Ekonomi

Industri Rumahan Beromzet Rp50 Juta per Bulan

ASAHAN, FaseBerita.ID – Meski baru hanya sekitar setahun beroperasi, namun usaha konveksi dan sablon Kendik Garment di Jalan AMD Manunggal, Gang Marjono Nomor A5-8, Simpang Mangga, Rantauprapat ini sudah tergolong sukses. Berapa omzet Kendik per bulannya?

Usaha industri rumahan yang dirintis Heri Yandi (34), atau yang akrab disapa Bang Kendik itu, sudah meraup keuntungan jutaan rupiah setiap bulannya.

Usaha konveksi dan sablon yang dimulai Heri Yandi sejak April 2018 tersebut kini mempekerjakan sekitar 15 orang karyawan.

Alat kerja yang digunakan pun tidak begitu banyak, hanya sekitar 10 unit mesin jahit dan seperangkat meja sablon yang dipergunakan di dalam rumah tinggal.

Maka, sangat tepat jika jenis usaha yang dilakoni anak Rantauprapat ini dikategorikan sebagai industri rumahan atau usaha kecil menengah (UKM).

Heri Yandi mengatakan, sebelum memulai usahanya itu, ia mengaku samasekali tidak memiliki keahlian khusus tentang sablon. Namun ia meyakini kalau usaha sablon memiliki peluang bisnis yang cukup besar jika dikembangkan di Labuhanbatu. Hal inilah yang mendasari ayah dari tiga orang anak itu nekat terjun melakoni usaha dibidang industri kreatif tersebut.

Keyakinan dan keuletannya dalam menjalankan bisnis kini telah membuahkan hasil. Dalam setiap bulannya, Kendik Garment diperkirakan kerap memproduksi rata-rata sekitar 3000 pakaian sablon pesanan konsumen yang berasal dari berbagai kalangan, baik itu perorangan, pelajar, perusahaan, pemerintahan hingga komunitas ataupun organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Mereka yang datang, kata Heri, bukan hanya berasal dari Kabupaten Labuhanbatu, namun juga datang dari berbagai daerah, seperti dari kota Medan, Pekanbaru hingga Aceh.

“Dan Alhamdulillah, kini omzet penjualan kita rata-rata mencapai Rp50 juta perbulan. Kalau keuntungan bersih, ya sekitar Rp20 juta lah sebulan,” ungkap Heri Yandi.

Menurut Heri, dalam hal pemasaran, pihaknya tentu memiliki strategi tersendiri. Namun katanya, harga yang bersaing serta produk yang berkualitas juga turut menentukan kemajuan usahanya.

Misal untuk harga kaos sablon, biasanya dijual dengan harga bervariasi, yakni sesuai kualitas bahan baku yang digunakan, namun tetap tergolong murah hanya dikisaran harga Rp80 ribu hingga Rp85 ribu untuk setiap piecenya.
Selain itu, persoalan kreativitas yang tinggi juga sangat dituntut. Apalagi dalam memproduksi sablon jenis manual, yang teknik dan proses pengerjaannya sebahagian besar masih mengandalkan keahlian manusia.

“Jadi kalau pakai sablon manual, sangat dituntut kreativitas yang tinggi untuk mendapatkan hasil yang baik,” ungkapnya.

Namun, meskipun tergolong metode lama, teknik sablon jenis manual ini, kata Heri, masih paling digemari banyak konsumen karena hasilnya lebih baik daripada hasil sablon digital yang menggunakan mesin dalam proses sablonnya.

Tapi begitu pun, Kendik Garment juga tetap menyiapkan sablon dengan teknik digital atau polyfex tersebut. Sebab dengan teknik digital ini, proses pengerjaan sablon bisa lebih cepat hingga dapat memproduksi sablon dengan jumlah banyak dalam waktu yang singkat.

“Jadi kalau sablon manual ini biasanya konsumennya itu perorangan. Nah, kalau perusahaan atau organisasi yang mau cetak banyak biasanya memilih sablon digital. Kalau kita sih terserah konsumen mau pilih yang mana,” ucapnya.

Selama setahun lebih merintis usaha konveksi dan sablon ini, Heri juga tak memungkiri adanya kendala dan hambatan yang dihadapi. Salahsatunya, persoalan bahan baku produksi yang susah didapat di kota Rantauprapat.
Jikapun ada, harganya relatif mahal. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya pun, kata Heri, mau tak mau harus memesan bahan baku dari luar kota yang cukup jauh.

“Kita pesan bahan baku dari Bandung, kalau dari Rantauprapat kayaknya gak ada, kalaupun ada pasti mahal,” ucapnya.

Namun sesulit apapun kendala yang dihadapi, Heri mengaku tetap konsisten dan focus dalam mengembangkan usahanya itu.

Kedepan, ia bahkan berkeinginan untuk menjadikan usaha konveksi dan sablon Kendik Garment sebagai perusahaan yang akan mermasok kaos-kaos berkualitas di pasar-pasar tingkat kabupaten maupun propinsi. Bahkan hingga ditingkat nasional.

“Itu impian kami, bisa jadi pemasok kaos berkualitas,” ucapnya.

Namun untuk mewujudkan itu semua, tentulah butuh proses dan dukungan dari sejumlah pihak. Termasuk dukungan dan peran dari pemerintah daerah, baik dalam hal publikasi, modal usaha, pemasaran, hingga kerjasama meningkatkan angka penjualan.

“Misalkan seperti pembuatan pakaian kaos anak sekolah, pemerintah daerah sebaiknya memanfaatkan pengusaha lokal daripada harus memesan dari luar daerah. Hal-hal seperti ini kan juga sebagai bentuk dukungan untuk menghidupkan industri kreatif di daerah kita ini,” tandasnya.

Diakhir wawancara, Heri Yandi juga berpesan kepada anak muda di Labuahnabtu untuk tidak takut memulai membuka usaha. Namun harus tetap konsisten dan fokus. Serta harus bijak menentukan jenis usaha yang benar-benar menjadi kebutuhan pasar.

“Itu tips dari saya untuk kaulamuda yang ingin sukses berusaha,” tutupnya.

Semoga saja, tulisan singkat tentang usaha kreatif ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca FaseBerita.ID, terutama bagi generasi muda di Kabupaten Labuhanbatu, agar mampu menciptakan peluang bisnis meski hanya sebatas industri rumahan, yang jika terkelola dengan baik, bisa saja beromset pabrikan. (nik)