Ekonomi

Menelusuri CVC Partners sang penyokong Softex Indonesia

FaseBerita.ID – CVC Capital Partners sebagai penyokong PT Softex Indonesia untuk masuk pasar modal Indonesia dengan menerbitkan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada tahun ini adalah perusahaan investasi global dengan tersebar 24 kantor di AS, Eropa dan Asia, dengan salah satu basisnya di Luksemburg.

Perusahaan yang didirikan sejak 1981 ini punya asset under management (AUM) atau dana kelolaan saat ini mencapai US$ 75 miliar atau sekitar Rp 1.080 triliun, seperti terungkap dalam profil di situs perusahaan. Bahkan ada dana investasi yang dijanjikan mencapai US$ 123 miliar.

CVC membeli saham minoritas yang signifikan di perusahaan Indonesia ini sejak tahun 2015, yang merupakan investasi keempat perusahaan swasta di Asia Tenggara bagi CVC pada saat itu.

“Kami berharap dapat bermitra dengan CVC untuk mendukung tahap pertumbuhan kami selanjutnya. Keahlian industri dan sumber daya keuangan mereka akan memastikan kesuksesan kami yang berkelanjutan dalam membangun merek-merek rumah tangga dan membantu memperkuat posisi terdepan industri kami di Indonesia,” kata Hendra Setiawan, CEO Softex Indonesia, dikutip dari siaran pers CVC, 23 Desember 2015.

Andy Purwohardono, Managing Director CVC Indonesia, ketika itu mengatakan posisi Softex Indonesia sudah menjadi pemain kunci di bisnis perawatan pribadi dengan rekam jejak yang menarik dan merek-merek terkemuka.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Hendra dan timnya untuk meningkatkan bisnis ke level selanjutnya,” kata Andy ketika itu, dalam rilis tersebut.

Baca juga: Bidik Dana Rp7,2 Triliun, Softex Indonesia Siap Masuk Bursa

Ke perusahaan mana saja di Indonesia mengalirnya dana investasi CVC?

  1. PT Link Net Tbk (LINK)

Link Net yang masuk bisnis Grup Lippo adalah operator TV kabel dan broadband tetap di Indonesia. Jaringannya melewati lebih dari 500.000 rumah di Jabodetabek, Surabaya, dan Bali, yang memiliki populasi gabungan sekitar 37 juta. CVC memulai investasi sejak 2011.

Induk usaha televisi kabel First Media Television dan BIG TV ini menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 1,5 triliun untuk tahun ini.

  1. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA)

MAP Aktif adalah pengecer dan distributor khusus terbesar untuk produk-produk yang berhubungan dengan olahraga dan anak-anak di Indonesia dengan lebih dari 900 toko di seluruh Indonesia.

Aktif saat ini memasarkan dan mendistribusikan lebih dari 30 merek menengah ke atas termasuk merek alat perlengkapan seperti Nike, Adidas dan Reebok di bawah divisi olahraga, serta Hasbro, Bandai, dan Barbie di bawah divisi children. Perusahaan ini masuk jadi anak usaha PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang mengelola gera-gerai fesyen premium di Indonesia.

  1. PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD)

Didirikan pada tahun 1979, Garudafood adalah perusahan yang fokus produk makanan konsumen bermerek di Indonesia yang terkenal dan memiliki warisan merek yang kuat. CVC masuk di perusahaan yang dikendalikan oleh pengusaha Indonesia, Sudhamek ini, sejak 2018.

Emiten ini juga baru memutuskan untuk membagikan dividen senilai Rp 125,45 miliar kepada para pemegang sahamnya. Ini merupakan pembagian dividen pertama yang dilakukan perusahaan pascamenjadi perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun lalu.

  1. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

Siloam International Hospitals adalah operator rumah sakit swasta milik Grup Lippo di Indonesia, cukup unggul baik dari segi ukuran dan kualitas layanan dan fasilitas medis. Perusahaan mulai beroperasi pada tahun 1996 dan saat ini mengoperasikan 33 rumah sakit dengan total kapasitas gabungan lebih dari 6.800 tempat tidur, menurut catatan CVC. CVC masuk ke Siloam pada 2016.

Sepanjang kuartal I-2019, Siloam berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun, naik 18% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,45 triliun. Dengan pendapatan ini, laba bersih Siloam melonjak 575% menjadi Rp 3,33 triliun dari sebelumnya Rp 493 miliar.

Sebagai informasi, masih ada satu perusahaan yang juga diinvestasikan oleh CVC sejak 2010, tetapi dalam situs resmi CVC disebutkan mereka sudah keluar dari emiten ini, yakni perusahaan Grup Lippo lainnya, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengingat kinerja yang turun di tahun lalu. (cnbc)

Sumber: CNBC Indonesia

USI