Ekonomi

Pasutri Korban PHK Raup Cuan dari Bisnis Boneka

FaseBerita.ID – Pasangan suami istri (pasutri), Sukaryo (48) dan Suratinah (48), warga Jateng, ini sukses menjadi perajin boneka. Kini di rumahnya telah ada showroom untuk memanjang berbagai jenis boneka produksinya.

Saat ditemui di rumahnya Dusun Candi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Suratinah tengah menunggui showroom bonekanya. Di showroom ini terdapat banyak boneka dengan berbagai ukuran dan jenisnya.

Bahkan ada sekitar 100 jenis boneka yang diproduksi Tin Panda Collection. Boneka yang dibuat tersebut sebagian besar tokoh karakter film kartun dan boneka hewan yang lucu-lucu. Boneka yang diproduksi Tin Panda Collection ini, model dan jenisnya selalu mengikuti tren atau perkembangan. Keduanya, sebelum merintis usaha di Magelang, merupakan korban PHK perusahaan boneka di Bandung.

Suratinah yang asal Secang Magelang tersebut saat bekerja di Bandung bertemu Sukaryo asal Purbalingga. Setelah sama-sama di PHK, pasutri ini kembali ke Secang, Kabupaten Magelang sekitar tahun 1997.

Suratinah saat masih menjadi karyawan di Bandung dipercaya bosnya. Untuk itu, ia mengetahui seluk beluk pembuatan boneka. Bahkan, dia memiliki kelebihan dari karyawan lainnya dalam pembuatan pola boneka. Sedangkan suaminya menguasai soal menjahit. Kemudian, soal bahan-bahan pembuatan boneka, Suratinah juga mengetahuinya.

“Setelah lulus SD, kami langsung bekerja di Bandung selama 10 tahun. Setelah ada pengurangan karyawan kami nganggur selama dua bulan padahal harus bayar kontrakan dan lain-lain,” kata Suratinah saat ditemui.

Ia pun kemudian bertekad untuk mencoba dengan usaha sendiri. Berbekal uang tabungan sebesar Rp5,5 juta kemudian dibelanjakan bahan-bahan membuat boneka. Bahan-bahan tersebut, kemudian dibuat boneka.

“Dulu, uang tabungan itu dapat satu truk bahan baku. Bahan baku itu terus kami buat hasilnya dijual keliling ke Magelang,” ujar Suratinah yang akrab dipanggil Mbak Tin, itu.

Bahkan saat pertama memproduksi untuk menawarkan belum secanggih sekarang harus door to door dari satu toko ke toko lainnya. Terkadang saat menawarkan boneka yang dibuatnya ditolak. Kendati demikian, berbekal keuletan, produksi industri boneka Tin Panda Collection ini dikenal luas. Kebanyakan warga ataupun pembeli mengetahui boneka produksinya dari mulut ke mulut.

“Kami edarkan keliling menawarkan di toko-toko. Kadang ditolak juga, tapi kami pingin ketemu pemilik tokonya,” ujar Tin.

Seiring berkembangnya waktu, produksi pembuatan boneka terus berkembang. Bahkan pada tahun 2007, Tin Panda Collection mendapatkan penghargaan tingkat nasional Citi Micro-Entrepreneurship Award 2007 dari Citi Indonesia dan Fakultas Ekonomi UI.

“Alhamdulillah saat itu terpilih menjadi juara satu dari 272 UMKM. Sekarang yang menjadi langganan boneka itu dari Trio Plaza, Muncul, Aneka Bandongan-Kaliangkrik, terus Trio Plaza Wonosobo,” tuturnya seraya menyebut saat ini membeli bahan-bahan dari Bandung baik kain maupun silikon untuk isi boneka.

Sukaryo sendiri tidak menyangka jika produksi boneka yang dirintisnya akan berkembang sampai sekarang. Bahkan, sekarang sering dikunjungi siswa PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga mahasiswa. Mereka datang mulai dari belajar membuat boneka hingga meminta informasi untuk penyusunan skripsi.

Selain itu, Mbak Tin sering mendapatkan undangan baik dari instansi pemerintah maupun swasta atau warga masyarakat untuk memberikan pelatihan pembuatan boneka. Adapun harga boneka beragam mulai Rp15.000 sampai Rp1 juta.

“Kalau harga disini mulai dari Rp15.000 sampai yang besar Rp1 juta ukuran 2 meter. Sekarang ini banyak yang pesan seperti model bantal leher,” kata ibu dua puteri, Kustyanti dan A’yun Puspitasari, itu.

Saat ini, para pembeli maupun pelanggannya sering datang langsung di showroomnya. Sekalipun berada di dusun, namun pembeli datang dari berbagai kota.

“Kalau yang beli dari Magelang, Jogja, Semarang, Wonosobo, Banjarnegara. Ada pesanan juga datang dari Kalimantan. Saat ini, kami belum melayani pembelian secara online, kedepannya merintis kesana juga,” ujarnya seraya menyebut pembuatan boneka dibantu 10 perempuan. (dtc/int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button