Ekonomi

Harga Ikan Rebus di Tapteng Naik

FaseBerita.ID – Bisnis ikan rebus dan ikan kering nelayan tradisonal bagan pancang Kelurahan Hajoran, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara sedikit bergairah. Pasalnya harga kedua komoditi naik sekira 5 persen dari tahun sebelumnya.

Umbel Pasaribu, seorang nelayan bagan pancang dari Kelurahan Hajoran saat dihampir awak media, Selasa (19/1) siang mengatakan, kenaikan harga ikan rebus dari hasil nelayan tradisonal bagan pancang sudah terjadi sejak awal Januari 2021.

Menurutnya, kenaikan harga ikan rebus dari hasil bagan pancang bukan berdasarkan adanya pergantian tahun, atau dari faktor cuaca buruk dan pergantian bulan. Namun, harga ikan rebus naik disebabkan minimnya penghasilan tangkapan ikan nelayan tradisonal bagan pancang, sehingga mengalami kenaikan.

“Selama dua bulan terakhir sebelum memasuki awal tahun 2021 lalu, hasil tangkapan nelayan tradisonal berkurang. Karena minimnya hasil tangkapan bagan pancang, maka bisa jadi harga ikan pun naik. Sebelumnya harga ikan teri rebus mencapai Rp58.000 per kg sampai Rp60.000 per kg. Namun setelah memasuki awal bulan ditahun 2021 harga ikan rebus naik sekitar 5 persen dari harga sebelumnya. Walapun hanya 5 persen, namun sangat membantu memulihkan keadaan ekonomi,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk harga ikan rebus saat ini mencapai sekitar Rp63000 per kg. Begitu juga dengan harga ikan kering lainnya, juga ikut meroket dari harga sebelumnya antara Rp25.000 per kg sampai Rp30.000 per kg, kini menjadi Rp37.000 per kg hingga Rp40.000 per kg, seperti ikan deman dan ikan sepo lainnya,” terangnya.

Terpisah, Adi salah seorang konsumen ikan rebus saat dihampir mengatakan, walapaun harga ikan rebus dan ikan kering mengalami kenaikan, tidak menjadi penghalang dalam mengekspor ikan rebus keluar daerah.

Bahkan di daerah lainnya, harga ikan rebus jenis teri jauh lebih mahal ketimbang di daerah Tapteng.

“Kita tetap tampung walaupun harga ikan teri ini naik, karena di luar daerah ikan teri ini jauh lebih mahal. Makanya kalau kita mengirim ikan keluar, kita hanya mengambil keuntungan sedikit saja,” ungkap Adi, konsumen dari Hajoran.

Hal yang senada disampaikan Jamal, salah seorang pengusaha bagan pancang. Ia mengatakan, sejak akhir tahun 2020, cuaca ekstrem mengancam perekonomian nelayan di Kelurahan Hajoran. Disamping itu, belanja kebutuhan semua nelayan sudah makin merosot. Bahkan tidak jarang, hasil tangkapan yang diperoleh tidak mampu menutupi modal saat berangkat melaut.

Untuk mengurangi kerugian akibat minimnya hasil tangkapan ini, mau tidak mau nelayan terpaksa menaikkan harga ikan jauh di atas harga normal seperti yang telah disebutkan tadi. Baik itu harga ikan teri, ataupun ikan rebus lainnya, namun keuntungan yang mereka peroleh tetap minim.

“Untuk sementara ini harganya memang segitu, karena produksi ikan sangat minim, jika nanti para nelayan kita banyak dapat hasil, pastinya harga ikan pun akan turun, semoga keadaan dapat normal kembali,” jelasnya. (tam/fabe)

iklan usi