Ekonomi

Berbahan Batok Kelapa jadi Aksesori Bernilai Tinggi

Fadli menceritakan proses pembuatan cincin hingga kalung dari batok kelapa. Batok kelapa yang tak lagi dipakai dibersihkan dan diampelas hingga halus.
Ia melayani pesanan sesuai permintaan pembeli atau custom. Lama pembuatannya juga tergantung dari kesulitan yang dikerjakan.

“Proses pembuatan dipotong terus dibersihkan pakai amplas. Ukirnya dulu saya pakai cutter kalau sekarang udah ada mesin,” ujar Fadli.

Pihaknya melayani pesanan cincin, kalung, gantungan kunci hingga tas baik dalam jumlah besar maupun eceran. Jika pesanan datang dalam jumlah besar, ia meminta bantuan teman-temannya untuk membuat kerajinan dari batok kelapa tersebut.

“Kalau suvenir pernikahan tiga minggu atau sebulan tergantung jumlahnya. Kalau suvenir lebih ke gantungan kunci sesuai permintaan,” kata Fadli.

Harga produk yang dijual pun beragam. Misalnya saja untuk cincin polos mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 900.000 untuk kalung bermotif tengkorak.

Cincin hingga kalung Sayak.co sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Fadli bahkan pernah memasarkan produknya langsung di Jakarta dan Bali. Produk tersebut ditawarkan langsung kepada para turis.

Setiap bulannya, ia bisa menjual ratusan cincin hingga kalung berbahan dasar batok kelapa. Omzet yang bisa ia kantongi paling besar mencapai Rp 10 juta.

“Kalau yang waktu saya produksi, kan sekarang masih dikatakan baru mulai lagi. Kemarin dua bulan saya nggak produksi. Sebelum itu Rp 4-5 juta per bulan itu kan kalau yang mesan biasa-biasa aja. Rekor itu Rp 10 jutaan,” tutur Fadli. (dtc/int)

Laman sebelumnya 1 2
USI