Berita

Puluhan Ha Tanaman Kopi Warga Dirusak Pakai Alat Berat

Polisi dan Dishut Diminta Turun Tangan

SIANTAR, FaseBerita.ID – Puluhan hektare (Ha) tanaman milik warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju Bersama di Nagori Sipangan Bolon Mekar, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, dirusak menggunakan alat berat. Pelakunya, sekelompok warga yang mengaku lahan tersebut merupakan miliknya.

Akhirnya, warga yang tanaman kopinya rusak, melapor ke Polres Simalungun dan ke kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Siantar Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara.

Warga mendatangi kantor KPH Wilayah II Siantar Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, di Jalan Gunung Simanuk-manuk Pematangsiantar, Senin (23/9/2019). Mereka melaporkan sekaligus meminta penegasan soal lahan yang mereka usahai, yang telah diratakan menggunakan alat berat. Sebab, akibat masuknya alat berat, tanaman kopi mereka rusak dan tidak bisa dipanen.

Ketua Kelomok Tani Carles Situmorang didampingi Reknol Silalahi selaku Sekretaris menceritakan, lahan itu sudah mereka kelola sejak tahun 2005. Hingga saat ini ada 250 kepala keluarga (KK) yang menjadi anggota kelompok tani.

“Sebelumnya, sudah banyak yang mengelolh lahan tersebut. Sepengetahuan kami, lahan tersebut masih di kawasan register,” ujar Carles.

Oleh karena itu, pengurus kelompok tani telah mengusulkan ke Kementerian Kehutanan agar pengelolaan lahan tersebut memiliki legalitas.

“Sebelumnya, ada program pemerintah yang menyebutkan, masyarakat diberi kewenangan untuk mengelola kawasan hutan dengan tujuan mengurangi angka kemiskinan. Izin tersebut juga memiliki batasan-batasan. Nah, itu sudah kami urus tiga kali. Tahun 2018 terakhir,” terang Carles.

Atas usulan tersebut, sudah pernah ada utusan dari Kementerian Kehutanan untuk cek ke lapangan guna memroses usulan warga. Selama berlangsungnya proses pengusulan, warga menanam kopi sebagai sumber mata pencaharian. Saat ini, sebenarnya kopi tersebut sudah bisa dipanen.

Hanya saja, baru-baru ini warga dikejutkan dengan kehadiran sekelompok orang yang mengaku lahan tersebut merupakan tanah keluarganya. Sekolompok orang tersebut langsung melakukan tindakan dengan merusak tanaman warga menggunakan alat berat.

“Jadi kami terkejut tiba-tiba ada yang mengaku itu tanahnya. Karena tanaman kami telah dirusak dan menimbulkan kerugian, kami sudah membuat laporan ke Polres Simalungun, 13 September 2019 lalu dan saat ini masih diproses,” kata Carles lagi.

Menurut Carles, laporan itu dibuat agar Polres Simalungun turun tangan untuk mencegah terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, kelompok tani juga mendatangi Dinas Kehutanan untuk penegasan soal status lahan tersebut. Apakah memang lahan pribadi atau masih kawasan hutan.

“Kami tidak ingin ada konflik di lapangan, makanya kita tetap mengedepankan jalur hukum. Kita berharap jangan sampai ada konflik. Itu sebabnya, kami berharap kepada polisi agar segera bertindak. Karena tanaman masyarakat telah dirusak dan mata pencaharian masyarakat menjadi hilang,” ujar Carles.

Carles meminta Dinas Kehutanan segera mengambil tindakan dan tidak membiarkan masalah ini berlanjut.

Terpisah, Sukendra Purba selaku Kasi Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat di KPH Wilayah II Siantar Dinas Kehutanan Provinsi Sumatara Utara belum bisa dihubungi karena masih ada pertemuan dengan masyarakat. (pra)



Unefa

Pascasarjana
Tags
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker