Berita

Tenggelamnya Putri Sinambela: Keluarga Ikhlas, Diselesaikan secara Kekeluargaan

SIANTAR, FaseBerita.ID – Keluarga Putri Margretty Sinambela, korban tewas tenggelam di Danau Toba, ikhlas melepas kepergian siswi SMA Negeri 1 Pematangsiantar itu. Mereka tidak menuntut pihak sekolah, dan menganggap kejadian yang merenggut nyawa Putri sebagai musibah. Sehingga semuanya akan diselesaikan secara kekeluargaan.

Kesepakatan itu telah dibicarakan dalam pertemuan keluarga korban dengan pihak SMAN 1 Pematangsiantar, Selasa (24/9/2019).

“Jadi, kami dari pihak keluarga, yakni ibunya dan saya paman kandungnya telah jumpa sama pihak sekolah. Kami telah membicarakan hal ini, dan akan diselesaikan secara kekeluargaan. Mungkin ini sudah jalannya. Namanya juga musibah, tidak bisa kita hindari,” katanya tulang (paman dari pihak ibu) Putri, Viktor Sidabutar didampingi ibu kandung Putri, Netty Sidabutar.

Viktor menambahkan, bere (keponakan dari saudara perempuan)-nya itu selama ini merupakan anak yang baik, dan menurut sama orangtua.

“Tidak pernah tercoreng namanya di kampung dan juga di sekolah. Semoga dia (Putri, red) tenang di alam sana,” tukasnya.

Viktor juga mengucapkan terima kasih kepada pihak SMAN 1 Pematangsiantar yang telah membantu hingga proses pemakaman.

Terpisah, Kepala SMAN 1 Pematangsiantar Bona Sihombing, ketika dihubungi membenarkan pihaknya telah berbicara dengan keluarga korban.

“Akan kita selesaikan secara kekeluargaan, dan masalahnya sudah selesai,” katanya.

Sudah Izin Jauh-jauh Hari

Ibu kandung korban, Netty Sidabutar mengatakan, Putri sudah jauh-jauh hari memberitahu dirinya ia akan berkemah di kawasan Danau Toba. Putri, berangkat dari rumah mereka di Jalan Mangga, Kelurahan Pardamean, Kecamatan Siantar Marihat, Jumat (20/9/2019) sekira pukul 07.00 WIB. Putri pun berpamitan kepada ibunya.

Sesuai informasi, Sabtu (21/9/2019) Putri mengikuti semua kegiatan. Bahkan, sebelum kegiatan dimulai, yakni menjelang makan siang, Putri memimpin doa.

Usai makan siang, digelar kegiatan di dalam air Danau Toba. Ternyata, Putri dan lima temannya terlambat. Sehingga mereka mendapatkan barisan paling ujung, ke arah yang agak dalam.

Seluruh siswa bergandengan tangan. Tak lama, 15 siswa terjatuh ke air. Segera, para senior dan guru menolong para siswa tersebut. SIswa-siswa dibawa ke pinggir danau. Lalu, guru pembimbing menghitung jumlah siswa. Ketika diabsen, diketahui Putri tidak ada di tempat.

Para guru langsung melakukan upaya pencarian. Namun Putri tak ditemukan. Saat pihak sekolah bertanya kepada pihak hotel, malah dikatakan Putri telah izin pamit untuk jalan-jalan ke Ajibata.

Pihak sekolah segera mengejar ke loket-loket bus yang ada. Namun, Putri tak kelihatan. Sekali lagi ditanyakan ke pihak hotel, tetap juga dengan jawaban yang sama. Atas dasar itu, pencarian ke danau tidak dilakukan.

“Saat itu para guru dan saya panik. Minggu pagi, pihak sekolah dan saya curiga Putri ada di dalam air. Hingga kemudian dilakukan pencarian di air, dan Tim Basarnas menemukan Putri tenggelam, sekitar 21 meter dari tepi pantai,” ujar Viktor menambahkan keterangan ito-nya, Netty.

Belum Ada Sanksi

Atas kejadian ini, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara belum memberikan sanksi kepada pihak SMAN 1 Pematangsiantar, khususnya kepala sekolah selaku penanggungjawab kegiatan.

Namun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Pematangsiantar Darwin Purba mengatakan, kejadian tersebut telah disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

“Namanya juga musibah. Laporan kejadiannya sudah disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan. Soal sanksinya kepada kepala sekolah, belum ada sampai saat ini,” terangnya. (mag-03)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button