Ekonomi

Budidaya Pepaya Calina Raup Jutaan Rupiah per Minggu

FaseBerita.ID – Sebagian pembaca barangkali belum mengenal pepaya Calina. Buah ini populer di sebagian kalangan dengan sebutan pepaya California. Pepaya Calina dikembangkan oleh peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan belakangan ini papaya Calina sudah mulai dibudidayakan masyarakat di berbagai daerah. Termasuk sejumlah petani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Adalah Putra Lubis (33), salah satu petani budidaya pepaya Calina di Desa Runding Kecamatan Panyabungan Barat Kabupaten Madina. Putra menamam pepaya Calina ini di lahan seluas dua hektare, dan sebagian sudah mulai panen.

Minggu (21/7/2019) Putra Lubis menceritakan, awalnya dia memulai usaha ini kurang mendapat dukungan dari warga setempat, apalagi lahan yang ditanaminya adalah minim pengairan. Namun, itu tidak menyurutkan niatnya untuk berkebun pepaya Calina. Tidak menunggu sampai setahun, pepaya calina yang ditanaminya sudah mulai panen.

“Hanya sekitar 7-10 bulan, hasilnya mulai nampak. Sekarang sudah mulai panen,” kata Putra.

Ia menjelaskan, dalam satu hektare, ia bisa menaman hingga 1.300 batang, dan setiap batang pohon pepaya bisa mencapai 20an buah dengan berat rata-rata di atas 2 Kg.

“Harga per kilogram Rp2.000, ada juga buah yang disortir. Pemasarannya saat ini sudah lebih mudah, karena toke dari Medan yang datang langsung kemari. Panennya bisa dua kali dalam sebulan, dalam sebulan bisa mencapai belasan juta, karena belum semua yang panen,” jelasnya.

Ia menyebut, setelah melihat budidaya kebun pepaya Calina milik Putra Lubis itu, warga saat ini sudah mulai mengikuti langkahnya, bahkan tak sedikit warga yang mengalihfungsikan tanaman menjadi kebun pepaya Calina.

“Kalau sekarang, di wilayah Panyabungan Barat ini sudah ada sekitar 7 hektare kebun pepaya Calina, tetapi belum seberapa yang panen,” ujarnya.

Menurut Putra, budidaya pepaya Calina ini memerlukan perawatan yang baik, mulai dari pematangan lahan, pembibitan, pemupukan, pemangkasan ranting, dan sebagainya.

“Harus dirawat dengan benar, mulai dari pembibitan hingga pembuahan. Karena, saat buah sudah muncul, kita masih memerlukan obat-obatan supaya tidak terkena hama insektisida,” terangnya.

Putra menyebut, ia bersama beberapa temannya saat ini terus menggalakkan supaya masyarakat ikut membudidayakan tanaman papaya calina. Karena, menurutnya ini salah satu komoditas yang cocok untuk mengisi lahan kosong kering yang tidak dimanfaatkan.

“Banyak sebenarnya lahan di pedesaan yang tidak diberdayakan pemiliknya. Nah, bagi masyarakat yang ingin budidaya pepaya Calina ini, kami siap membantu supaya nanti papaya calina bisa jadi produk unggulan daerah kita,” sebutnya.

“Karena selain untuk dikonsumsi langsung, bahan baku dari pepaya ini sangat banyak, seperti sabun pepaya, itu sudah kelas pabrikan, tentunya bila kita menuju ke situ. Kita harus bisa menyediakan buah dengan jumlah yang lebih besar. Dan, kami yakin harganya juga akan berbeda, tentu harganya lebih tinggi lagi, hanya saja kita harus siap menyediakan jumlah kebutuhan pabriknya,” pungkasnya. (wan)