Berita

Warga minta Polisi Tangkap Pengedar Rokok Ilegal

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Maraknya peredaran rokok tanpa cukai atau rokok ilegal menjadi perhatian masyarakat, yang meminta agar polisi segera menangkap pengedarnya. Pasalnya, selain merugikan negara, rokok tersebut juga dinilai dapat mendatangkan penyakit baru bagi penggunanya. Sebab, belum ada pemeriksaan yang dilakukan pemerintah terhadap komposisi rokok tersebut.

“Kita gak tahu, apa-apa saja campuran rokok ini. Karena, pemerintah belum memeriksanya, namanya rokok tanpa cukai. Bisa saja, ada bahan berbahaya yang sengaja dicampurkan. Terkadang, kelihatannya saja seperti daun tembakau asli, setelah diperiksa ternyata bukan. Makanya, polisi harus segera bergerak menangkap pengedarnya,” kata Hotma Purba, warga Ketapang, Senin (20/1).

Sekilas, pria yang aktif di organisasi masyarakat ini menjelaskan, peredaran rokok ilegal seperti Luffman tidak hanya terjadi di perkotaan saja. Melainkan juga telah merambah hingga ke pelosok desa. Menariknya, harga murah yang ditawarkan menjadi daya tarik kepada para pecandu rokok. Terlebih lagi, baru-baru ini muncul program pemerintah yang menaikkan harga rokok.

“Sekarang, sudah sampai ke desa-desa. Para perokok sangat senang dengan rokok ilegal ini. Harga murah, mutu tidak kalah dengan rokok yang pakai cukai. Bayangkan, Luffman hanya dihargai Rp8000 per bungkus. Sedangkan rokok yang bercukai, Rp25.000 per bungkus. Selisih harganya sangat jauh, inilah yang menjadi penariknya. Para perokok tidak mau tahu dengan campurannya atau efek yang diakibatkan rokok ilegal ini. Yang penting murah,” tukasnya.

Dari informasi yang pernah dia dengar, salah satu pemasukan rokok tanpa cukai diduga berasal dari daerah Pekanbaru, Kepulauan Riau. Dengan mengendarai mobil boks. “Pernah saya tanya-tanya masyarakat, siapa yang mengedarkan rokok ini. Katanya ada orang Pekanbaru yang datang mengantar pakai mobil boks. Menurut mereka, dulunya oknum ini asalnya dari daerah Kolang, tapi sekarang sudah menetap di Pekanbaru,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak terlalu sulit untuk mengungkap jaringan rokok ilegal tersebut. Karena, peredarannya sangat terbuka.

“Kan bukan kayak narkoba, diedarkan dan dikonsumsi secara sembunyi-sembunyi. Bisa kita lihat, dimana-mana orang ngisap Luffman. Di kedai-kedai, mereka bebas menjualnya. Jadi, saya rasa, sangat gampang untuk mengungkap ini. Itupun kalau ada niat,” ketusnya.

Ditimpali warga lainnya, Rudi yang meminta Dinas Perindustrian Perdagangan Kota Sibolga untuk sidak penjualan rokok ilegal tersebut di pasaran. “Disperindag pun sudah harus serius menanggapi ini. Segara dilakukan sidak dan menyita semua barang ilegal yang ada di pasaran,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, cukai rokok merupakan salah satu penyumbang anggaran negara terbesar dari sektor pajak. Belakangan, di Kota Sibolga dan sekitarnya marak beredar rokok tanpa cukai atau rokok yang pemasarannya tidak mempunyai pemasukan ke negara. Salah satu jenis rokok tanpa cukai yang laris manis dipasaran adalah Luffman.

Rokok ini dinilai para pengkonsumsinya sebagai rokok yang paling murah bila dibandingkan dengan rokok bercukai. Perbandingan harganya cukup jauh. Luffman dibandrol hanya seharga Rp8000-Rp10.000 per bungkus. Sementara, untuk rokok bercukai dibandrol Rp20.000-Rp25.000 per bungkus.

Atas kerugian negara tersebut, Kantor Bea Cukai Sibolga mengajak wartawan untuk turut mengampanyekan ‘Stop Rokok Ilegal’. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Bea dan Cukai Sibolga Ahmad Luthfi saat menerima audensi pengurus PWI Sibolga-Tapanuli Tengah, di kantornya, Jumat (17/1) lalu.

Menurut Ahmad Luthfi yang baru ditugaskan memimpin Kantor Bea Cukai Sibolga, program pertama yang dilakukannya adalah menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para pemangku kebijakan dan hukum di wilayah kerjanya, sekaligus menggempurkan ‘Stop Rokok Ilegal’.

“Saya sudah berkunjung ke Korem 023/KS Sibolga yang wilayah teroterialnya cukup luas. Sekaligus meminta dukungan untuk membantu Bea dan Cukai Sibolga untuk memerangi peredaran rokok ilegal. Demikian juga kunjungan ke Kodim 0211/TT, dan kunjungan ke beberapa instansi lain. Dan hari ini saya dikunjungi oleh rekan-rekan wartawan dari PWI yang semakin menambah semangat kami untuk dapat bekerja sama dalam berbagai hal untuk memerangi peredaran rokok ilegal,” katanya.

Diakuinya, luasnya wilayah kerja Bea Cukai Sibolga yang mencakup 11 Kabupaten dan 3 kota, membutuhkan SDM yang lebih banyak. Ditambah, dengan pelayanan di Bandara Silangit Tapanuli Utara. Namun demikian, keterbatasan SDM tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengejar target pajak dari wilayah kerjanya.

Senada disampaikan oleh Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Kantor Bea Cukai Sibolga, Arif Sulistiyono, yang turut mendampingi Kepala Kantor menerima kehadiran pengurus PWI Sibolga-Tapteng. Menurutnya, kerja sama yang baik dan peran dari media sangat membantu untuk dapat mengimbau masyarakat untuk tidak membeli rokok ilegal.

“Nanti kita akan lebih banyak diskusi dengan teman-teman dari PWI Sibolga-Tapteng untuk dapat menyampaikan pesan dan harapan dari Bea Cukai Sibolga kepada masyarakat luas. Karena wilayah kerja kami cukup luas, tentu dibutuhkan penyampaian informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat,” katanya. (ts)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close