Berita

Tugu Sangnaualuh Batal Dibangun Negara Rugi, Simalungun Dinista

FaseBerita.ID – Pembatalan pembangunan Tugu Sangnaualuh Damanik di Lapangan Haji Adam Malik, kembali disoal massa yang tergabung dalam Gerakan Patunggung Simalungun.

Lewat aksi unjuk rasa di bawah koordinator Dedi Wibowo Damanik, massa menilai kebijakan pembatalan dan pemindahan rencana pembangunan tugu yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar bentuk tidak menghargai leluhur dan penghinaan bagi etnis Simalungun.

Massa unjuk rasa awalnya berkumpul di Lapangan Adam Malik, kemudian bergerak berjalan kaki ke arah pintu masuk gerbang lapangan, tepatnya arah masuk tugu yang batal dibangun. Di sana mereka berorasi sembari memajangkan dua spanduk. Dalam pengawalan polisi, massa kemudian bergerak menuju kantor Kejaksanaan Negeri Pematangsiantar hingga ke Polres. Namun sejenak berhenti di Jalan Merdeka, di luar pagar kantor Walikota.

Puluhan pemuda dan pemudi yang mengaku dari berbagai organisasi mengundang perhatian masyarakat karena saat berorasi dan berjalan kaki sempat membuat lalu lintas tidak lancar. Namun tidak sampai membuat macet total. Sesampainya di kantor Kejari, awalnya hanya di luar pagar hingga kemudian diberi ruang masuk ke depan pintu masuk gedung.

Menggunakan pengeras suara, massa mengatakan bahwa dengan dikeluarkannya kebijakan pemindahan Tugu Sangnaualuh Damanik berulangkali, telah membuat kekecewaan terhadap masyarakat Siantar dan telah menista serta menghina leluhur Simalungun. Kali ini sangat jelas leluhur Simalungun tidak lagi dihargai atas perjuangan, pengorbanan untuk kota Sapangambei Manoktok Hitei.

Massa juga menyinggung soal ketidakjelasan status fisik bangunan yang dibatalkan tersebut, padahal sudah berdiri sekitar 35 persen dari perencanaan sehingga Pemko Pematangsiantar seolah loyo dan tidak memiliki integritas dalam menyelesaikan persoalan. Mereka memastikan bahwa pembatalan bangunan telah menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.

Atas kebijakan itulah, massa yang merupakan sebagian besar mahasiswa meminta masyarakat Simalungun memboikot seluruh kebijakan Pemko yang berhubungan dengan masyarakat Simalungun. Meminta Kapolres dan Kejaksaan mengusut dugaan penistaan etnis Simalungun oleh Walikota dan meminta untuk memproses serta menangkap Hefriansyah karena terindikasi merugikan keuangan negara atas pembatalan tugu tersebut.

Dihadapan pimpinan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pematangsiantar yang diwakili Kasi Intel, Bas, massa meminta penjelasan lembaga tersebut apa langkah yang telah diambil sekarang dan kedepannya atas masalah pembatalan pembangunan tugu. Menjawab itu, Bas mengaku bahwa pihaknya sedang menunggu pemeriksaan BPK RI perwakilan Sumut, apakah ditemukan pelanggaran hukum atau kerugian keuangan negara.

“Mengenai permasalahan tugu, kita harus lihat dulu bahwa pembayaran yang dilakukan dinas apa sudah terjadi dan ini akan koordinasi dengan PUPR. Kita juga menunggu audit tim BPK. Tindak lanjutnya seperti apa akan kita sampaikan nanti,” katanya, sembari menambahkan bahwa secara kasat mata bahwa pembatalan pembangunan tugu tentu telah mengeluarkan anggaran.

Walau demikian, menelisik situasi itu harus berdasarkan kaca mata hukum. Mengingat saat ini sedang ada pemeriksaan atau audit rutin dari BPK RI, maka Kejari sifatnya hanya menunggu. Kecuali permasalahan tugu tersebut menggunakan anggaran di bawah tahun 2018. Karena anggarannya tahun 2018, perlu menunggu waktu 60 hari apakah ada pembayaran kekurangan atau hal lainnya dari konteks masalah yang ada. Mendengarkan itu, massa akhirnya meninggal Kasi Intel menuju Polres Pematangsiantar. (pam/esa)

Klik tombol Play untuk lihat Video

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=OFk6K55qWoY]


Pascasarjana

Unefa
Back to top button