Berita

SMAN 2 Meranti Asahan Disebut Jualan LKS: 14 Buku Senilai Rp 133ribu

FaseBerita.ID – SMA Negeri 2 Meranti yang terletak di Desa Gajah, Kecamatan Meranti Kabupaten Asahan diduga dagangkan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Adanya dugaan tersebut dihimpun dari beberapa siswa SMA Negeri 2 Meranti yang mengaku dipinta oleh pihak sekolah untuk membeli LKS kepada salah satu warga Meranti.

Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 2 Meranti Budi Kuspriyanto membantah hal tersebut. Ia tidak merasa kalau pihak sekolah ada memerintahkan para siswa/siswinya untuk membeli LKS di salah satu tempat.

“Tidak ada bang, saya tidak pernah memerintahkan siswa/siswi kami untuk membeli LKS. Atau tidak gini aja, jumpakan saya dengan murid itu,” jelas Budi.

Kemudian, saat disinggung terkait uang paket data untuk belajar daring, Budi mengaku belum sepenuhnya memberikan kepada seluruh murid. “Untuk uang paket data kita kasih kepada guru. Kemudian untuk murid hanya ada 40 siswa saja dari 210 siswa senilai 25 ribu dengan kuota 35 GB,” katanya.

Sementara, dari hasil investigasi wartawan bahwa benar adanya penjualan LKS dan beberapa atribut lainnya oleh masyarakat biasa yang tinggal di Jalinsum Mendan-RantauPrapat, tepatnya di wilayah Simpang Aek Beluru, Kecamatan Meranti.

Penjual tersebut juga bukan merupakan toko atau atau koperasi sekolah melainkan hanya rumah biasa yang menyediakan LKS dan perlengkapan sekolah lainnya.

Terdapat harga LKS tersebut sebanyak 14 buku senilai Rp 133ribu, kemudian baju olahraga-batik seharga Rp 245ribu dan atribut berupa topi, dasi, simbol serta tali pinggang seharga Rp85ribu.

Padahal, dalam Pasal 181 Peraturan Pemerintah No 17 tahun 2010 yang menerangkan bahwa, penyelenggara dan tenaga pendidik, baik perorangan maupun kolektif dilarang menjual buku pelajaran, perlengkapan pelajaran, bahan pelajaran, serta pakaian seragam di tingkat satuan pendidikan. Aturan tersebut juga tercatat dalam Permendikbud Nomor 8 tahun 2016 tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan.

Direktur LBH Publik Asahan Tanjungbalai Fadli Harun Manurung mengatakan bahwa hal tersebut diyakininya adanya kerjasama antara pihak sekolah dengan penjual LKS tersebut.

“Pastinya ada kerjasama antara sekolah dengan penjual LKS ini. Logikanya, dari mana penjual LKS itu mendapatkan bahan LKSnya?,” untai Fadli.

Fadli menduga bahwa SMA Negeri 2 Meranti telah kerjasama untuk mendatangkan LKS dengan salah satu masyarakat yang menjual LKS tersebut.

“Pasti pihak sekolah dengan masyarakat ini kerjasama untuk berdagang LKS. Hal ini ditindaklanjuti sesuai dengan undang-undang. Setahu saya perusahaan penjual buku itu sudah diatur dalam Peraturan Menteri. Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Meranti ini harus dilaporkan dan dievaluasi,” cetusnya. (bay/rah)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button