Berita

Toko Penjual Emas Palsu di Bengkulu Beroperasi dari 5 Tahun Lalu

FaseBerita.ID – Kepolisian Bengkulu memberikan keterangan perihal toko emas Permata Duty yang berada di Jalan KZ Abidin, Kota Bengkulu itu beroperasi menjual perhiasan emas palsu sudah berkisar lima tahun.

Hal itu terungkap berdasar hasil pemeriksaan terhadap pemilik toko yakni IM, 57, yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka.

”Iya kalau berdasar hasil pemeriksaan terhadap tersangka, toko itu sudah beroperasi selama sekitar lima tahun. Diperkirakan perhiasan emas palsu yang dijual sudah banyak beredar di masyarakat,” kata Kepala Bidang Humas Polda Bengkulu Kombespol Sudarno seperti dilansir dari Antara di Bengkulu pada Minggu (16/8).

Baca sebelumnya: Polisi Bengkulu Ungkap Penjualan Emas Palsu

Meski demikian, Sudarno menyebut, kepolisian belum dapat menyampaikan berapa total perhiasan emas palsu yang telah dijual tersangka mengingat saat ini masih dalam proses pengembangan. Dari toko emas milik tersangka, polisi menyita sedikitnya setengah kilogram emas palsu yang telah dibentuk menjadi perhiasan dengan bermacam jenis. Selain itu, polisi juga menyita alat sepuh emas, surat pembelian emas, dan barang bukti lainnya.

Sudarno meminta masyarakat yang merasa menjadi korban pembelian emas palsu di toko Permata Dury di Jalan KZ Abidin, Kota Bengkulu, agar segera membuat laporan ke polisi. ”Kami mengimbau bagi masyarakat yang menjadi korban karena telah membeli emas palsu di toko tersebut agar segera melapor ke polisi,” ucap Sudarno.

Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bengkulu menetapkan pemilik toko emas Permata Dury IM, 57, sebagai tersangka karena telah menjual emas palsu dengan cara menyepuh perak dengan emas lalu dijual ke masyarakat. Tersangka menjual perhiasan emas palsu itu dengan harga emas asli 24 karat dan memanfaatkan naiknya harga jual emas saat ini.

Penyidik menjerat tersangka dengan pasal 106 juncto pasal 24 ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan pasal 8 ayat 1 huruf e dan f juncto pasal 73 ayat 1 juncto pasal 16 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

”Kalau urusan ganti rugi itu bukan urusan polisi, kalau ada yang melapor kita proses pidananya, kalau ganti rugi itu urusan sama pelakunya yang sekarang sudah kita tahan,” papar Sudarno.

Selain itu, kata Sudarno, pihaknya belum menemukan adanya indikasi keterlibatan pihak lain dalam kasus penjualan emas palsu tersebut, sehingga diperkirakan hanya ada satu tersangka dalam kasus ini.

”Kita belum bisa memperkirakan sudah berapa emas palsu yang sudah dijual tersangka itu apakah satu kilo atau berapa kita belum bisa sampaikan, nanti karena sekarang masih pengembangan,” kata Sudarno. (int)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button