Berita

Waspada!! Trafficking Modus Agen Tenaga Kerja: Dijanjikan Kerja Restoran, ternyata Pembantu

SIANTAR, FaseBerita.ID – Masyarakat terutama di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun diminta mewaspadai trafficking atau perdagangan manusia yang berkedok (modus) agen tenaga kerja.

Jangan sampai ada lagi yang mengalami nasib seperti NS Pane (21). Dia yang dijanjikan bekerja sebagai kasir di restoran, ternyata dipekerjakan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART).

Warga Jalan Bukit Maratur, Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Siantar Martoba, Pematangsiantar itu menjadi korban trafficking di Malaysia. Ia bisa kembali ke Indonesia setelah berbagai upaya dilakukan.

Sebelumnya, ia berangkat ke Malaysia melalui PT Sentosa Karya Aditama (SKA) dengan kepala cabang Uli Gurning (45). PT SKA merupakan perusahaan agen tenaga kerja yang  berkantor di Perumahan Karangsari Permai, Jalan Anjangsana, Huta IV, Karangsari, Kabupaten Simalungun.

Uli Gurning sendiri telah ditangkap aparat Polres Pematangsiantar, Selasa (1/10/2019). Penangkapan Uli berdasarkan laporan keluarga NS Pane. Kamis (13/6/2019) NS Pane bersama orangtuanya melaporkan kasus tersebut ke polisi, dan membuat laporan dengan STPL diterbitkan polisi Nomor: STPL/192/VI/2019/SU/STR.

Namun belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait penangkapan Uli. Humas Polres Pematangsiantar Aipda Napena mengatakan hanya mengatakan Uli sudah diamankan.

“Telah diamankan, namun masih dalam proses pemeriksaan,” ungkapnya singkat.

Terpisah, orangtua korban yang dihubungi mengaku sudah mengetahui Uli ditangkap polisi.

“Iya, saya dengar sudah diamankan tadi pagi. Katanya dalam tahap penyelidikan polisi,” tukasnya, seraya berharap kasus tersebut diungkap tuntas oleh pihak kepolisian.

“Sebenarnya banyak korbannya, dan bukan dia (Uli Gurning, red) aja yang terlibat,” katanya lagi.

Sebelumnya, NS Pane merasa tertipu oleh Uli Gurning yang menjanjikannya pekerjaan di Malaysia. Kronologinya, 10 Mei 2019 orangtua NS Pane membuat pengaduan ke kantor Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Medan. Mereka menyampaikan NS Pane pada 06 Mei 2019 berangkat ke Malaysia.

Ia diberangkatkan oleh Uli Gurning dan bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga di Kuala Lumpur. Orangtua memohon agar anaknya dipulangkan ke Indonesia karena telah dipekerjakan ke Malaysia secara Non Prosedural.

Sebelum korban berangkat, orangtuanya pernah bertemu Uli Gurning di Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) PT SKA Kabupaten Simalungun. Berdasarkan pengaduan tersebut, petugas BP3TKI Medan menghubungi Uli Gurning via telepon terkait penempatan NS Pane di Malaysia.

Saat itu, Uli Gurning mengatakan keberangkatan korban ke Malaysia tidak untuk bekerja, tetapi hanya melancong. BP3TKI juga mendapat keterangan dari petugas Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Simalungun yang menyebutkan Uli Gurning adalah Kepala Cabang P3MI PT SKA Simalungun yang beralamat di Jalan Anjangsana, Huta IV Karangsari, Gunung Maligas, Simalungun.

Bahkan BP3TKI Medan telah membuat surat ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia tanggal 11 Mei 2019 perihal permohonan bantuan. Selanjutnya KBRI membantu permasalahan korban. Kemudian, 31 Mei 2019 KBRI telah memulangkan korban ke Indonesia.

Setibanya di Bandara Internasional Kuala Namu Deliserdang, korban didata oleh petugas pos pelayanan (Posdal) BP3TKI Medan. Dalam penjemputan tersebut juga hadir dari Dinas Tenaga kerja Sumut dan orangtua korban.

Sehubungan peristiwa ini, diduga telah terjadi trafficking terhadap NS Pane. Sebab nama dan nomor paspor korban tidak terdata dalam Sistem Komputerisasi Tenaga Kerja Luar Negeri (Sisko TKLN). Merasa telah dirugikan karena anaknya diduga diperdagangkan ke Malaysia, orangtua korban mengajak anaknya melaporkan Uli Gurning ke Mapolresta Pematangsiantar.

Korban kepada wartawan mengatakan, ia ditawari pekerjaan oleh Uli Gurning sebagai kasir restoran di Malaysia.

Awalnya ia dijanjikan gaji RM1.500 per bulan. Dengan menumpang pesawat dari Bandara Kuala Namu, korban tiba di Malaysia. Ternyata, ia dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan majikannya mengatakan ia telah membeli korban dengan harga mahal.

“Selama 5 hari kerja sebagai pembantu rumah tangga, digaji RM1. Kalau dirupiahkan Rp2.500 ribu,” terang korban.

Setelah lima hari bekerja, korban melapor serta meminta perlindungan ke kantor KBRI di Malaysia tanpa sepengetahuan majikan. Saat itulah, ia mengetahui ternyata paspor yang dimilikinya bukan untuk bekerja, namun paspor pelancong.

Korban berusaha kabur dari rumah majikannya. Atas bantuan pihak KBRI, dia bisa kembali ke Indonesia.

“Setelah tiba di Indonesia dan sampai di rumah, saya menemui Uli Gurning guna meminta pertanggungjawabannya. Tapi Uli Gurning tidak merasa bersalah. Sehingga kami melapor ke Mapolresta Siantar,” sebutnya. (mag-03)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker