Berita

RIP Ibunda Hinca Panjaitan: Omak Sosok Sederhana dan Tegas Soal Narkoba

FaseBerita.ID – Nuriana Oren Siagian, ibunda dari tokoh nasional Hinca IP Panjaitan yang merupakan Sekretaris Umum DPP Partai Demokrat telah meninggal dunia, Jumat (14/2).

Nuriana tutup usia 83 tahun, lahir pada 7 Desember 1937. Kepergian Nuriana meninggalkan anak 8 orang anak, 5 diantaranya perempuan dan 3 laki-laki, salah satunya adalah Tokoh Nasional Hinca Panjaitan.

Ibundanya Anggota DPR RI Fraksi Demokrat itu meninggal di Rumah Sakit Colombia Medan pada pukul 11.00 WIB dan dibawa ke rumah duka Jalan Budi Utomo, Mutiara, Kisaran, Kabupaten Asahan.

Warga sekitar silih berganti datang ke rumah duka untuk melayat dan menymapikan ucapan turut berdukacita.
Saat diwawancarai, Sabtu (15/1/2020), tokoh nasional yang berasal dari Kabupaten Asahan itu menjelaskan, meninggal dunia ibundanya itu dikarenakan sudah tua, badan dan fisiknya sudah tidak kuat.

“Badan dan fisik omak saya sudah ndak kuat, karena sudah tua, tapi otak dan pikirannya sebelum beliau meninggal masih sangat kuat dan jernih,” sebut Hinca.

Dari kisah hidup Nuriana, Hinca banyak menjelaskan bahwa banyak sekali kesan yang ditinggalkan oleh ibunya di dunia ini. Berbagai nasehat telah dilontarkan terhadap anak dan orang sekelilingnya.

“Kami tinggal disini bersama orang tua kami sejak kami masih kecil, di sini kami tinggal, di rumah kecil ini kami dididik oleh orang tua kami. Hingga kini kami mau bangun rumah ini menjadi sedikit besar tapi gak di kasih oleh ibu kami,” jelas Hinca sambil menunjuk rumah orangtuanya.

Hinca yang juga merupakan mantan Penasehat Hukum Metro Siantar Group itu menjelaskan kesan dan pesan dari sang ibunya bahwa ibunya selalu berpesan agar anak-anaknya tidak menggunakan narkoba, bukan hanya narkoba, anak-anaknya juga dilarang merokok.

“Minggu lalu saya ke sini, dan saat itu Ibu atau yang biasa saya panggil omak mengeluh kepada saya bahwa di depan rumahnya adalah perkebunan sawit, di situ sering terlihatnya anak-anak menggunakan narkoba. Kemudian omak meminta kepada saya agar Polisi bertindak, minimal ada foto polisi di sini. Saya langsung temui Kapolres dan sekarang sama-sama kita lihat sudah ada foto Kapolda Sumut di sini dan ini adalah permintaan saya kepada Kapolres Asahan untuk Omak saya. Karena omak saya sangat peduli dengan itu,” kata Hinca.

Hinca menerangkan bahwa foto Kapolda Sumut bertujuan untuk menakut-nakuti anak-anak pengguna narkoba.

“Foto itu tujuan nya agar Omak saya bisa menakut-nakuti anak-anak penggunaan narkoba, pastinya Omak saya akan bilang, hei anak-anak, jangan kalian narkoba, kalian lihat itu fotonya, nanti saya laporkan kalian sama Kapolda itu,” terang Hinca sambil menunjuk baliho Kapolda Sumut yang terpampang di seberang jalan kediaman orang tua Hinca.

Terkait tempat keberangkatan Nuriana, Hinca tetapkan di kediaman orang tuanya itu, sebab menurutnya rumah tersebut sangat bersejarah baginya dan keluarganya.

“Meninggalnya ayah saya juga diberangkatkan dari rumah ini, bahkan satu minggu sebelum ayah saya meninggal sempat meminta agar rumah dan perkarangan harus dibersihkan. Banyak kesan dari rumah ini, kami tinggal dari kecil disini, kami tinggal di sini sejak tahun 1977, awalnya orang tua kami belum punya rumah sampai ada rumah,” jelasnya lagi.

Hinca menceritakan dulu Nuriana berprofesi sebagai Guru Sekolah Dasar (SD) dengan status PNS dan hingga kini gaji pensiunan nya juga masih ada.

“Saya sering mau kasih uang sama omak, tapi omak tak mau nerima nya dan omak saya bilang kalau dia masih punya uang dari gaji pensiunannya,” ungkapnya.

Terakhir Hinca mengatakan bahwa proses pemakaman Ibunda tercintanya itu akan dilaksanakan secara sederhana.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Polres Asahan, Pemkab Asahan dan masyarakat yang berkenan membantu saya dalam proses pemakaman omak saya, tapi saya mohon agar proses pemakaman omak saya nanti dilakukan dengan cara sederhana saja,” tuturnya. (bay/rah)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close