Ekonomi

Gula Semut Dorong Ekonomi Warga

TAPSEL, FaseBerita.ID – Produksi gula semut, diyakini lebih efektif dan efisien dalam mendorong perekonomian warga, khususnya ‘paragat’ (penyadap air nira dari tanaman aren).

Hal ini diungkapkan, Doring Rambe (38) warga Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok saat ditemui wartawan, Selasa (27/8/2019).

“Dengan adanya produksi gula semut, kami (paragat) tinggal mengantar air nira ke kelompok tani, diukur lalu bisa mengerjakan pekerjaan lain,” terangnya.

Padahal sambung Rambe, sebelum adanya produksi gula semut yang dikelola oleh Kelompok Tani Bargot ini, pengolahan nira menjadi gula merah atau gula aren membutuhkan waktu, tenaga dan bahan bakar. Sehingga, para penyadap air nira aren, tak lagi memasak niranya, akan tetapi air niranya dihargai 18 ribu per liter.

“Biasanya untuk mendapatkan satu kilo gula aren, membutuhkan air nira sekitar 10 liter. Padahal harga gula aren saat ini hanya dikisaran 15 ribu perkilonya. Sedangkan jika kami menjual air nira 10 liter, sudah mendapatkan uang 18 ribu rupiah, tanpa memasak atau mencetak gula aren tersebut. Karena itulah, kami merasa, dengan adanya produksi gula aren ini, kami bisa mengerjakan hal lain seperti kebun dan lainnya,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan Jolak Maribu Dalimunthe (31). Menurutnya, kehadiran produksi gula semut selama tiga tahun terakhir, sangat mengurangi beban kerja bagi warga yang biasa maragat (menyadap air nira).

Hanya saja, mereka harus menjaga kwalitas air nira yang diserahkan atau dikumpulkan untuk dimasak Koptan menjadi gula semut.

“Kami harus disiplin, terutama waktu. Jam 8 pagi sudah menyadap dan juga jam 5 sore. Disiplin waktu dalam menyadap air nira sangat menentukan kwalitas air nira itu sendiri,” terangnya seraya mengaku saat ini setiap hari bisa menghasilkan air nira 30 liter.

“Pagi 20 liter, sore 10 liter,” katanya.

Sementara itu, Iran Rambe (57) salah seorang pengurus Koptan Bargot pada awak media menjelaskan, produksi gula semut, memang bertujuan untuk meningkatkan nilai produksi petani.

Dimana, jika gula merah dijual bebas saat ini dengan harga 15 hingga 20 ribu, gula semut justru di jual dengan harga 50 ribu. Selain itu, petani penyadap nira tak lagi memasak niranya, tak lagi mencetak dan menjual gulanya.

Akan tetapi, tinggal mengantar ke lokasi produksi, diukur dan langsung menerima hasil jerih payahnya. Itupun, jika dibanding harga saat ini, harga air nira yang diterima telah berada diatas harga gula aren di pasaran.

“Saat ini ada 23 penyadap yang bergabung. Kamilah yang memasak, mengolah dan memproduksi gula aren, penyadap hanya mengantar air niranya,” terang Iran.

Dikatakan, saat ini, hasil rata rata air nira penyadap mencapai 504 liter perhari. Dan dari angka itu menghasilkan gula semut sekitar 50 hingga 58 kilo gram.

Dimana, untuk memasak air nira menjadi gula semut, harus terlebih dulu dimasak pakai tungku kayu selama 6 jam hingga menggumpal dan menjadi gula. Setelah itu, sambil didinginkan, gula tersebut diirisatau dihaluskan, lalu di ayak.

“Dan selanjutnya di open dengan menggunakan tungku dengan bahan bakar gas selama 3 hingga 4 jam dengan temperatur 90 derajat celcius,” sebutnya.

Publik Relation PT NSHE Dede Wafiza Ashia yang ikut meninjau pengolahan gula semut tersebut mengatakan, ekonomi kreatif yang digeluti masyarakat memiliki potensi yang sangat besar dalam meningkatkan ekonomi keuarga kedepan.

Dan, PLTA Batangtoru yang dikenal ramah lingkungan, tentu sangat respon dengan potensi seperti ini. Dan, sudah pasti akan turut mendukung pemerintah setempat untuk menumbuhkan ekonomi kreatif ditengah kehidupan masyarakat. (ran)