Ekonomi

Cukai Rokok Bakal Naik

FaseBerita.ID – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea merasa khawatir kenaikan cukai rokok bakal berimbas pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal, terutama untuk segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang merupakan industri padat karya.

Hal ini juga sudah disampaikan Andi Gani saat bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor, akhir bulan lalu.

“Kami mendesak Menteri Keuangan tidak membuat gaduh dengan mengeluarkan kebijakan yang merugikan industri dan buruh,” ucap Andi Gani, Sabtu (5/10/2019).

Pimpinan buruh se-ASEAN ini meminta kenaikan tarif cukai rokok buatan tangan tidak melebihi dari kenaikan cukai rokok buatan mesin, khususnya untuk golongan SKT yang menyerap tenaga kerja paling besar.

Selain itu, dia juga mendorong penggabungan batasan produksi rokok buatan mesin Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Alasannya, perusahaan rokok besar asing multinasional masih memanfaatkan tarif cukai yang murah untuk merebut pasar.

Menurutnya, dengan melakukan penggabungan maka menciptakan aspek keadilan dalam berbisnis di industri hasil tembakau, terutama akan melindungi pabrikan rokok kecil untuk bersaing langsung dengan pabrikan rokok besar asing.

“Pabrik multinasional yang punya SPM dan SKM itu harus digabung. Supaya produksi SPM dan SKM nanti jadi naik,” jelasnya.

Seperti diketahui, mulai 1 Januari 2020, tarif cukai rokok akan naik sebesar 23 persen. Tak hanya mengatur kenaikan tarif cukai rokok, pemerintah juga mengatur harga jual eceran (HJE) rokok. Kenaikan harga jual eceran rokok ditetapkan sebesar 35 persen.

Bagaimana Dampaknya terhadap Inflasi?

Pemerintah secara resmi bakal menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen dan harga eceran rokok sebesar 35 persen tahun depan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan, BPS telah mengkaji berbagai kemungkinan terkait dampak kenaikan tarif cukai dan harga rokok eceran terhadap inflasi.

Namun demikian, dia belum bisa menjabarkan mengenai besaran dampak tersebut secara pasti. Namun demikian, dirinya memastikan jika harga rokok naik tahun depan, maka sudah bisa dipastikan bakal menyumbang terhadap besaran tingkat inflasi.

“BPS sudah melakukan beberapa exercise tapi angkanya belum bisa kita kasih, karena banyak asumsi. Kalau harga rokoknya naik pasti dia akan sumbang inflasi,” ujar dia ketika memberikan penjelasan kepada awak media di Jakarta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, secara historis rokok hampir setiap bulan terus menyumbang terhadap inflasi.

Suhariyanto mencontohkan bulan ini saja, pada kelompok makanan jadi dan rokok serta produk tembakau lainnya, rokok kretek filter memberi sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,01 persen.

Adapun di kelompok tersebut kenaikan harga atau inflasi tercatat sebesar 0,28 persen. Suhariyanto menjelaskan, dampak kenaikan harga rokok terhadap inflasi akan bergantung pada pola penerapan kenaikan harga rokok tersebut.

Jika tarif eceran rokok dinaikkan sebesar 35 persen secara seketika, maka dampanya terhadap inflasi cukup besar. Namun, jika kenaikannya merambat secara perlahan maka dampaknya akan kecil.

“Kalau dia nyebar dari bulan ke bulan naiknya halus, maka dampaknya kecil. Pasti ada dampaknya tapi nanti saya sampaikan 1 Februari (pengumuman inflasi Januari 2020),” ujar Suhariyanto.

Untuk diketahui, kenaikan cukai rokok yang sebesar 23 persen dan kenaikan harga jual eceran sebesar 35 persen mulai berlaku 1 Januari 2020, yang selanjutnya akan ditetapkan dalam peraturan menteri keuangan (PMK). (chi/jpnn/kps)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button