Berita

Sudah Ratusan Suket Rapid Test Palsu Dicetak

FaseBerita.ID – Sejak beraksi mulai 22 Juni 2020, EWT (49) yang merupakan oknum ASN yang menjadi tersangka pemalsuan surat keterangan (suket) rapid test palsu, telah mencetak ratusan lembar suket yang ditujukan kepada calon penumpang kapal tujuan Sibolga-Nias.

Meski begitu, suket rapid test palsu yang dikeluarkan untuk penumpang kapal baru berjumlah puluhan. Disebutkan, Niat tersangka mengeluarkan suket palsu bermula saat seseorang bernama Pius datang ke Klinik Yakin Sehat dan menanyakan apakah klinik tersebut bisa mengeluarkan suket rapid test.

Baca: Surat Rapid Test Palsu Beredar, Polres Sibolga Tangkap 2 Pelaku

Karena Klinik tersebut tidak bisa mengeluarkan suket rapid tets, timbul niat tersangka untuk mengeluarkan suket palsu, mengingat tersangka bekerja di bagian Laboratorium di RSUD Pandan dan juga di Klinik Yakin Sehat yang terdapat di Kelurahan Sibuluan, Kecamatan Sarudik, Tapteng.

“Atas dasar itulah timbul niat pelaku mengeluarkan suket palsu dengan mencetak kop surat milik RSUD Pandan dan memalsukan tanda tangan dokter RSUD Pandan bagian laboratorium,” terang Kasat Reskrim Polres Tapteng, AKP Sisworo kepada wartawan di Mapolres Tapteng, Senin (29/6).

Adapun modus kerja dari tersangka, sambung Sisworo, dengan menyuruh seseorang perawat yang bekerja di Klinik Yakin Sehat untuk mengambil sempel darah calon penumpang kapal di salah satu rumah warga, di Kota Sibolga.

Setelah darah diambil, lalu diserahkan kepada tersangka EWT. Selanjutnya tersangka mengeluarkan surat keterangan hasil rapid test.

“Terhitung sejak Senin hinga Sabtu, pelaku sudah mencetak ratusan suket palsu. Namun yang dikeluarkan kepada para calon penumpang yang hendak berangkat ke Pulau Nias berjumlah puluhan,” timpal Sisworo.

Menurut Siaworo, terungkapnya kasus suket rapid test terjadi pada hari Sabtu 27 Juni 2020. Saat pemeriksaan di pelabuhan Sibolga, suket yang dipegang calon penumpang tidak memiliki nomor registrasi. Akibatnya, puluhan calon penumpang gagal berangkat ke pulau Nias. Namun, suket yang dikeluarkan tersangka mulai hari Senin-Jumat, lolos di pelabuhan Sibolga dimana penumpangnya sudah menyeberang ke pulau Nias.

“Sebahagian penumpang sudah berangkat dengan menggunakan suket yang dikeluarkan tersangka. Baru pada hari Sabtu lalu terjadi keributan di Pelabuhan Sibolga yang menyebutkan suket tersebut palsu karena tidak ada nomor registernya,” terang Sisworo.

Dari hasil pengakuan tersangka, sambung Sisworo, semua pemeriksaan darah dilakukan di klinik Yakin Sehat dengan menggunakan rapid test yang dibelinya secara online seharga Rp160-Rp190 per unit. Sedangkan tarif untuk satu suket dikenakan biaya Rp200-250 ribu per lembar.

“Jadi sudah ada ratusan suket yang dikeluarkan tersangka, dan semuanya dikerjakan tersangka di Klinik Yakin Sehat. Dan sejumlah alat bukti seperti komputer, printer, rapid test, surat keterangan, stempel, dan jarum suntik untuk mengambil darah sudah kita sita,” kata Sisworo.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, kedua tersangka untuk sementara waktu ditahan di Mapolres Tapteng. Keduanya terancam pasal 263, sub 268 ayat (1) dan pasal 55. Pihak kepolisian juga terus mengembangkan kasus tersebut termasuk keterlibatan agen yang mengarahkan penumpang untuk melakukan rapid test kepada tersangka.

Terlilit Utang ke Rentenir

EWT, tersangka pemalsuan surat keterangan (suket) hasil rapid test yang saat ini ditahan di Mapolres Tapanuli Tengah (Tapteng) mengaku nekat memalsukan syarat dokumen perjalanan tersebut dikarenakan lilitan hutang. Warga Kelurahan Hutabalang, Kecamatan Badiri, Tepteng, yang juga bertugas di RSUD Pandan itu menegaskan jika aksi yang dilakukannya tidak ditunggangi oleh pihak manapun.

“Tidak ada yang mengajari. Niat itu timbul begitu saja karena saya terlilit utang kepada rentenir,” ujar EWT, Senin (29/6) lalu.

Dari hasil mengeluarkan suket rapid test palsu itu, EWT mengaku sudah mencicil utangnya sebesar Rp2,5 juta.

Hanya saja ia tidak menjelaskan berapa jumlah utangnya saat membuka usaha galian C di daerah Pinangsori.

Ia pun menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah, dan tidak terpikir sampai berakibat fatal seperti sekarang ini. Dengan raut wajah sedih, ibu satu anak ini mengaku menyesal.

Sementara itu, pengakuan MAP (30), tersangka lainnya, yang bekerja sebagai perawat di Klinik Yakin Sehat Sibuluan mengatakan, selama disuruh EWT melakukan pengambilan sampel darah, dia telah menerima uang sebesar Rp700 ribu. MAP juga mengaku jika dia hanya bertugas mengambil sampel darah. Selebihnya dia tidak tau apa yang diperbuat EWT.

“Dua kali saya disuruh untuk mengambil sampel darah. Pertama saya diberikan uang Rp200 ribu, dan yang kedua diberikan Rp500 ribu,” ungkapnya.

MAP memaparkan, perkenalannya dengan EWT karena mereka sama-sama bekerja di Klinik Yakin Sehat. Tersangka tidak menyangka bahwa niatnya membantu EWT akan berujung seperti saat ini. Pun demikian kata MAP, dia sudah memaafkan perbuatan EWT yang melibatkan dirinya dalam kasus suket rapid test palsu itu. “Sedikit pun tidak ada niat saya untuk melakukan penipuan, karena saya tidak tahu untuk apa darah itu di ambil. EWT minta tolong makanya saya mau,” imbuh MAP. (tam)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close