Ekonomi

Data BPS Tahun 2018: Angka Kemiskinan Menurun

SIDIMPUAN, FaseBerita.ID – Angka Kemiskinan di wilayah Kota Padangsidimpuan mengalami penurunan pada tahun 2018 jika dibandingkan dengan tahun 2017 lalu. Hal itu sesuai dengan Data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Kemiskinan Kota Padangsidimpuan pada Bulan Maret 2018.

Kepala BPS Kota Padangsidimpuan, Drs Rinaldi Msi, menyebutkan, angka kemiskinan Kota Padangsidimpuan mengalami penurunan, yaitu dari 8,25 persen (17,76 ribu jiwa) pada Bulan Maret 2017 menjadi 7,69 persen (16,79 ribu jiwa) pada Bulan Maret 2018 atau berkurang 975 jiwa dalam satu tahun terakhir.

Sedangkan Garis Kemiskinan (GK) Kota Padangsidimpuan secara total sebesar Rp363.468 per kapita per bulan atau meningkat sebesar 4,42 persen dibanding GK tahun 2017.

Garis Kemiskinan merupakan suatu indikator yang dipergunakan sebagai suatu batas untuk menentukan miskin atau tidaknya seseorang. Penduduk miskin adalah mereka yang dikategorikan memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

“Kondisi (penurunan angka kemiskinan, red) terbaik sejak tahun 2014,” kata Rinaldi.

Berdasarkan persentase penduduk miskin Kota Padangsidimpuan, masih penyampaian Rinaldi, tahun 2014 angka kemiskinan 8,52 persen, tahun 2015 angka kemiskinan 8,77 persen, tahun 2016 angka kemiskinan 8,32 persen, tahun 2017 angka kemiskinan 8,25 persen dan tahun 2018 angkanya berada di 7,69 persen.

“Penurunan ini (tahun 2017 ke 2018) diduga berkaitan dengan faktor harga eceran komoditas penting relatif stabil, Beras Sejahtera (Rastra) telah lancar disalurkan ke rumah tangga. Dan secara umum Inflasi Kota Padangsidimpuan kota inflasi Padang Lawas relatif terkendali, yaitu sebesar 0,33 persen,” paparnya.

Untuk wilayah Tabagsel, sebut Rinaldi, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Persentase Penduduk Miskin di Kabupaten/Kota dari tahun 2017 ke tahun 2018 secara keseluruhan menurun.

Kota Padangsidimpuan tahun 2017 angkanya 8,26 persen menjadi 7,59 persen pada tahun 2018. Kabupaten Padang Lawas dari 9,1 persen tahun 2017 menjadi 8,41 persen pada tahun 2018. Kabupaten Tapanuli Selatan dari 10,6 persen tahun 2017 menjadi 9,16 persen tahun 2018. Kemudian, Kabupaten Mandailing Natal dari 11,02 persen tahun 2017 menjadi 9,58 persen tahun 2018 dan Kabupaten Padang Lawas Utara dari 10,7 persen tahun 2017 menjadi 10,06 tahun 2018.

Dikatakan Rinaldi, Hasil Susenas menunjukkan Garis Kemiksinan Kabupaten/Kota di wilayah Tabagsel, yakni Kota Padangsidimpuan Rp363.468.

Seterusnya, Kabupaten Mandailing Natal Rp336.820, Kabupaten Tapanuli Selatan Rp343.407, Kabupaten Padang Lawas Utara Rp321.076, Kabupaten Padang Lawas Rp310.569.

Lebih lanjut Rinaldi memaparkan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi Nilai Indeks, maka semakin jauh rata-rat pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. “Artinya, semakin tinggi P1 menunjukkan ekonomi penduduk miskin semakin terpuruk,” terangnya.

Seterusnya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeksnya, maka semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. “Dengan kata lain, semakin tinggi P2 maka sebaran pengeluaran diantara penduduk miskin semakin timpang,” bebernya.

Dari data Susenas P1 dan P2 Kota Padangsidimpuan, sebut Rinaldi, tahun 2014 P1 sebesar 1,45, dan P2 sebesar 0,44. Tahun 2015, P1 sebesar 1,71, dan P2 sebesar 0,53. Tahun 2016 P1 sebesar 0,69 dan P2 sebesar 0,21. Tahun 2017 P1 sebesar 1,39 dan P2 sebesar 0,32 serta tahun 2018 P1 sebesar 1,41 dan P2 sebesar 0,37.

“Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2018 merupakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018,” pungkasnya. (bsl)

Unefa

Pascasarjana


Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker