Berita

Tergerak Hati kepada Pemulung, Pison Hawila Pardede Berbagi Sembako

FaseBerita.ID – Pison Pardede, Calon Anggota DPRD Kota Siantar Daerah Pemilihan II dari Partai Golkar, mengunjungi para pemulung di Tanjung Pinggir Kecamatan Siantar Martoba. Para pemulung ini memilih barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan untuk dijual kepada pengumpul barang bekas.

Selain TPA Tanjung Pinggir, mereka juga menyusuri sudut-sudut Kota Siantar, untuk memungut dan mengumpulkan barang bekas yang masih bernilai.

Dalam kunjungan di gudang botot milik Marga Nainggolan di Tanjung Pinggir, Rabu (13/3), Caleg Partai Golkar ini menyerahkan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari untuk meringankan sedikit beban para pemulung.

“Walau bantuan ini tidak banyak, namun kami iklas untuk berbagi,” kata Pison.

Dijelaskan Pison, dirinya tergerak ketika melihat ada beberapa anak kecil yang ikut bekerja untuk membantu orangtua atau bahkan untuk membantu dirinya sendiri, karena ibu atau mungkin ayahnya telah tiada.

Pison berharap, ke depan anak-anak yang bekerja jadi pemulung dan anak-anak yang orangtuanya pemulung, tetap bisa melanjutkan sekolah dan memiliki keahlian baru yang didapat dari sekolah.

“Pemerintah hendaknya lebih perhatian kepada warga yang benar-benar kurang mampu. Memberikan modal dan pelatihan untuk membuka lapangan kerja sendiri,” katanya.

Seorang pemulung bermarga Sinaga, kepada Pison mengatakan, pihaknya berterimakasih atas kunjungan Pison ke gudang pengumpul barang bekas.
“Kami ini bau,tapi Pak Pardede tetap mau ada di dekat kami,” katanya sambil memperbaiki celananya yg sudah  longgar.

Sementara T Boru sitanggang, istri dari pemilik gudang botot mengatakan, kedatangan Pison Pardede tidak disangka-sangka oleh mereka. Benar-benar mengejutkan dan menyentuh warga yang sedang mengantarkan barang hasil pulungannya.

“Mudah mudahan semakin banyak orang-orang yang tergerak hatinya untuk menolong meringankan beban sesama. Seperti Pison yang tergerak hatinya untuk berbagi kepada para pemulung ini. Saya sangat mengerti kehidupan pemulung ini, karena saya setiap harinya bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka,” katanya.

Ditambahkan Boru Sitanggang, kehidupan para pemulung jauh dari kata mencukupi. Bahkan kadang satu hari berkeliling, barang yang diperoleh hanya sedikit dan nilainya tidak seberapa.

“Kadang untuk makan sehari-hari pun tak cukup. Belum lagi yang punya anak, biaya sekolah dan makannya pasti sangat berat. Mereka itu membutuhkan perhatian pemerintah dan semua pihak yang mau berbagi,”katanya. (esa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button