Berita

Stadion Sangnaualuh Habiskan Anggaran Rp22 M

Belum Juga Rampung dan Ditumbuhi Semak Belukar

SIANTAR, FaseBerita.ID – Pembangunan Stadion Sangnaualuh kebanggaan Kota Pematangsiantar masih belum rampung dikerjakan. Mulai dari tahun 2017 sebanyak Rp22 miliar telah dikucurkan untuk pembangunan stadion pertama yang direncanakan bertaraf Nasional itu.

Pembangunan stadion Sangnaualuh dalam situs web LPSE mulai dikerjakan tahun 2017 dengan anggaran Rp10 miliar. Pada tahun 2018 sebanyak Rp6 miliar.

Lalu, berlanjut tahun 2019 dengan anggaran Rp4 miliar. Pembangunan ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD Kota Pematangsiantar.

Stadion Sangnaualuh yang berada di Jalan KS Tubun sudah mulai kembali direnovasi. Stadion yang sudah dicat dengan dasar putih, merah, dan hitam ini tampak ada pembangunan di sisi tribun timur. Pekerja masih melakukan kegiatan, meskipun sudah lewat dari perjanjian.

Sayang, Lapangan Stadion Sangnaualuh masih dipenuhi semak belukar. Tidak ada pekerja yang membersihkan rumput yang semakin meninggi itu.

Pepohonan juga tampak tumbuh di sisi-sisi lapangan. Pekerjaan ini dilakukan oleh CV Jadi Maju. Hanya saja, informasinya pengerjaan stadion yang telah menghabiskan anggaran sebesar Rp22 miliar dikabarkan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Pengamat Pemerintahan Kota Pematangsiantar Goklif Manurung yang juga pernah menjadi Junior klub sepakbola Persesi Pematangsiantar menilai, tidak ada kompetisi yang dibangun untuk mendukung pembangunan stadion itu.

Menurutnya, pembangunan stadion itu tidak dengan perencanaan yang matang. Sehingga stadion yang belum rampung itu menjadi lokasi negatif bagi sebagian orang.

“Dibangun stadion tapi kompetisi bola tidak berjalan. Untuk apa? Ada kesan bahwa pembangunan stadion itu tidak melalui perencanaan matang. Akan menjadi pembangunan sifatnya negatif. Kalau untuk konser untuk apa dibangun di sana,” ujarnya.

Goklif mengatakan, Pemko Pematangsiantar perlu berkoordinasi dengan Koni untuk menyemarakkan sepakbola. Dia juga menilai pengerjaan saat ini terkesan terburu-buru. Karena, durasi pengerjaan yang 29 hari dapat menguragi kualitas stadion.

“Durasi pengerjaan 29 hari dengan anggaran Rp4 miliar. Coba kita bayangkan 23 hari dengan biaya Rp4 miliar itu bisa dibilang gimana pengerjaannya. Dengan kontruksi yang maraton tidak dengan kontruksi yang sesuai, maka akan membahayakan masyarakat. Besok-besok ada kegiatan di situ juga aku takut,” katanya.

Kejar Target 2024

Sementara Ketua KONI Pematangsiantar Jayadi Sagala mengharapkan pembangunan itu cepat terealisasi untuk menyambut PON 2024.

“Kita berharap pembangunan stadiun itu cepat terealisasi untuk mengejar target 2024. Kita harap bisa dipakai untuk para atlet,” katanya.

Jayadi mengaku selama ini tidak ada wadah bagi atlet di Kota Pematangsiantar. Sehingga, sering memanfaatkan fasilitas publik dan milik sekolah.

“Atlet di siantar ini banyak. Wadah gak ada,” ucapnya.

Berbeda disampaikan Wakil Ketua DPRD Pematangsiantar Mangatas Silalahi. Ia menilai molornya pembangunan stadion dari perjanjian kerja memberikan denda kepada pihak pemborong. Dimana anggaran itu semua berasal dari pusat.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Renward Simanjuntak mengaku tidak tahu histori pembangunan stadion.

Pejabat Eselon IIa yang baru dilantik menjadi Kadis PU tidak ingin menanggapi tentang anggaran yag sudah menghabiskan Rp22 miliar.

“Belum sempat aku pelajari soal itu. Saya belum tahu. Takut salah ngomong,” sebutnya.

Renward mengatakan untuk pembangunan Stadion Sangnaualuh membutuhkan anggaran hingga Rp60 miliar. Ia juga menyayangkan tidak adanya anggaran untuk kebersihan lapangan seperti memotong rumput.

Padahal, jika dibersihkan selama ini, lapangan itu sudah dapat dimanfaatkan para klub sepakbola.

“Tanah lapangnya saja nggak diurus. Siapa yang mau make. Semak belukar semua. Saya lagi menggodok untuk mengajukan ke pusat melalui Menpora. Kalau butuh Rp60 miliar perlu diperjuangkan. Kasih saya waktu dulu untuk memahami semua itu,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Pematangsiantar Daud Simanjuntak juga angkat bicara mengenai masalah ini. Dia justru berharap agar dinas terkait lebih memprioritaskan yang sudah ada agar segera dimanfaatkan.

“Lapangannya dulu dong dibenahi. Kalau lapangan sudah dibenahi, jelas bisa dimanfaatkan. Barulah sarana lainnya dilengkapi. Jangan dibiarkan begitu-begitu saja. Jadi uang rakyat itu terkesan sia-sia. Harusnya lapangan dulu yang bangun baru tribun,” tegasnya.

Dia menilai, bila lapangan sudah bisa dimanfaatkan pasti bisa mendongkrak perekonomian masyarakat. Misalnya, jika ada event, otomatis akan menumbuhkan perekonomian masyarakat dan bisa menambah masukan ke Pemko Pematangsiantar.

“Jadi asas pemanfaatan itu dululah yang dikejar agar bisa digunakan dan dimanfaatkan sesuai dengan spesifikasinya. Tentu ada skala prioritas. Ini juga akan kita bahas di RDP minggu depan. Akan kita pertanyakan, dengan anggaran yang sebesar itu, apa yang sudah ada di stadion tersebut,” tegasnya. (Mag 04)

iklan usi



Back to top button