Berita

Tuntut Tutup Pakter Tuak Unjuk Rasa Spontan Ibu-ibu Desa Simirik

FaseBerita.ID – Puluhan kaum ibu beserta anak-anaknya, Senin (2/3) siang mendatangi perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan- Kota Padangsidimpuan, Desa Simirik, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua. Mereka menuntut agar kawasan bernama Bambu Kuning, tempat dagangan tuak itu ditutup.

Aksi spontan dengan peserta 50-an orang itu berangkat dari peristiwa dugaan kasus asusila oleh oknum guru di sekolah yang berada di desa itu. Mereka beranjak dari gedung sekolah, usai pertemuan dengan stakeholder dan para orangtua murid. Berjarak sekitar 200 meter.

Kaum ibu yang menjadi penggerak aksi itu antara lain, Damayanti Pulungan, Rosma Siagian, Hannum Pulungan, Elfrida Lubis dan Anita Pohan. Mereka menilai kawasan hiburan pinggir Jalan Lintas Sumatera Raja Inal Siregar Jurusan Psp-Medan itu, merupakan penyebab hilangnya kepedulian perhatian kaum laki-laki terhadap anak-anak. Juga merusak keharmonisan dalam berkeluarga.

Damayanti dan lainnya dari pintu ke pintu pakter, meneriakkan agar ini segera ditutup dalam jangka waktu tiga hari mendatang. Tidak ada lagi operasi sampai larut malam, dan jangan ada lagi musik serta karaoke yang mengganggu warga sekitar.

Di sini, ada sekitar enam sampai 10 bangunan bentuk rumah dan warung yang disinyalir menyediakan tuak dan minuman keras. Selain itu juga ada hiburan karaoke dengan menyediakan perempuan-perempuan malam dan beroperasi hingga larut pagi.

“Tutup bambu kuning, pakter ini harus tutup. Kami meminta dalam tempo tiga hari ke depan, segala aktivitas di semua lokasi yang ada agar ditutup. Ini merusak generasi, bapak-bapak ke sini semua, anak-anak juga tahu,” teriak Damayanti disambung dengan kata tutup oleh kaum ibu lainnya dan anak-anak.

Mereka mengunjungi tiap bangunan yang kebanyakan telah dikunci dengan gembok. Kaum ibu dan anak-anak ini juga mengungkap beberapa pondok sempit, bahkan ada sepasang orang yang terbirit-birit lari ke arah kebun setelah tahu massa ini datang.

“Lihat kan, ada yang lari itu. Balik woi, nanti disengat sesuatu kalian di sana,” teriak mereka ke arah kebun rambutan dan tumbuhan lainnya.

Sementara beberapa pemilik yang memilih tinggal di depan pintu usahanya, tak menggubris, mereka hanya melihat dan berbisik-bisik menyaksikan aksi kaum ibu ini.

Terakhir, Polmas setempat, Aiptu SY Dalimunthe menyarankan agar kaum ibu ini melakukan aksi tertib dan membuat laporan ke Polres Padangsidimpuan. Kaum ibu yang menjadi penggerak ini pun berjanji, akan melakukan aksi lanjutan pada Senin mendatang, dengan terlebih dahulu membuat surat sesuai arahan Polmas. Kemudian koordinasi dengan Naposo Nauli Bulung desa itu, serta dengan aksi lebih banyak dan tuntutan penutupan sudah harus dilaksanakan.

Alasan kaum ibu ini menuntut penutupan operasi pakter tuak dan hiburan ini, di antaranya dinilai merusak generasi muda, khususnya anak-anak yang ada di Desa Simirik ini. Mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Merusak hubungan keluarga, karena banyak laki-laki, suami-suami yang datang kemari dan menggangu keharmonisan keluarga. Serta suami-suami tidak lagi peduli pada perkembangan dan pendidikan anak.

“Ini baru peringatan awal, karena kami akan datang dengan jumlah lebih banyak lagi dan melakukan aksi yang sama. Dua tiga hari ini sudah harus tutup,” kata kaum ibu lainnya. (san)

Universitas Simalungun  
Tags

Berita lainnya

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close