Berita

Truk ‘Moster’ Semakin Leluasa Lalu Lalang di Tengah Kota Sibolga

FaseBerita.ID – Aktivitas mobil yang melebih kapasitas (Over tonase) semakin merajalela di Kota Sibolga.

Sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Sibolga menyaksikan mobil-mobil tuk besar atau ‘moster’ ekspedisi pengangkutan barang tujuan Sibolga – Gunungsitoli (Nias) walapun sudah kerap dikritik warga, namun pengusahan-pengusahan ekspedisi dinilai tak mempan.

Hingga saat ini tiada satupun istansi yang mampu menerapkan peraturan memberhetikan aktivitas mobil moster yang kerap berkeliaran di jalur padatnya pengguna jalan di Kota Sibolga.

Truk pengangkutan yang umumnya berjenis Mitsubishi Colt Diesel disulap menjadi truk dengan kapasitas yang jauh banyak yang telah berlaku sebagaimana yang diatur dalm UU Nomor 22 Tahun 2009, tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Kemudian, diatur juga dalam Permenhub RI Nomor PM 26 Tahun 2015 tentang standar keselamatan lalulu lintas dan akutan umum.

Namun nyatanya, istansi terkait seakan ‘tutup mata’ menyaksikan truk moster yang lalu lalang di tengah-tengah jalur padatnya pengguna jalan di Kota Sibolga. Truk Moster yang tidak memilik jalur kusus membuat beberapa pengguna jalan dan warga Kota Sibolga merasa khawatir dengan keselamatan meraka ketika melihat truk moster berjalan menuju pelabuhan.

Kendati pernah disoroti publik, namun frekuensi masuknya mobil truk ekspedisi pengangkut sembako, furniture, dan alat elektronik di jalan inti Sibolga, semakin leluasa tanpa memikirkan keselamatan orang lain

Pantauan wartawan koran ini pada hari Sabtu (01/08) malam, di tengah kemacetan yang terjadi akibat mobil moster yang melebih kapasitas mengalami kerusakan bagian roda belakang dikarenakan dugaan mobil melebih tonase.

Rasa kekecawaan salah seorang warga yang bernama wanda terucap ketika terjebak kemacetan akibat ban mobil tersebut rusak. “Sampai kapan pun pemeritah Kota Sibolga tidak bakalan pernah bisa memberikan sanksi kepada mobil truk moster ini, karena jelas uang  keamananya,” kesal Wanda.

Dia menambahkan, Pemerintah Kota Sibolga ataupun istansi terkait tidak memikirkan nasib masyarkat ketika truk moster tersebut melitas, kerap terjadi kemacetan akibat truk moster ini berjalan dengan muatan yang melebih standar yang telah ditetapkan.

“Pak Polisi dan Pak Dinas Perhubungan, mohonlah perhatikan kami masyarakat yang kecil ini. Tolong berikan peringatan kepada pengusaha-pengusaha ekpedisi tersebut, jangan hanya karena ingin dapat untung besar mobil dibiarkan sampai melebih muatan hingga mencapai ketinggan sampai kurang lebih 10 meter,” ucapnya.

Lanjutnya, apakah harus menunggu koraban jiwa dulu baru pemerintah Kota Sibolga sibuk mendatangi pengusaha-pengusaha ekpedisi tersebut.

“Seperti yang terjadi pada tahun 2016 lalu truk moster yang melebih kapasitas terbalik menimbulkan kerusakan bangunanpagar Korem 023/KS, serta menimpa pengendara sepedamotor yang melintas di Jalan R Suprapto persis di depan SMA Negeri 3 Sibolga, yang mengakibatkan seorang ibu bersama dua orang ankanya menjadi korban tertimpa barang muatan truk moster. Beruntung pada waktu itu ketiga korban selamat dari maut dan menjalani perawatan intensif di RSUD Umum Kota Sibolga,” terang wanda.

Untuk itu dia sangat berharap agar Pemeritah Kota Sibolga sekiranya dapat memberika sanksi atau peringatan kepada pengusaha expedisi truk moster sebelum makan korban.

Terpisah, Boru Simanjutak salah seorang pedagang kaki lima yang berada di pinggiran Jalan R Suprapto Kota Sibolga saat dihampiri, mengaku bahwa keberadaan truk monster itu sangat mengganggu. “Sudah capek kita warga Kota Sibolga ini bekowar-kowar melarang aktifitas mobil truk moster tersebut bahkan sudah pernah kita adakan aksi, namun tidak ada respon dari Pemerintahan Kota Sibolga,” ucapnya.

Tambahnya, hanya sajanya pastinya seluruh masyarakat Kota Sibolga sangat mengharapkan mobil truk moster tersebut dapat dihentikan aktivitasnya atau diberlakukan Undang-undah yang berlaku. Jika pengusaha tidak mengikuti pihak yang berwajib dan pemko dapat mencabut izin usaha mereka. (tam)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button