Berita

Terkait Penganiayaan Anak di Porsea, Arist Merdeka Sirait: HS Terancam 15 Tahun Penjara

TOBASA, FaseBerita.ID – Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Indonesia,  Arist Merdeka Sirait mengapresiasi Polres Toba Samosir (Tobasa), serta mengajak Forkopimda Tobasa untuk membangun Gerakan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat dan Kampung.

Arist mengatakan dalam pesan WA nya, Rabu (15/1), bahwa penganiayaan yang dilakukan oleh  Haris Silalahi warga  Desa Patane V Kecamatan Porsea Kabupaten Tobasa, terhadap putri kandungnya AS (9) mengakibatkan lebam di sekitar wajah, merupakan tindak pidana kekerasan fisik dan psikis.

“Dengan demikian, bersesuaian dengan pasal 76E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi, setiap orang dilarang menempatkan membiarkan melakukan menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak, HS (42) dapat diancam dengan pidana maksimal 15 tahun penjara,” sebut Arist Merdeka Sirait.

Lebih jauh diterangkannya, mengingat atas kekerasan fisik yang dialami AS,  pelakunya adalah orangtua kandung korban  sendiri, maka pidana pokoknya dapat ditambahkan seperti tiga dari pidana pokoknya menjadi kurungan penjara naksimal 20 tahun.

“Atas kerja cepat tim Resmob Sat Reskrimum Unit PPA Polres Polres Tobasa, dan sikap tegasnya yang mengatakan bahwa tidak ada toleransi dan kata damai terhadap segala bentuk kekerasan yang diikuti dengan penganiayaan terhadap anak, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga/institusi indepeden yang diberikan tugas dan fungsi untuk melindungi anak di Indonesia, memberikan apreasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Sat Reskrimum Unit PPA Polres Tobasa,” sebutnya.

Menurut pengakuan HS yang disampaikan  kepada penyidik Unit PPA, peristiwa kekerasan  fisik dan psikis yang diderita AS berawal dari hal yang sangat sepele dan umum, terjadi pada kehidupan anak-anak yakni pada Minggu 12 Januari 2020, korban AS (9) dituduh melakukan pemutusan kabel alat memasak. Tanpa bisa mengontrol emosi, HS ayah kandung korban kemudian melakulan pemukulan pada wajah mengakibat wajah korban lebam-lebam. Tak berhenti disitu,  pelaku juga  menendang korban dengan kaki.

Atas maraknya kasus-kasus pelangaran hak anak yang tidak dapat ditoleransi lagi  di Kabupaten Tobasa,  mulai dari kasus penelantaran, perebutan pengasuhan anak akibat perceraian,  eksploitasi anak untuk alternatif ekonomi keluarga, kekerasan  terhadap anak berupa kekerasan fisik dan seksual, serta kasus anak  terpapar dengan HIV dan AIDS, korban bahaya narkoba dan pornografi, serta meningkatnya anak  kecanduan gawai dan Game Online.

Maka, Komnas Perlindungan Anak mengajak Pemda Kabupaten Tobasa untuk segera mendeklarasikan Gerakan Perlindungan Anak berbasis keluarga dan kampung lintas profesi masyarakat, dan lintas  Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Tobasa.

“Untuk niat baik ini,  Komnas Perlindungan Anak akan segera melakukan kunjungan kerja ke Tobasa untuk membicara aksi ini kepada pimpinan daerah Tobasa, wakil rakyat (DPRD) Tobasa, dan aparatur penegak hukum,  tokoh adat dan gereja, serta Forkompimda  di Tobasa,” jelas Arist. (os/ahu)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker