Ekonomi

Dot Art dan Scribble Art Tarmidzi Hanan Berawal dari Iseng, Kini Makin Banyak Peminat

SIDIMPUAN, FaseBerita.ID – Menggunakan pulpen di media kanvas atau dengan stik pen pada layar gawai, sama saja baginya. Perbedaan mendasar, bila di layar gawai bisa dilakukan undo apabila terjadi kesalahan coret.

Ratusan sketsa wajah tokoh, teman atau orang asing yang datang silih berganti, telah dilukis Tarmidzi Hanan dengan mengagumkan.

Remaja kelahiran 15 September 2001 ini baru duduk di bangku kelas dua di SMA Negeri 4 Padangsidimpuan.

Memulai kegemarannya ini berawal dari rasa iseng. Dulu, tiga tahun silam. Saat duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 4 Padangsidimpuan. Hanya dengan menggambar-gambar sketsa bangunan. Seperti mana yang rutin dikerjakan ayahnya, Sukirman.

“Tahun 2016 masih corat-coret gak jelas, bentuk bangunan. Tahun 2017 baru berani ke karakter wajah,” cerita anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Sukirman dan Rahmawati Harahap yang mukim di Kayu Ombun, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan ini.

Ayahnya memang kurang mengerti dengan lukisan atau sketsa wajah. Dan dari pamannya, kemudian yang mendorong Tarmidzi mengasah kemampuan seni lukis berbentuk sketsa wajah. Terjadilah. Ia pun semakin iseng, dengan menggambar wajah teman-teman sekolah, atau tokoh-tokoh yang digemarinya. Dan itu juga dimanfaatkan Hanan sebagai media mengasah kreatifitas.

Ia pun memulai lukisan-lukisan wajah pada perangkat gawai dengan software Vector. Di sini, Hanan telah lebih dahulu bertualang imaji tentang desain atau sketsa bangunan, dengan mencoba berbagai tool yang tersedia.

Namun terakhir dirinya tidak puas dengan hal itu, dan mencoba memanfaatkan tool kuas, melukis secara digital.

“Dan dasarnya memang sudah mulai pandai secara manual dalam media kertas,” kata remaja yang candu dengan aroma vape ini.

Dalam mengasah seni lukisnya, Hanan pun kemudian sempat bergabung dengan seniman di Sanggar Bunda Sadabuan. Disini, dia mendapat saran untuk mempraktekannya pada berbagai jenis media termasuk ukir kaca atau coret dinding dengan teknik scribble, coret-coretan. Scribble ini banyak dikerjakannya saat ini, pada kanvas atau secara digital. Termasuk teknik dor art, menyusun ribuan titik menjadi bentuk wajah.

Untuk dot art, ini masih menjadi teknik lukis tersulit baginya untuk dikerjakan. Bahkan, bisa sampai memakan waktu dua bulan lamanya. Termasuk sketsa wajah Jokowi yang tempo hari diserahkannya pada menantu Presiden RI ke-7 itu, Bobby Nasution.

“Scribble Art bisa selesai dalam 30 menit, kalau manual bisa sekitar 2 jam. Yang wajah bapak Jokowi kemarin, memang iseng juga, sudah dua bulan dikerjakan. Awalnya memang mau koleksi pribadi aja, tapi dengan Bang Bobby kesini (Psp), saya serahkan saja di acara Monang Jokowi-Amin kemarin,” cerita remaja yang punya cita-cita menjadi arsitek ini.

Hanan menjelaskan, jika dalam melukis wajah ini, yang paling penting untuk diperhatikan dan paling sulit ada pada bagian mata, hidung dan bibir. Jika letak semua telah sesuai dengan skala dan keseimbangannya, maka pada arsiran pinggir dan wajah takkan lagi terasa sulit. Namun bila bibir dalam keadaan terbuka, tak jarang pula bentuk gigi sedikit mesti dirubah, untuk menyempurnakan lukisannya.

Hanan mengaku, bila saat ini peminat dan permintaan lukisan wajah dengan teknik Dot Art dan Scribble art-nya semakin banyak. Dan ia hanya baru menerima secara Scribble, sebab ia belum banyak memiliki luangan waktu dalam mengerjakannya. Dan untuk bentuk wajah ini, cukup dengan potret wajah orang yang ingin dilukis itu.

“Kita juga bang sama-sama Rumah Baca, mengajarkan seni rupa ini ke anak-anak, dalam melukis di desa,” ungkap Tarmidzi Hanan yang juga merupakan siswa berprestasi di sekolahnya itu. Yang terakhir meraih medali perak di Olimpiade Fisika Aceh dan Sumut pada 24 Februari 2019 lalu. (san)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close