lagi keripik sambal dari Mandailing, lebih gurih lagi keripik incor-incor dari Mandailing dibandingkan keripik dari luar daerah yang merambah pangsa pasar di Mandailing Natal.

Ridwan Lubis menyebut, ada beberapa indikator penyebab produk lokal jenis makanan ringan kalah saing dari produk luar daerah walaupun dengan jenis makanan yang sama.

“Pertama, pelaku UMKM kita masih kurang perhatian dalam hal pembinaan dan pengembangan usahanya. Sehingga pedagang kita menjalankan usahanya tanpa strategi menghadapi pasar modern. Misalnya, dari kemasan dan branding saja produk lokal kita sudah kalah,” paparnya.

“Kemudian dari segi Modal, pelaku ekonomi kreatif ini sering kali mengeluh usaha mereka terkendala modal, kalaupun mau meminjam ke bank, harus punya agunan, ini kan jadi tantangan bagi mereka. Ada pun tempat peminjaman yang lain yaitu rentenir, yang sesungguhnya rentenir ini ibarat mengikat tali di leher sendiri,” terang Ridwan.

Menurutnya, solusinya menjawab kendala tersebut supaya pelaku ekonomi kreatif dan UMKM seperti itu adalah, pentingnya peran Pemerintah Daerah dan DPRD Madina

“Pemerintah dan DPRD Madina perlu secepatnya membuat program alternatif menggandeng semua pelaku-pelaku ekonomi kreatif dan UMKM, memberikan pelatihan khusus untuk pengembangan usaha, memberikan suntikan modal, dan membantu promosi pemasaran. Sehingga, produk asli daerah yang bersumber dari ekonomi kreatif UMKM masyarakat Mandailing Natal berdaya saing. Karena program ini mampu menumbuhkan semangat ekonomi rakyat,” ujarnya. (san)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button