Ekonomi

Parningotan Purba Berhasil Ganti Kayu Bakar dengan Oli Bekas

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Seorang pria di Kota Sibolga berhasil memanfaatkan limbah kendaraan bermotor yakni oli bekas menjadi menjadi bahan bakar untuk memasak.

Ditemui disebuah gudang perebusan ikan, yang terletak di Jalan Ketapang, Gang Nias, Kekurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Kota, pria bernama asli Parningotan Purba ini bersama istrinya Dewi sedang mengerjakan kegiatan rutin mereka sehari-hari sebagai pengusaha ikan rebus.

Dari kejauhan, tampak tidak ada asap yang mengepul, keluar dari gudang yang berdiri di atas laut tersebut. Saat mendekat, hanya hawa panas dari tungku pemasak yang terasa.

Sambil mengaduk ikan rebusnya, sekilas Parningotan bercerita tentang oli bekas yang dia gunakan sebagai bahan bakar. Katanya, ide tersebut muncul bermula dari sulitnya memperoleh bakan bakar kayu, yang sebelumnya menjadi andalan mereka para pengusaha ikan rebus. Tak hanya sulit, harga kayu juga sudah semakin tinggi, semenjak pemerintah mulai memperketat peraturan tentang penebangan hutan.

Selain berusaha ikan rebus, pria 41 tahun silam ini juga memiliki bengkel las yang tak jauh dari kediamannya. Bermodal kemahirannya berbengkel, diapun mencoba merakit beberapa batang pipa besi dengan sebuah tabung preon AC bekas di bengkelnya. Dia menjadikan pipa sebagai saluran oli bekas, yang mengalir dari tangki penampungan hingga ke tungku pembakaran yang terbuat dari tabung preon AC.

Menurutnya, percobaan yang dia lakukan sampai 4 kali menuai kegagalan. Hingga akhirnya upayanya membuahkan hasil, setelah dia menggunakan blower sebagai alat bantu meniup udara pada pipa saluran oli hingga ke tunggu pembakaran.

“Bahan-bahan yang dipakai, drum sebagai tangki oli, pipa besi, kran pengontrol oli, kemudian blower ukuran 3 inchi. Biaya sekitar Rp1,2 juta. Sebelumnya sempat 3 kali gagal percobaan. Keempat kalinya baru berhasil. Cara kerjanya, oli yang berada di tangki penampungan akan terus mengalir lewat tabung besi. Kemudian, oli yang mengalir menuju tungku pembakaran akan ditiup oleh blower. Sebelumnya, pipa oli yang dekat ke perapian dibakar untuk memanaskan oli yang mengalir. Setelah panas, oli akan berubah jadi gas (asap). Setelah itu, bakar kertas lalu dekatkan pada asap untuk memicu api,” kata Parningotan menjelaskan cara kerja bahan bakar buatannya.

Ternyata, memakai oli bekas jauh lebih murah ketimbang memakai kayu. Diterangkannya, untuk.memasak 4 ton ikan, biasanya mereka menghabiskan sekitar 7 sampai 7 kubik kayu, yang harganya mencapai Rp1.400.000.

Sementara, dengan memakai oli bekas, hanya butuh biaya sebesar Rp350.000. “Untuk 1 drum oli bekas, dapat memasak 4 ton ikan. Harga 1 drumnya Rp350 ribu. Kalau pakai kayu, lebih mahal lagi, bisa sampai Rp1,4 juta,” ketusnya.

Tak hanya itu, Parningotan juga mengaku tidak kesulitan untuk mencari oli bekas. “Beda, nyari kayu, susah. Kalau oli bekas, banyak, kapan saja kita mau, ada. Kita beli dari bengkel-bengkel,” ungkapnya.

Dalam upayanya memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar, pria berkulit hitam ini mengaku secara tidak langsung ikut menyelamatkan hutan dari penebangan liar. Dengan beralihnya mereka dari kayu, secara otomatis juga mengurangi jumlah pemakaian kayu. “Kalau pemakaian kayu bakar dikurangi, otomatis juga akan mengurangi aktifitas penebangan hutan. Karena, kayu yang kita beli itu berasal dari hutan,” pungkasnya.

Harapannya kedepan, pengusaha lainnya beralih menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. “Kalau kita pakai oli, asap sudah tidak ada lagi sewaktu memasak. Tidak seperti pakai kayu, asapnya banyak, mengganggu orang lain. Kalau ini, ramah lingkungan, tidak mengganggu orang lain dan tentunya tidak lagi mengganggu hutan,” sebut Parningotan sembari tersenyum. (ts)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker