Ekonomi

Kemendag tak Perpanjang Relaksasi Impor Bawang Putih dan Bombai

FaseBerita.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak memperpanjang aturan relaksasi impor untuk bawang putih dan bawang bombai. Seperti diketahui relaksasi impor itu berakhir pada 31 Mei 2020.

Kebijakan tersebut juga diatur di dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44 Tahun 2019, tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura.

Sekretaris Jenderal Kemendag, Oke Nurwan, mengatakan bahwa tidak ada perpanjangan untuk kebijakan relaksasi impor untuk kedua komoditas tersebut. “Saat ini tidak ada rencana memperpanjang. Selanjutnya bisa dengan prosedur normal kembali,” katanya kepada JawaPos.com, Senin (1/6).

Di dalam beleid tersebut, dikatakan bahwa ketentuan mengenai impor bawang putih dan bawang bombai dikecualikan dari Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor (LS). Meskipun begitu, para importir tetap harus mengantongi izin Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebelum melakukan impor.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Anas mengatakan bahwa harga bawang putih di Jakarta menjadi stabil. Sebelumnya harganya menlonjak drastis. Stabilnya harga tersebut karena kebijakan relaksasi impor dari pemerintah.

“Kondisi sekarang harga murah dan stabil, bawang putih jenis kating kami jual Rp 15.000 per kg, kalau sudah dikupas Rp 18.000 per kg. Sedangkan jenis banci atau honan lebih murah, kami jual seharga Rp 12.000,” ungkap Anas dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5).

Anas berharap kebijakan relaksasi impor yang diberlakukan oleh pemerintah ini untuk selamanya, tidak cukup hanya saat pandemi saja. Karena kebijakan relaksasi tersebut terbukti dan berhasil menurunkan harga bawang putih.

“Mudah mudahan seperti ini terus, ini perlu kita kawal terus, jangan sampai pengusaha bikin ulah lagi, selalu membisiki pejabat kita. Sehingga harga mahal dan bikin susah rakyat banyak,” ucapnya.

Pengamat Pertanian Syaiful Bahari juga mengatakan, untuk kasus bawang putih dan bombai, ketika relaksasi diberlakukan terbukti harga turun drastis. Bombai dari Rp 150.000 per kg menjadi Rp 17.000 sampai Rp 20.000 per kg. Sehingga kedua komoditi ini menyumbang deflasi.

“Sekarang tinggal tergantung pemerintah. Apakah tetap membiarkan harga kembali bergejolak dan merugikan jutaan masyarakat sebagai konsumen karena dipaksa menerima harga yang tidak wajar. Atau tetap membuka relaksasi sambil membenahi tata niaga pangan nasional agar masalah gejolak harga tidak selalu terulang,” tutupnya. (JP)