Ekonomi

Kacang Sihobuk Cemilan Khas Tapanuli Utara

FaseBerita.ID – Mangiring Sipahutar adalah mitra Inalum yang menjadi produsen cemilan khas Batak yang berasal dari Tarutung yaitu kacang garing Sihobuk. Ia telah mendalami proses pembuatan kacang Sihobuk sejak masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Bagaimana Kisah Kacang Sihobuk? Kacang Sihobuk diambil dari nama desa di Tapanuli Utara, yaitu desa Sihobuk. Menurut sejarahnya, kacang ini dibuat oleh warga sihobuk sebagai bentuk peringatan atas kejadian longsor yang menimpa desa Sihobuk pada tahun 1982 yang menelan 12 korban jiwa. Kini, kacang sihobuk sudah dikenal di berbagai daerah karena rasa dan kegurihannya.

Dari Kacang Tanah Menjadi Kacang Sihobuk

Proses pembuatannya pun bukan sembarangan. Mangiring Sipahutar dengan semangat menjelaskan dan menunjukkan proses pembuatannya kepada pengunjung yang penasaran untuk melihat proses produksinya. Kacang tanah yang baru saja dipanen disortir terlebih dahulu. Setelah disortir kemudian dijemur di bawah sinar mentari sampai kering sepenuhnya.

Tidak berhenti di situ, kemudian kacang direndam kembali di dalam air selama dua sampai tiga hari agar kacang bersih dari tanah-tanah yang tersisa.

Setelah direndam, kacang disangrai di dalam sebuah wadah menggunakan pasir. Kacang disangrai selama dua sampai tiga jam dengan api yang terus menyala. Apabila menyangrai secara manual, kacang harus terus disangrai agar tidak gosong. Setelah itu, kacang didinginkan dan dipilah kembali untuk kemudian dikemas dan dipasarkan.

Mangiring telah menggunakan alat sangrai berbentuk kaleng besar yang dapat berputar sendiri sejak 2019, sehingga ia tidak perlu menyangrai secara manual. Sekali menyangrai ia bisa mendapatkan empat kaleng kacang sihobuk.

Salah satu kendala dalam pembuatan kacang sihobuk adalah apabila cuaca mendung dan hujan turun, kacang akan sulit dikeringkan dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Usaha kacang sihobuk ini merupakan usaha turun-temurun di keluarga Mangiring Sipahutar. Sebelumnya usaha kacang sihobuk Manise ini dijalankan oleh adiknya yang kemudian dilanjutkan oleh Mangiring.

Sebelum pandemi, Mangiring dapat memproduksi empat puluh kaleng dalam sebulan. Selain berjualan di toko, ia juga mengirim kacangnya kepada pelanggannya di Jakarta, Medan, dan Palembang.

Saat ada kegiatan atau acara-acara besar di PT Inalum (Persero), perusahaan plat merah ini selalu menyediakan kacang sihobuk yang dibeli dari Mangiring untuk kudapan. Selain itu, Inalum juga memberikan pinjaman modal usaha kepada Mangiring Sipahutar di tahun 2019 dengan biaya administrasi sebesar 3%. Modal ini kemudian ia belikan stok bahan baku kacang tanah.

“Kacang tanah sebagai bahan baku itu terkadang rebutan dengan produsen lain, jadi kalau beli harus sekali banyak agar tidak kehabisan,” ucap Mangiring.

Pandemi Covid-19 membuat penjualan kacang sihobuk turun drastis. Hal ini disebabkan oleh menurunnya jumlah wisatawan.

Saat ditemui, Mangiring Sipahutar sedang mengerjakan pesanan pelanggannya dari Jakarta sebanyak 48 kaleng atau setara dengan 2.400 kilogram. Biasanya ia mengirimkan pesanan pelanggannya melalui ekpedisi bis. Kacang sihobuk ini cocok dikonsumsi saat acara keluarga, pesta adat, pesta pernikahan, ataupun acara lain yang bersifat nonformal. (rel/smg)