Berita

Suku Twa yang Terlupa

FaseBerita.ID – Bagi banyak orang, tragedi Rwanda 1994 adalah kisah pembantaian etnis Hutu kepada etnis Tutsi. Namun, ada yang sering terlupakan dari cerita itu. Suku Twa.

Suku Twa merupakan pribumi dengan jumlah terkecil di Rwanda. Saat pembantaian, kaum mereka juga menjadi korban meski mereka tak punya urusan apa pun. “Ketika kita memperingati genosida, kita hanya memperingati pembantaian para Tutsi,” ujar Amani Ndahimana kepada Washington Post.

Ndahimana ingin mengenang keluarganya di masa 100 hari berkabung. Namun, dia terkungkung aturan pemerintah Paul Kagame yang melarang rakyatnya menyebutkan suku dalam ranah publik. Aturan itu diberlakukan demi menghapus akar masalah diskriminasi yang menjadi pusara konflik masa lalu tersebut. “Tapi, kenapa saya harus menghadapi penjara untuk berkabung untuk keluarga saya sendiri?” ucapnya.

Sebelum pembantaian, hidup suku Twa dipenuhi diskriminasi. Mereka bertahan hidup dengan berburu dan menjual madu dari hutan tropis. Saat konflik pecah, beberapa di antara mereka tewas karena menjadi tetangga suku Tutsi. Sebagian lainnya dipaksa bergabung dengan tentara Kagame atau milisi Hutu.

Alhasil, 10 ribu jiwa dari kaum Twa melayang. Memang, angka itu tak sedahsyat korban Tutsi yang mencapai 800 ribu. Namun, total populasi suku tersebut hanya sekitar 30 ribu di Rwanda. ”Setelah genosida, yang tertinggal hanyalah anak-anak dan perempuan tua. Secara proporsi, mereka lebih menderita daripada kelompok lainnya,” ujar Jerome Lewis, antropolog pakar suku Twa dari University College London.

Pemerintah memang sudah mengeluarkan larangan untuk menyebut identitas suku warga Rwanda di depan umum. Namun, hingga sekarang, orang-orang Twa ini tetap terpinggirkan. Banyak di antara mereka diusir dengan alasan perlindungan hutan. Bahkan, 90 persen suku Twa tak punya tanah pribadi. Di beberapa wilayah, mereka bahkan tak diizinkan untuk menggunakan perkakas atau duduk di tempat yang sama.

Saat pemerintah mengumumkan peluncuran bantuan korban berupa jaminan pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan pada 1998, mereka juga tak dianggap. “Kami pernah mencoba mengajukan diri agar mendapat kompensasi. Mereka malah bilang, kematian keluarga kami hanya kecelakaan,” ujar Shaban Munyarukundo, advokat di Rwandese Community of Potters (COPORWA). (jp)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button