Berita

Subsidi Listrik jangan Berhenti hingga Desember

FaseBerita.ID – Periode diskon tarif listrik untuk pelanggan PLN bersubsidi 450 VA dan 900 VA akan selesai pada Desember 2020. Sementara pandemi Covid-19 dan dampak ekonomi belum menunjukkan tanda tanda berakhir.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah memperpanjang periode diskon tarif listrik sampai 2021 mendatang. “Diskon tarif listrik ini sangat meringankan beban 31,6 juta masyarakat tidak mampu yang terkena dampak pandemi. Karena itu perlu terus dilanjutkan sampai 2021, jangan berhenti sampai Desember 2020 ini saja,” kata Eddy, Jumat (2/10).

Eddy menjelaskan, program ini sudah diperpanjang dari sejak April ke September dan September ke Desember dengan pertimbangan pandemi belum berakhir.

“Pertimbangan yang sama bisa digunakan Pemerintah untuk memperpanjang diskon tarif listrik sampai 2021. Karena vaksin paling cepat tersedia baru di bulan Desember dan itupun masih harus melewati serangkaian proses hingga paruh pertama tqhun 2021 sampai akhirnya disuntikkan ke puluhan juta warga masyarakat. Tidak ada yang bisa menjamin keberadaan vaksin lantas membuat ekonomi bisa segera pulih,” jelasnya

Untuk itu, Eddy mendesak pemerintah segera menyiapkan paket regulasi perpanjangan Diskon tarif listrik untuk 450 VA dan 900 VA bersubsidi sampai 2021, bahkan untuk pelanggan. Sekjen DPP PAN ini juga menceritakan, setiap kali reses turun ke Dapil, warga menyampaikan harapan dan aspirasi agar bantuan diskon tarif listrik bisa  dilanjutkan

“Ketika menyapa warga di Dapil, mereka ceritakan bagaimana pembatasan mobilitas sosial membuat pekerjaan dilakukan dari rumah dan sekolah pun dari rumah. Beban listrik pun meningkat signifikan. Belum lagi pelaku usaha mikro kecil yang produksinya terpusat di rumah. Diskon tarif listrik ini adalah bagian dari upaya menjaga ketahanan ekonomi dari dampak pandemi,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, pelanggan golongan rendah menikmati penurunan tarif listrik adjustment mulai kemarin (1/10). PLN menetapkan harga baru yang berlaku hingga Desember. Dengan ketentuan, tarif golongan rendah turun Rp 22,3 per kWh dari Rp 1.467 per kWh turun menjadi Rp 1.444,70 per kWh.

Executive Vice President Communication and CSR PLN Agung Murdifi menuturkan, pemerintah dan PLN ingin memberikan ruang bagi pelanggan golongan rendah agar dapat lebih banyak memanfaatkan listrik untuk menunjang kegiatan ekonomi dan kegiatan keseharian.

”Listrik sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat saat ini. Seluruh aktivitas masyarakat ditopang pasokan listrik,” katanya kemarin. Tidak ada ketentuan khusus bagi pelanggan yang ingin mendapatkan harga baru tersebut.

Pelanggan yang mendapatkan penurunan tarif listrik itu, antara lain, R (rumah tangga)-1 TR (tegangan rendah) 1.300 VA, R-1 TR 2.200 VA, R-2 TR 3.500 VA–5.500 VA, R-3 TR 6.600 VA, B (bisnis)-2 TR 6.600 VA–200 kVA, P (kantor pemerintah)-1 TR 6.600 VA–200 kVA, dan P-3 /TR. Pelanggan rumah tangga daya 450 VA memperoleh diskon 100 persen atau digratiskan dan pelanggan rumah tangga daya 900 VA bersubsidi mendapatkan diskon 50 persen yang dimulai sejak April. Keringanan juga diberikan kepada pelanggan bisnis kecil daya 450 VA dan industri kecil daya 450 VA dengan diskon 100 persen.

Sementara itu, menurut pengamat energi Komaidi Notonegoro, penurunan tarif listrik kali ini dilandasi keinginan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. ”Pemerintah sebenarnya lebih berkeinginan agar ekonomi bergeliat,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Di tengah impitan ekonomi yang melemah, kebijakan penurunan tarif itu diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dan mendukung stabilitas ekonomi nasional. Terlebih, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV akan minus dan memasuki fase resesi.

Komaidi menjelaskan, tarif listrik diturunkan pemerintah di tengah ruang fiskal yang terbatas. ”Agak berat sebenarnya kondisi ruang fiskal. Tapi, memang pemerintah mencoba berbagai instrumen. Salah satunya ya penurunan tarif ini. Ruang fiskalnya sebenarnya nggak ada juga karena penerimaan negara kan turun semua,” jelasnya. (jp)





Back to top button