Ekonomi

Harga Ikan Teri Rebus Tembus Rp65 Ribu per Kg

FaseBerita.ID – Selama memasuki bulan Februari tahun 2021 ini, harga ikan di sentral pengolahan ikan asin maupun ikan teri rebus di Kelurahan Hajoran, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, kembali naik. Kali ini harga mencapai Rp65.000 per kilogram.

Sejumlah nelayan mengaku, selama musim kemarau yang berkepanjangan seperti ini, pendapatan para nelayan mulai minim.

Hanya sebagian kecil yang beroperasi barangkat ke laut. Itupun dengan hasil tangkapan yang tidak memadai.

“Bulan ini jelas merosot, harga ikan pun mulai naik. Saat ini sudah mencapai Rp65 ribu per kilo. Karena pendapatan hasil tangkapan sudah mulai sulit,” ucap Alex Pasaribu, seorang Nelayan Bagan pancang, Senin, (22/2).

Keluhan yang dirasakan para nelayan, juga berdampak buruk bagi konsumen. Hal itu disebabkan karena langkanya ikan di pasaran, yang tentunya membuat harga ikan pun melonjak tajam.

Menurut pengakuan para penampung ikan asin dan ikan rebus, saat musim ikan teri, harga ikan tidak terlalu tinggi dan sangat berbeda di minggu yang lalu. Sehingga daya penjualan ke konsumen masih tergolong normal.

“Saat normal harga ikan teri rebus masih terjangkau, minggu kemarin harganya masih Rp60.000 per kilo. Harga itupun sebenarnya naik, kan biasanya hanya Rp58 ribuan. Tapi di penghujung bulan ini harganya kembali naik. Padahal hanya berselang beberapa hari,” kata Erlina selaku penampungan ikan rebus.

Kemudian, Erlina menambahkan, harga ikan kering lainnya, juga ikut meroket dari harga sebelumnya yang berkisar Rp32.000/kg. Sekarang, sudah mencapai Rp37.000/kg.

“Lain lagi ikan sepo, seperti deman (ikan gembung), maning dan lainnya yang kini menjadi Rp37 ribu per kilogram. Bahkan bisa sampai Rp40 ribu per kilo,” ucapnya.

Disamping itu, sejak Januari lalu hingga masuk Februari ini, perekonomian nelayan mengalami penurunan yang sangat drastis. Sementara, belanja kebutuhan nelayan sudah makin berkurang.

“Ikan rebus yang paling tinggi harganya, adalah cumi-cumi. Saat ini harganya Rp83 ribu per kilogram, jenis ikan cumi-cumi jantung, yang kecilnya,” tandasnya.

Dijelaskannya, semua ikan rebus yang sudah masuk ke dalam kotak, akan dikirim keluar daerah, seperti ke Pekanbaru dan Medan, tentunya harga ikan di sana akan naik juga, bahkan jauh lebih mahal.

Apalagi mengingat musim kemarau yang melanda provinsi Sumatera Utara hingga saat ini, tentunya memiliki efek kepada para nelayan.

“Semua ikan kita kirim, ada yang ke Pekanbaru (Riau), dan ada juga ke Medan, kita hanya bisa dapat untungnya sedikit saja,” tandas Erlina.

Untuk mengurangi kerugian akibat minimnya hasil tangkapan, mau tidak mau nelayan terpaksa menaikkan harga ikan jauh di atas harga normal.

Baik itu harga ikan teri, ataupun ikan rebus lainnya, namun keuntungan yang mereka peroleh tetap minim, akibat minimnya produksi. (hp)