Berita

Si Kantuk Dingin Ditahan Polisi

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Polisi akhirnya menahan ‘Si Kantuk Dingin’, kakek berusia sekitar 70 tahun yang melakukan pelecehan seksual terhadap F, bocah yang kini masih duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hal tersebut dikatakan Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hariandja dalam keterangan persnya melalui Kasubbag Humas Iptu Ramadhansyah Sormin. “Sudah ditahan,” kata Sormin, Kamis (15/8/2019).

Penahanan dilakukan setelah beberapa saksi yang mengaku melihat kejadian tersebut diperiksa oleh penyidik.

“Kemarin kan, katanya ada saksi, ternyata setelah mau diperiksa, dia gak mau. Makanya, harus ada dulu saksi, yang pernah.melihat berduaan,” pungkasnya.

Terkait ancaman warga yang mengatakan akan membakar Si Kantuk Dingin, bila ternyata polisi membebaskannya, Sormin mengingatkan agar masyarakat tidak bertindak sendiri. Karena, pihaknya juga akan memproses hukum terhadap siap pun yang main hakim sendiri. “Siapa yang melakukan, akan kita proses. Makanya, jangan main hakim sendiri. Percayalan proses hukumnya kepada kami,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang pria nyaris tewas dimassa warga di Gang Kenanga, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan, Selasa (13/8) sekira pukul 22.00 WIB. Beruntung polisi cepat datang dan membawanya ke kantor polisi. Persoalan bermula saat pria yang digelar si ‘kantuk dingin’ itu ketahuan mencabuli seorang anak. Parahnya kejadian sudah berulang selama bertahun-tahun.

Menurut keterangan warga, korban berinisial F yang kini duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) tinggal bertetangga dengan pelaku yang akrab disapa ‘Si kantuk dingin’ itu. Kejadian tersebut terbongkar, saat salah seorang warga memergoki F berduaan dengan pelaku pada malam takbiran perayaan Idul Adha 1440 H, Sabtu (10/8/2019) lalu.

Warga yang curiga kemudian memberitahukan hal tersebut kepada keluarga korban. Kemudian, keluarga bersama dengan warga mendatangi rumah pelaku dan menanyakan maksudnya membawa F pada malam takbiran itu. Namun, pelaku saat itu tidak mengakui.

“Ada yang melihat mereka bersama malam takbiran itu. Kami tanyalah dia (Si Kantuk Dingin), tapi dia gak mengakuinya,” kata seorang wanita, yang mengaku masih keluarga dekat korban.

Tak puas dengan jawaban korban, massa kemudian mempertanyakannya langsung kepada korban. Setelah dibujuk untuk berterus terang, korban pun mengakui kalau dirinya sudah sering ‘digituin’ pelaku.

“Kami tanyalah dia, diapakannya kau. Diakuinya lah, ‘diginikannya’ aku,” ungkapnya menirukan pengakuan korban malam itu.

Mendengar pengakuan korban, massa kembali mendatangi rumah pelaku. Karena takut diamuk massa, korban bersembunyi dalam rumahnya. Bahkan, untuk mengelabui massa, pelaku menggembok rumahnya dari luar dan dia bersembunyi di dalam, seakan tidak ada orang di rumah tersebut.

“Kami dobraklah rumahnya, sampai terbuka pintunya. Rupanya lagi bersembunyi dia di bawah meja. Pura-pura dikuncinya pintu rumahnya dari luar, dikiranya kami gak tahu,” ketusnya.

Baca juga: ‘Si Kantuk Dingin’ Nyaris Tewas Dimassa

Massa yang sudah gerah dengan ulah ‘Si Kantuk Dingin’ langsung melampiaskan amarahnya dengan menghadiahinya pukulan bertubi-tubi. Beruntung polisi segera datang dan membawa pelaku ke kantor polisi. “Kalau gak datang semalam polisi, sudah mati kami buat dia,” katanya.

Amarah warga bukan tanpa alasan. Mereka mengaku gerah dengan ulah pelaku karena kejadian 17 tahun yang lalu kembali terulang. Pelaku ternyata sudah pernah di penjara karena kasus yang sama.

“Ini yang kedua kali. Baru keluar penjara ini. Dipenjara dia 15 tahun. Makanya kami panggil dia Si Kantuk Dingin, karena begini saja kerjaannya,” ketusnya.

Hal senada juga dikatakan Lela Sari Zebua, warga lainnya. Dia mengaku, pernah melihat korban yang merupakan anak yatim dan pelaku masuk ke rumah pelaku. “Aku saksinya, kulihat berdua orang itu masuk ke rumah itu,” aku Lela.

Hal tersebut pun dibenarkan korban. Dia mengaku telah ‘digituin’ pelaku sejak masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD). “Sudah sering, mulai kelas VI SD lah,” kata F.

Kejadian terakhir katanya, saat dia masih duduk di bangku kelas VIII SMP dan perbuatan bejat tersebut selalu dilakukan di rumah pelaku. “Di rumahnya itunya semua. Terakhir kelas 2 SMP lah aku,” ungkapnya.

Masih kata korban, setelah beranjak ke kelas IX beberapa bulan lalu, korban mengaku trauma setiap kali melihat pelaku. Korban seperti ketakutan, bila melihat wajah pelaku. Dia masih ingat, saat pertama kali dia ‘digituin’ pelaku. Dan anehnya korban mengaku seperti dihipnotis. Karena, selalu menurut bila pelaku mengedip mata padanya lalu meludah ke tanah.

“Tandanya, ditundukkannya kepalanya, meludah dia baru dikedipkannya matanya. Menurut saja aku diajaknya,” pungkasnya. (ts)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close