Ekonomi

New Normal, Perekonomian Makin Lama Pulih

FaseBerita.ID – Pemerintah berencana akan menerapkan konsep kehidupan new normal untuk bisa hidup di tengah pandemi Covid-19. Hal ini pun juga di maksudkan untuk menjaga roda perekonomian.

Namun, menurut Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, daripada mendorong perekonomian, hal ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“(New normal) tidak (menjaga perekonomian), justru yang terjadi pemulihan ekonominya bisa lebih lama karena ini kan virusnya masih di mana-mana kurvanya masih terus meningkat,” ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (18/5).

Dengan kurva yang masih fluktuatif, para konsumen pun akan lebih berhati-hati dalam bertindak, khususnya untuk kategori kelas menengah atas. Di mana mereka lebih peduli kepada kesehatan diri.

“Jadi mereka kan sangat konsen dengan kesehatan, lalu juga soal biaya kesehatan dan sekarang kan iuran BPJS naik tuh, jadi kalau virusnya masih ada dan disuruh new normal ya mereka mending di rumah dulu,” tutur dia.
Padahal konsumen kelas menengah atas memiliki tingkat pengeluaran untuk konsumsi lebih besar. Jadi, penerapan new normal ini tidak akan berpengaruh pada ekonomi.

“Konsumen kelas menengah dan atas yang menguasai 83 persen total pengeluaran nasional tuh ada di mereka, jadi kalau mereka agak hati-hati untuk belanja (di luar), meskipun ada new normal ini efeknya konsumsi rumah tangga secara umum tidak akan meningkat, konsumsinya jadi ngga optimal,” ucapnya.

Menurut Bhima, yang akan mendapat beban dari adanya kebijakan pemerintah ini, lagi-lagi adalah para pengusaha. Kemungkinan besar, tingkat penyebaran virus pun akan meningkat drastis.

“Kasihan pengusahanya, pengusaha beroperasi, biaya operasionalnya berjalan, tapi permintaannya tidak pulih secara maksimal,” tutupnya. (JP)