Berita

RHS Kecil, Pulang Sekolah Wajib ke Ladang..

FaseBerita.ID – Sebagaimana lazimnya anak-anak petani di kampungnya, RHS sepulang sekolah bersama saudaranya, harus ke ladang untuk membantu kedua orangtuanya.

Di ladang, apa saja dikerjakan RHS, dengan harapan dapat membantu mengurangi beban kedua orangtuanya. Hal itu dilakoni RHS hingga selesai pendidikan SMTP.

Setamat dari SMTP Pematang Raya, RHS harus diperhadapkan pada beberapa pilihan untuk masa depannya, yakni antara melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang ada di kota-kota besar, pergi merantau mencari kerja atau justru tetap tinggal di kampung menjadi seorang petani.

Namun, karena keterbatasan biaya, RHS akhirnya menetapkan pilihan untuk tinggal di kampung halaman saja. RHS pun mencoba bekerja di pertanian dengan menanam tomat. Itu dapat dilakukannya, karena ada bekal pendidikan pertanian yang dienyamnya selama duduk di bangku SMTP Pematang Raya.

Puji Tuhan, hasil tanamannya berbuah manis. Namun sangat disayangkan, hasil panen yang sangat menggembirakan itu, tidak dibarengi dengan harga jual yang layak. Alhasil, hasil panen justru merugi karena harga yang merosot.

Tak ingin berpangku tangan pada nasib, RHS lantas banting setir bekerja sebagai buruh harian lepas di peternakan ikan deras di Haranggaol. Usaha itu milik DR Wimson F Purba, seorang pejabat kantor perwakilan PBB di Indonesia. Di perusahaan ini, RHS bekerja setengah tahun lebih.

Meski tekun bekerja di peternakan ikan tersebut, namun tak kunjung bisa merubah nasibnya. Apalagi pada masa itu Haranggaol ditimpa musibah ikan mas bermatian karena diserang virus.

Merantau Berbekal Uang Rp13.000

Tahun 1989-1990, merupakan tahun yang sangat melekat dalam ingatan RHS. Bagaimana tidak, di tahun inilah, RHS terpaksa memilih untuk merantau ke Kandis, Riau.

RHS meninggalkan kampung halamannya hanya berbekal uang Rp13.000 di saku. Ketika itu, RHS menumpang bus Laut Tawar dengan tujuan Pasar Minggu, Kabupaten Kandis, Riau.

RHS harus merogoh saku, untuk biaya ongkos Rp7.500, sehingga hanya memiliki sisa uang Rp5.500.

Sebulan berada di Kandis, RHS hidup luntang-lantung, makan terancam dan tidur di gudang kosong atau emperan toko.

Di Kandis itu juga, RHS mengetahui bahwa rata-rata perantau biasanya bekerja di perusahaan yang hendak membuka lahan perkebunan kelapa sawit. Perusahaan itu, tidak hanya beroperasi di Kandis saja, bahkan hingga ke pedalaman Siak.

Karena tidak ada pilihan, RHS pun mencoba keberuntungannya dengan para perantau lainnya. Para pekerja pembukaan lahan tersebut biasanya orang-orang yang bermasalah di kampungnya, dan mereka melarikan diri atau sembunyi dari lawan atau aparat keamanan.

Binatang buas dan perkelahian antar pekerja atau antar kelompok pekerja bisa jadi ancaman jiwa. Ibarat ungkapan, “Hidup Pakai, Mati Dibuang”.

Selama bekerja di hutan, RHS terserang penyakit Malaria Tropica akut, sehingga RHS hampir menyerah dengan kondisi tubuhnya yang melemah.

Atas saran teman-temannya, RHS pun terpaksa pulang kampung ke Tigarunggu. Selama di kampung, RHS menjalani perawatan hingga pulih dari sakit yang dideritanya.

Sembari berobat, RHS tetap mencari lowongan pekerjaan. Tahun 1990, RHS mengajukan lamaran ke perusahaan milik DL Sitorus, yaitu PT. Torgamba. RHS diterima di bagian koperasi simpan pinjam, sekaligus sebagai pekerja di perusahan sawit.

Selama bekerja di Torgamba, RHS berpindah-pindah antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Riau.

Membuka Usaha Sendiri

Banyak pengalaman yang ditimbanya selama bekerja di perusahaan milik DL Sitorus, sehingga tahun 1999, RHS akhirnya memutuskan mengundurkan diri dan mencoba berwiraswasta.

Usaha pertama yang digelutinya adalah koperasi simpan pinjam kecil-kecilan di tempatnya yang baru, yakni Tanjung Pinang di Pulau Bintan, Provinsi Riau (Kepri).

Pelan tapi pasti, usaha yang dijalankannya dengan ketekunan dan kerja keras itupun akhirnya membuahkan hasil dan berkembang pesat.

Dengan adanya perbaikan nasib, RHS pun menikah dengan pujaan hatinya, Ratnawati boru Sidabutar di tahun 1993 dan hingga sekarang dikaruniai tiga anak perempuan dan seorang laki-laki.

Sementara itu usaha koperasi simpan pinjam miliknya mulai berkembang dan cabang-cabangnya melebar hingga ke Pekanbaru.

Berbekal pengalaman kerja selama di perkebunan sawit, RHS pun mencoba hal baru yaitu berkebun sawit di Riau dan Kalimantan hingga berkembang pesat.

Pada tahun 2007, RHS mengekspansi bisnisnya ke bidang pengembang perumahan (developer/properti) yang mencakup 16 perusahaan yang berkibar di Kota Batam, Tanjung Pinang dan Tanjung Balai Karimun hingga Pekanbaru, Cikarang (Bekasi) dan Sampit (Kalimantan Tengah).

Sambil menggeluti usaha bisnisnya, RHS memiliki keinginan yang kuat untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, dan pada tahun 2013, RHS mendaftar ke Fakultas Hukum Universitas Batam dan menyelesaikan bangku perkuliahan tahun 2017.

Setelah sukses di sejumlah usaha bisnis, RHS pun tumbuh menjadi pengusaha sukses ternama di Kota Batam.

Beriring perjalanan waktu, ternyata RHS sudah menyimpan kerinduan untuk kembali ke kampung halamannya Simalungun, dengan satu tujuan membangun kampung halamannya Kabupaten Simalungun.

Tentu, niat yang semakin menguat untuk membangun Kabupaten Simalungun, hanya dapat diwujudkan dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Kabupaten Simalungun.

Niat mulia itu pun disampaikannya kepada sang istri. Tidak hanya itu, dalam doanya pun, niat itu senantiasa disampaikan kepada Tuhan.

Menyadari keinginan suaminya yang demikian kuat untuk membangun kampung halamannya, sang istri tercinta dengan mantap menyatakan setuju dan mendukung niat tulus dan mulia sang suami untuk memajukan Kabupaten Simalungun dengan mencalonkan diri bersama bakal calon Wakil Bupati Zonny Waldi di Pilkada Kabupaten Simalungun yang akan digelar pada 9 Desember 2020. (rel)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button