Ekonomi

Efek Pandemi Covid-19, 52 Persen Pencari Rumah Tunda Beli Properti

FaseBerita.ID – Berbeda dari semester sebelumnya, jumlah pencari rumah yang mengaku menunda transaksi properti mulai berkurang dari sebelumnya 60 persen kini menjadi 52 persen. Hal itu terungkap dalam laporan Consumer Sentiment Study yang mensurvei minat serta opini lebih dari 1.078 responden pencari rumah di Indonesia sepanjang Juli hingga Desember 2020.

Walaupun penanganan pandemi masih jauh dari selesai, namun kebutuhan terhadap hunian bukan hal yang bisa ditunda terus menerus. Setelah mengalami penurunan pada awal pandemi, Sentiment Index pada semester pertama 2021 ini meningkat sebanyak 3 poin ke angka 73, ini adalah posisi yang lebih baik bahkan dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Indeks Sentimen Konsumen adalah data longitudinal yang diambil Rumah.com menggambarkan indikasi optimisme, kepuasan, dan minat terhadap properti. Rumah.com Consumer Sentiment Study ini adalah survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Survei kali ini dilakukan pada Juli hingga Desember 2020.

Temuan lainnya adalah 50 persen responden menyatakan untuk menghindari membeli hunian di klaster dimana penghuninya ada yang sudah berstatus positif Covid-19. Angka ini merupakan kenaikan dibandingkan dengan hasil survei pada semester sebelumnya yang mencatat 40 persen responden menghindari hunian dengan penghuni yang sudah terinfeksi Covid-19.

“Temuan ini dapat menjadi indikasi semakin dekatnya lingkungan yang terpapar wabah, sehingga upaya edukasi untuk mengurangi kekuatiran yang berlebihan harus dilakukan oleh pemerintah dan industri terkait,” sebutnya.

Tantangan lainnya adalah adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang saat ini sedang berlangsung di beberapa wilayah di Indonesia termasuk social dan physical distancing telah mempengaruhi bagaimana pencari rumah mendapatkan informasi tentang hunian yang akan dibeli termasuk ketika ingin melihat secara langsung unit idaman mereka.

Akibat kondisi ini 48 persen responden menyatakan kesulitannya melihat secara langsung unit hunian yang akan dibeli. Angka ini naik sebesar 3 persen dibandingkan survei pada semester sebelumnya. ”Selain itu 38 persen responden mengalami kesulitan atau keterlambatan untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah (KPR) di masa pandemi seperti sekarang ini. Angka ini merupakan kenaikan sebesar 5 persen dibandingkan survei pada semester sebelumnya,” ungkapnya.

Di sisi investor properti, meskipun mayoritas saat ini masih ragu untuk berinvestasi namun sekitar 1 dari 4 investor atau 23 persen responden melihat periode ini sebagai saat yang bagus untuk melakukan investasi properti. Sementara 40 persen responden lainnya memilih untuk menunggu melakukan investasi properti hingga pandemi sudah selesai. Sebagian kecil lainnya yaitu 17 persen responden menyatakan tidak ada perubahan dalam rencana investasinya dan 14 persen responden lainnya menyatakan ragu untuk berinvestasi properti sekarang.

Tren positif industri properti Indonesia selama pandemi ini juga terlihat dari minat masyarakat untuk memiliki properti sendiri kedepannya juga tetap tinggi dan mengalami kenaikan baik untuk ditinggali maupun investasi. Bahkan minat membeli properti untuk dijadikan sarana investasi terlihat tumbuh secara drastis dibandingkan dengan semester sebelumnya.

Dari hasil survei terlihat 64 responden memiliki minat membeli properti untuk dihuni sendiri. Ini merupakan kenaikan dari angka 60 responden pada semester sebelumnya. Sedangkan minat membeli properti sebagai investasi naik drastis dari angka 39 persen responden pada semester sebelumnya menjadi 49 persen pada semester ini. (jp/fabe)