Berita

Virus Demam Babi Dera Tradisi “Marbinda” Hingga Acara Adat

HUMBAHAS, FaseBerita.ID – Virus demam babi Afrika atau yang disebut ASF (African Swine Fever) telah menyebabkan puluhan ribu ternak babi di beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Utara, termasuk Humbang Hasundutan (Humbahas) mati.

Dinas Peternakan dan Perikanan Humbahas mencatat sebanyak 1.810 ekor babi di daerah ini mati dalam kurun waktu kurang dari empat bulan. Salah satu penyebabnya dipastikan penyakit ASF.

“Kami terus melakukan pendataan terkait jumlah ternak babi yang mati. Sekarang sudah 1.810 ekor. Itu berdasarkan data yang masuk sampai tanggal 18 Desember,” kata Kadis Peternakan Luhut Marbun melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Veteriner, Martongam Lumban Toruan di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Situasi ini ternyata tidak hanya merugikan peternak babi. Sejumlah kearifan lokal juga terkena dampak. Marbinda, misalnya. Tradisi memotong dan berbagi daging babi bersama satu kampung atau satu desa maupun arisan, sebagai bentuk sukacita dan kekompakan menyambut Natal dan tahun baru tidak lagi terlihat.

Mereka khawatir penyakit yang sangat mematikan babi tersebut dapat berjangkit pada manusia, meskipun ada pernyataan dari instansi terkait menyebutkan bahwa ASG tidak bersifat zoonosis (tidak berjangkit ke manusia).

“Kita belum tau kebenarannya. Itu kan, kata mereka,” ujar Samuel Sihotang dalam perbincangan terkait wabah yang melanda Sumut itu pada sebuah acara pemakaman di Ambasang Silima, (27/12).

Selain Marbinda, daging babi yang sebelumnya mendominasi lauk setiap kegiatan adat batak toba di daerah itu juga beralih ke ternak unggas, yaitu daging ayam.

“Hanya parjambaran dan tudu- tudu sipanganon (potongan tertentu dari bagian tubuh babi yang khusus untuk diserahkan kepada pihak tertentu) saja yang menggunakan daging babi. Untuk tamu undangan, semuanya daging ayam atau ikan mas,” ujar Pak Nadya, warga lainnya menimpali.

Pak Nadya mengatakan, selain takut tertular, warga juga merasa jijik makan daging babi dikarenakan suguhan pemandangan yang tidak enak terhadap bangkai-bangkai babi semenjak wabah ASF melanda kampungnya.

“Alasan lain yang saya lihat adalah sebagai bentuk pengamanan (biosecurity) bagi mereka masih punya ternak babi yang sehat,” imbuhnya.

Mereka berharap, musibah ini cepat berlalu. Para ahli dapat menemukan vaksinnya. “Dan paling penting, pemerintah dapat memberi kompensasi bagi peternak yang terkena wabah tadi. Untuk membantu meringankan kerugian mereka,” harapnya. (sht/ahu)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button