Ekonomi

OJK Minta Bank Tak Beri Penalti Tambahan ke Debitur

FaseBerita.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau perbankan tidak memberikan penalti tambahan kepada debitur penerima restrukturisasi kredit. Sebab, restrukturisasi hadir sebagai solusi kebuntuan antara kreditur dan debitur.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan pesan tersebut dalam webinar tentang tantangan bisnis Selasa (26/1). OJK, menurut dia, akan merelaksasi aturan restrukturisasi kredit agar tidak menimbulkan masalah ke depannya. “Jangan sampai berikan additional penalty,” tegasnya.

Di sisi lain, OJK memutuskan untuk memperpanjang restrukturisasi kredit hingga 2022. Artinya, perbankan tidak wajib membuat pencadangan besar. Dengan demikian, neraca keuangan tidak akan terganggu.

Hingga 4 Januari 2021, realisasi restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp 971,08 triliun. Itu diberikan kepada 7,57 juta debitur. Dari jumlah tersebut, 5,81 juta debitur adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Wimboh menilai pertumbuhan restrukturisasi kredit mulai melambat. Bahkan, mungkin turun lantaran ada beberapa debitur yang sudah recovery. Hal itu menunjukkan adanya pemulihan ekonomi.

“Restrukturisasi sudah agak flat. Terakhir Rp974 triliun sepanjang 2020, baik di perbankan maupun lembaga keuangan nonbank,” ungkapnya.

Tahun ini sektor pertanian dan manufaktur akan menjadi penopang kinerja perbankan. Direktur Corporate Banking Bank Negara Indonesia (BNI) Silvano Rumantir mengaku telah memetakan sektor-sektor yang kuat (resilience) menghadapi pandemi Covid-19. Yang menjadi fokus adalah soal penyaluran kredit. (jp/fabe)