Ekonomi

Pademi Covid-19, Harga CPO Anjlok Petani Sawit ‘Menjerit’

FaseBerita.ID – Pandemi virus corona (Covid-19) di dunia tak hanya memengaruhi faktor kesehatan saja, melainkan juga sektor perekonomian. Tak beda dengan perekonomian petani kelapa sawit di Tapanuli Tengah. Bahkan dalam dua minggu terakhir, harga kelapa sawit turun hingga 20 persen.

Turunnya harga kelapa sawit itu disebabkan menurunnya harga jual Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia akibat merebaknya virus corona. Harga minyak sawit mentah kontrak berjangka atau futures terkoreksi seiring dengan makin mengganasnya pandemi covid-19 di seluruh dunia.

Hal itu sangat dirasakan oleh PT Bintang Nauli Pratama (BNP) yang berada di Lingkungan IV, Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengelolahan minyak kelapa sawit.

Disebutkan, selama pandemi covid-19, PT Bintang Nauli Pratama (BNP) mengalami penurunan produksi minyak CPO 20 persen. “Harga CPO terkoreksi seiring dengan terjadinya lonjakan kasus infeksi covid-19 secara global,” ujar Manajer PT Bintang Nauli Pratama (BNP), Sopyan Sihombing, Selasa (31/3) siang.

Lanjutnya, menurunnya hasil produksik minyak CPO dari 60 persen sampai dengan 20 persen dikarenakan harga kelapa sawit melemah. Beberapa bulan terakhir sebelum covid-19 mebawah, harga kelapa sawit mencapai Rp1.800 per kilogram.

Namun setelah virus corona menjadi pandemi di seluruh dunia, harga kelapa sawit menjadi Rp1.390 per kilogram. “Penurunan harga kelapa sawit sangat mempengaruhi pengelolah minyak CPO, karena minyak CPO masuk pasar dunia,” jelasnya.

Bukan hanya perusahan kelapa sawit yang bergerak di bidang pengelolaan minyak CPO yang mengeluh dari penurunan harga itu, petani kelapa sawit yang berada di Kecamatan Sibabangun juga meradang.

Seperti pengakuan salah seorang petani bermarga Saragi saat ditemui wartawan media ini di kebun miliknya seluas dua hektare.

“Entahlah dek, sudah tidak terbilangkan itu lagi. Mau bagaimana kita bilangkan, semua sudah musibah. Kalau tidak dipanen, mau makan apa kita? Walapun harganya anjlok, mau tidak mau harus kita panen,” ujar Saragi.

Lanjutnya, sebelum mewabahnya virus corona, petani sawit sempat merasakan agin segar harga kelapa sawit yang tembus di atas Rp1.500. Bahkan pada bulan-bulan sebelumnya mencapai harga Rp1.800 per kilogramnya.

“Walaupun harga tidak tembus Rp2.000 per kilogram, itu sudah sangat membantu petani sawit. Semoga pandemi virus corona ini cepat berlalu,” tukasnya. (tam)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button