Berita

Tolak Omnibus Law di Siantar, Massa Kembali Turun ke Jalan

FaseBerita.ID – Lagi-lagi, pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) memicu gelombang demonstrasi. Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersatu Siantar kembali turun ke jalan menolak Omnibus Law, Senin (12/1).

Pantauan wartawan, sejak pukul 09.30 WIB, sejumlah massa sudah mulai berkumpul di depan makam pahlawan Jalan Merdeka, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Siantar Timur.

Di tempat yang sama Kapolres Siantar AKBP Boy Sutan Binagga Siregar ikut menemui sejumlah massa yang sudah mulai berkumpul sejak pagi.

Kapolres mengimbau kepada seluruh peserta aksi agar tertib saat menyampaikan inspirasi mereka.

“Kita dalam hal ini hanya sebagai pengaman berjalannya aksi. Kita juga imbau kepada adik-adik mahasiswa supaya tetap kondusif dan menerapkan Protokol Kesehatan,” ujar AKBP Boy.

Belum lagi disituasi pandemi Covid-19, katanya, dimana menurut anjuran pemerintah agar tidak menimbulkan kerumunan massa.

“Sebenarnya berkumpul itu tidak boleh. Untuk itu kita hadir disini supaya tertib dan mematuhi Protokol Kesehatan,” imbuhnya.

Selanjutnya sekira pukul 09.50 WIB, massa yang diperkirakan sekitar 100 orang berjalan kaki menuju gedung DPRD Siantar sambil berorasi.

Dalam aksinya Aliansi Mahasiswa Bersatu Siantar meminta Walikota Pematangsiantar dan DPRD menyampaikan aspirasi penolakan Omnibus Law dari masyarakat Siantar kepada Presiden Republik Indonesia dan meminta kepada Presiden RI dengan segera menerbitkan peraturan pemerintah pengganti UUD (PERPPU) Omnibus Law.

Mayluther Dewanto Sinaga, sebagai Ketua GMKI mengungkapkan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan kepada Omnibuslaw.

“Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk perlawanan. Aksi kami bukan anarkis tetapi aksi damai. Aksi ini juga tidak ada yang menunggangi, ini murni untuk rakyat dari mahasiswa,” ungkap Luther dalam aksi itu.

Adapun tuntutan dari Aliansi Mahasiswa Siantar Bersatu meminta Walikota Pematangsiantar untuk menyampaikan aspirasi penolakan Omnibus law dari masyarakat Siantar kepada Presiden Republik Indonesia, 2 Meminta Presiden Republik Indonesia dengan segera menerbitkan peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang ( PERPPU).

“Kami berharap anggota dewan juga sepakat dengan mahasiswa dengan penolakan  UU Omnibus Law. Jangan hanya mementingkan diri saja,” terang massa.

Walikota Siantar Hefriansyah yang hadir di tengah aksi menyampaikan ia tidak mau melanggar peraturan. Untuk itu, pihaknya siap memfasilitasi perwakilan mahasiswa ke DPR (Jakrta, red).

“Jangan paksakan saya melanggar peraturan. Jujur saya belum membaca UU Omnibus Law. Belum kubaca secara detail. Hanya secara online. Kalau masalah ini, kita siap memfasilitasi lima perwakilan mahasiswa ke DPR. Saya akan mendukung kawan-kawan mahasiswa. Bila rekan-rekan mahasiswa belum puas, saya akan memfasilitasi lima perwakilan dari kalian untuk berangkat ke DPR (Jakrta, red),” ujar Hefriansyah.

Mereka juga meminta Ketua DPRD Timbul Lingga menandatangani penolakan UU Omnibus Law. Namun ketua DPRD tidak mau gegabah. Hanya saja mereka dari DPRD menyatakan akan mendukung aksi mahasiswa dan melaporkannya ke jenjang lebih tinggi nantinya.

“Kami akan sampaikan ini kepada lembaga yang lebih tinggi. Kita bersama Walikota akan menyurati secara resmi menyampaikan aspirasi masyarakat ke pimpinan pusat. Terimakasih kepada rekan mahasiswa telah melaksanakan aksi ini dengan damai,” ujarnya singkat.

Mendengar pernyataan Wali Kota dan DPRD, Mahasiswa Siantar Bersatu membubarkan diri dengan kecewa.

Pedagang Meraup Rezeki di Tengah Aksi

Aksi unjuk rasa massa dari kalangan mahasiswa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang terjadi di depan Kantor DPRD Pematangsiantar, Senin (12/10/20) pagi menjelang siang, memberikan seberkah rezeki bagi pedagang minuman yang ada di sekitar Jalan Haji Adam Malik.

Meski demo kali ini tidak “sepanas” unjuk rasa minggu lalu, para pedagang tersebut tetap menjajakan dagangannya untuk mendapat rezeki di tengah aksi demo yang terjadi.

Salah satunya, Mega Sagala mengaku, air mineral yang dijajakannya cepat habis terjual dalam sekejap. Ia pun tidak sendirian, seorang bocah perempuan berumur 9 tahun yang merupakan anaknya sendiri juga turut menjual dagangannya kepada massa yang sedang berdemo.

“Lumayan, sudah habis sekotak air mineral kami. Saat ini suamiku sedang mengambil lagi. Soalnya tadi bawanya sedikit,” ucapnya, Senin (12/10/20).

Biasanya, air mineral yang dia jual hanya bisa habis 1-2 kotak saja setiap hari. Tapi kali ini, ketika demo masih berlangsung, sudah 2 kotak air mineral terjual. Dengan pendapatan yang dinilai fantastis tersebut, Mega berharap aksi demo seramai ini bisa berlangsung setiap hari.

“Kalau demo banyak sepertinya ini lumayan untungnya, apalagi cuaca mendukung yakni panas, kalau bisa demo aja tiap hari,” katanya dengan tertawa.

Pantauan wartawan di lapangan, tidak hanya penjual minuman saja yang memanfaatkan momen keramaian tersebut, sejumlah pedagang lainnya pun ikutan menjajakan dagangannya dalam aksi unjuk rasa itu. (ros/mstr/int)





Back to top button