Berita

Sidang Pembunuhan Karyawati BSM Jaksa Hadirkan Enam Saksi

TAPTENG, FaseBerita.ID – Sidang kasus pembunuhan terhadap Santi Devi Malau, karyawati Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Pandan, Tapteng, di gelar di Pengadilan Negeri Sibolga, Senin (18/11/2019) lalu.

Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi ini dipimpin Hakim Ketua Martua Sagala, didampingi Hakim Anggota David Obaja Sitorus dan Marolop Bakkara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syakrul Efendy Harahap, menghadirkan 6 saksi disertai alat bukti yang dipakai terdakwa saat menghabisi nyawa korban. Di antara ke enam saksi terdapat ayah kandung korban Maslan Malau. Dua saksi lain yakni, Abdul Rahman Siahaan dan Khadizah Sitompul merupakan karyawan Bank Syariah Mandiri Cabang Pandan.

Kemudian dua lainnya yakni Hernita Novita Sari Panggabean dan Syahrial Efendi adalah karyawan UD Sahata, pemilik rumah kos-kosan yang di tempat in korban semasih hidup. Sedangkan satu saksi lain yakni Herianto, merupakan warga Kecamatan Pandan. Sehari sebelum korban ditemukan tewas, Herianto melihat terdakwa DP kusuk di sekitar lokasi kos-kosan.

Dalam keterangannya di persidangan, dari masing-masing saksi di peroleh keterangan yang sama yakni, korban ditemukan dengan posisi telentang di kamar mandi. Saksi Abdul Rahman Siahaan mengaku pertama kali melakukan pengecekan ke kos-kosan korban atas perintah pimpinannya di Bank Syariah Mandiri.

“Saat briefing pagi korban tidak ikut, sementara handphonenya tidak aktif. Saya disuruh pimpinan melihat ke kos, namun terkunci. Saya ketuk tidak ada sahutan dari dalam,” ujarnya, sembari menambahkan jika korban adalah termasuk karyawan disiplin yang selalu on time.

Melihat kondisi itu, ia pun memutuskan kembali menemui pimpinannya di Bank Syariah Mandiri sembari menceritakan kondisi yang ia alami. Selanjutnya untuk kedua kalinya Abdul Rahman mendatangi kos korban bersama Khadijah Sitompul (karyawati BSM, red) untuk mencek keadaan korban.

“Kami gedor lagi pintunya, tapi tetap nggak dibuka. Kami pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar kos korban bersama warga,” timpalnya.

Setelah pintu berhasil dibuka, ia bersama warga masuk ke kamar kos korban. Santi Devi Malau terlihat tergeletak dengan posisi terlentang di dalam kamar mandi. Selanjutnya Abdul Rahman dan warga memberitahukan penemuan itu ke polisi.

Baca sebelumnya: 

Yang menarik kesaksian dari Hernita Novita Sari Panggabean. Wanita pengurus rumah kos-kosan ini menyebutkan jika sore hari menjelang magrib, Kamis (13/6), terdengar suara benda-benda yang dilemparkan dari kamar kos nomor 5. Diketahui kamar kos nomor 5 ditempati kedua terdakwa DP dan NN. Saat dikonfrontir Ketua Majelis Hakim, pasangan suami istri ini mengakui saat itu mereka sedang bertengkar.

Meneteskan Air Mata

Maslan Malau yang merupakan ayah korban, dalam kesaksiannya menyebutkan jika korban pernah melaporkan kehilangan jam tangan dari kos-kosannya. Maslan terakhir kali berinteraksi dengan korban satu minggu sebelum peristiwa pembunuhan yang menimpa karyawati cantik itu terjadi.

Di sela-sela kesaksiannya, Maslan terlihat meneteskan air mata yang membuat Hakim Ketua Martua Sagala spontan mengucapkan belasungkawa atas kejadian yang menimpa keluarga pria penggemar olahraga bulutangkis ini.

“Saya mengetahui peristiwa tersebut setelah pihak Bank Syariah Mandiri menghubungi saya melalui telepon seluler,” kata Maslan sembari menghapus air mata yang berurai di pipinya.

Sidang Molor, Keluarga Korban Kecewa

Sidang kasus pembunuhan terhadap Santi Devi Malau molor hingga enam jam. Sidang yang mengagendakan mendengarkan keterangan saksi-saksi tersebut dijadwalkan sekira pukul 10.00 WIB. Namun, hingga pukul 15.49 WIB sidang tak kunjung dimulai.

Salah seorang keluarga korban, Dzulfadli Tambunan, mengaku kecewa dengan kondisi itu. Ia bersama ayah korban mengatakan telah hadir sejak pukul 09.30 WIB. Tidak puas, Dzulfadli Tambunan sempat mendatangi petugas pelayanan PN Sibolga. “Undangan jadwal sidang yang datang sama kami pukul 10.00 WIB, tapi hingga pukul 16.00 WIB sidang juga belum dimulai. Padahal jarak dari Sibabangun ke PN Sibolga cukup jauh,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang pegawai bagian pelayanan PN Sibolga menyebutkan, jika molornya jadwal sidang dengan nomor perkara 302/Pid.B/2019/PN Sbg, disebabkan telatnya kedatangan JPU dan terdakwa. “Tahanan tadi terlambat datang, JPU-nya pun begitu,” kata perempuan yang mengenakan kemeja hijau tersebut. (tim)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close