Berita

Wardaniyati: Selalu Penasaran dan Berani Coba Resep Baru

SIANTAR, FaseBerita.ID – Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang tata boga, namun Wardaniyati mampu membuat berbagai masakan. Ia selalu penasaran dan tertantang melihat makanan, sehingga memiliki keberanian untuk mencoba resep. Walaupun tak selalu langsung berhasil.

“Pasti ada yang gagal saat saya mencoba resep baru. Tapi saya tidak langsung putus asa. Kalau sudah penasaran, pasti saya coba terus hingga berhasil,” sebut perempuan berhijab yang akrab disapa Dani ini.

Menurut Dani, berawal dari hobinya memasak, ia memutuskan membuka usaha kuliner. Usaha tersebut dijalankannya secara online. Sebab sejauh ini ia belum memiliki tempat untuk menjajakan dagangannya dan menerima kedatangan pembeli.

Bersama suaminya, Ahmad Djohan Nasution, terhitung sejak hampir tiga tahun lalu, ia memulai bisnisnya.
“Tadinya saya kerja di salah satu perusahaan, sama dengan suami saya. Setelah menikah, saya resign dan suami tetap kerja. Tapi akhirnya perusahaan tersebut tutup, dan saya dengan suami memutuskan fokus di usaha ini,” jelas Dani yang memberi nama usahanya K-Cake.

Nama K-Cake, katanya, diambil dari huruf pertama nama kedua anaknya, yaitu Keyza Nialton (10) dan Muhammad Al Kahfi (2,5).
“Yang pertama dipanggil Keyza, dan yang kedua dipanggil Kahfi. Jadi nama panggilan keduanya dari huruf K,” tukas wanita yang tengah menantikan kelahiran anak ketiganya.

Masih kata Dani, selama ini hanya ia dan suaminya yang mengerjakan bisnis tersebut, termasuk untuk mengantar pesanan.

Yang dijual beraneka ragam kuliner. Yang selalu ready yakni mie rebus Melayu, siomay, lontong gado-gado, lontong tahu kecap, lupis, dan cenil. Sedangkan menu lainnya, seperti buka Ambon, bolu tapai, dan lainnya biasanya tidak ada setiap hari.

“Juga tidak dibuat berdasarkan pesanan. Kalau sudah selesai dimasak, barulah saya promosikan di media sosial. Kecuali kue tart untuk ulang tahun barulah berdasarkan pesanan,” tandas alumni SMA Yayasan Budhist Manjusri Pematangsiantar ini.

Masih kata anak kedua dari tiga bersaudara ini, setiap hari ia dan suami berbagi tugas. Biasanya mereka sama-sama berbelanja ke pasar. Lalu berdua berjibaku di dapur. Kebetulan sang suami sudah paham meracik bumbu dan pekerjaan lainnya.

 

“Kalau saya bikin bumbu mie rebus, dia yang bikin bumbu siomay. Begitulah, karena kita memang belum punya pekerja,” ujar Dani yang sempat bekerja di Batam selama beberapa tahun ini, saat ditemui di kediamannya di Jalan Patuan Anggi Gang Siput Pematangsiantar ini.

Diakui Dani, saat masih duduk di bangku sekolah, ia memang sudah bercita-cita ingin memiliki usaha catering. Kini, meskipun bukan usaha catering yang dijalankannya, paling tidak masih berhubungan dengan masak memasak.

Meski seharian selalu sibuk di dapur, Dani masih menyempatkan diri bersosialisasi. Ia rutin mengikuti wirid pengajian di lingkungan rumahnya setiap Senin siang. Selain itu, ia pun senantiasa berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi putri sulungnya belajar di rumah.

“Kalau hari Minggu, saya nggak jualan. Hari Minggu waktu untuk anak-anak,” sebut Dani yang mengaku banyak mengonsumsi air putih dan madu hangat untuk menjaga kesehatan.

Dani tidak menampik, setiap hari selalu bertambah orang yang menjalankan bisnis kuliner. Bahkan, ada saja yang bisnisnya sama dengan yang telah dijalankannya. Hanya saja, Dani yakin rezeki tak akan tertukar.

“Kita tidak bisa melarang orang lain membuka bisnis yang sama. Tapi kan masing-masing pasti punya ciri khas, saya yakin, bisnis bisa ditiru, tapi rezeki kan tidak,” jelas Dani yang memiliki reseller tetap, yakni salah satu toko kue di kawasan Simpang Dua Pematangsiantar. (awa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button