Berita

Puluhan Ibu-ibu Menangis di Pengadilan: ‘Tolong Kembalikan Uang Kami…’

SIANTAR, FaseBerita.ID – Puluhan nasabah Koperasi Swadharma yang didominasi ibu-ibu menangis di Pengadilan Negeri Siantar, Rabu (10/7/2019). Mereka meminta uang mereka bernilai ratusan juta dikembalikan terdakwa Rahmat, yang mengelola koperasi tersebut.

Rahmat sendiri kini sudah mendekam di Lapas atas kasus penipuan. Hari itu dia dihadirkan di PN Siantar sebagai lanjutan sidang minggu lalu dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Hadir sebagai saksi Hotna Rumasi Lumban Toruan dan Tora Resmida Lumban Toruan.

Para saksi spontan menangis. Mereka terisak mengingat uang mereka lenyap begitu saja akibat ulah terdakwa.

“Majelis Hakim yang kami hormati, kami ini awalnya datang ke sana untuk menabung uang dari Mandiri ke BNI. Namun terdakwa Rahmat mendatangi dan membujuk agar kami ke koperasi. Yang mana koperasi itu katanya masih di bawah naungan BNI. Makanya di awal kami memberikan Rp200 juta,” kata Hotna.

Namun tiba saatnya ketika mereka hendak menarik uang tersebut, terdakwa malah menyuruh mereka untuk bersabar.

“Ketika kami mau mengambil uang itu, terdakwa hanya bilang agar kami bersabar. Katanya sabar aja bu, amannya itu. Begitu terus dia bilang,” ungkapnya.

Wanita ini terus menangis. Bahkan Majelis Hakim merasa iba. Apalagi mengingat usia mereka yang sudah tidak muda lagi.

Hal senada disampaikan Tora Resmida Lumban Toruan. Wanita ini spontan menangis begitu dimintai keterangan di persidangan.

“Tega sekali kau Rahmat menipu kami yang pensiunan ini. Kami ini sudah tua. Uang itu kami kumpulkan bertahun-tahun. Tega sekali kau menipu kami. Tolong kembalikan uang kami itu,” isak Resmida sambil menangis.

Tuntutan serupa disampaikan Rumintang Sihombing. Ia mengisahkan awal dia menyimpan uang di koperasi tersebut.

Terdakwa merayu supaya saksi menyimpan uang di koperasi yang dikelola terdakwa. Alasannya sama dengan yang lainnya. Yaitu membawa nama BNI, dengan bunga yang lebih besar.

Oleh para saksi pun tergiur. Namun tiba saatnya penagihan, lagi-lagi alasan serupa dilontarkan terdakwa.

“Itu benar Majelis Hakim. Kami hanya ingin uang kami dikembalikan. Jangan sampai ditipu seperti ini. Kami sudah tua,” ujar saksi lainnya bernama Albine Siagian.

Untuk mendengarkan keterangan saksi lainnya, Majelis Hakim kembali meninda sidang minggu depan.

Namun, usai persidangan, kemarahan para nasabah membludak. Mereka meneriaki terdakwa penipu dan meminta agar uang mereka dikembalikan.

“Dasar penipu kau. Kami yang sudah tua kau tipu. Ajalmu akan kau terima dengan ulahmu penipu,” teriak mereka kepada terdakwa.

Sebelumnya dalam dakwaanJaksa Lynce Jernih Margaret SH, perbuatan terdakwa Rahmat terjadi pada tanggal 07 Januari 2013, 22 Agustus 2014, 14 Januari 2016, 15 Januari 2016, 16 Desember 2014, 18 Maret 2015, 18 september 2015, 20 Desember 2014, 18 Maret 2016, 20 April 2016 atau setidak-tidaknya pada waktu-waktu di antara tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 di kantor Bank BNI Cabang Pematangsiantar.

Baca juga: Ibu-ibu Korban Terdakwa Rahmat, Datangi PN Siantar: Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Saat itu terdakwa yang melihat Albine dan Hotna sedang berada di Costumer service. Terdakwa datang mendekati costumer service dan duduk di samping petugas dan bermaksud menyimpan uangnya.

Namun terdakwa menawarkan kepada korban agar menyimpan di Koperasi Swadharma karena diberikan bunga yang lebih besar.

Akibat tawaran itu, para korban akhirnya memilih koperasi tersebut. Namun ahirnya mengalami kerugian hingga mencapai miliaran rupiah. Hingga saat ini uang korban yang diperkirakan mencapai 50 orang tersebut belum dikembalikan. (ros/des)

Tags

Berita lainnya

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close