Berita

Puluhan Abang Becak di Madina Menagih Bantuan

FaseBerita.ID – Puluhan abang becak betor (becak sepedamotor) di Mandailing Natal (Madina) mendatangi kantor Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) dan kantor DPRD, Rabu (8/4) siang, sekira pukul 12:00 WIB.

Kedatangan mereka itu bertujuan untuk menanyakan bantuan yang tak kunjung diterima dari pemerintah daerah di saat Virus Covid-19 atau Corona mewabah.

Pantauan wartawan, sebelum memasuki komplek perkantoran payaloting yang merupakan lokasi kantor Pemkab Madina dan kantor DPRD. Puluhan abang becak ini sempat dihalau oleh petugas Satpol PP yang berjaga di pintu masuk komplek perkantoran payaloting.

Tampak setelah melakukan pembicaraan dengan petugas itu, akhirnya mengijinkan dari perwakilan abang becak untuk masuk. Dahruddin Nasution dan Ammar Batubara mewakili abang becak langsung menuju kantor kerja Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution.

Di depan kantor itu kedua abang becak warga Kecamatan Panyabungan ini bertemu dengan Staf Ahli Pemerintahan dan Hukum Pemkab Madina Daud Batubara dan Fandi Lubis Staf Ahli Keuangan Pemkab Madina dan didampingi Kasatpol PP Lismulyadi yang sebelumnya sudah menerima laporan dari petugas Satpol PP yang berjaga.

Dua abang becak ini pun langsung menyampaikan bahwa mereka para tukang becak sampai saat ini belum juga ada menerima bantuan sembako dari pemerintah daerah.

“Kami lihat di FB (Facebook) bahwa kami yang berprofesi tukang becak, supir bus dan petani katanya dapat bantuan dari pemerintah atas dampak virus ini,” terang kedua abang becak tersebut.

Menanggapi hal itu, Daud dan Fandi mengatakan pemerintah daerah kalau mau menyalurkan bantuan ke masyarakat terlebih dulu melakukan koordinasi dengan para Lurah dan Kepala Desa.

“Orang bang koordinasi dan sampaikan ke Lurah dan Kepala Desanya masing-masing dulu. Pasti di data nanti oleh mereka. Dan, kalau nanti ada bantuan dari pemerintah akan disalurkan melalui Lurah atau Kepala Desa. Sebab, yang tau kondisi warganya yang membutuhkan itu adalah mereka,” ujar kedua Staf Pemkab itu.

Usai menerima penjelasan, dua abang becak turun menemui rekan-rekan lainnya yang sedang menunggu di pintuk masuk komplek perkantoran payaloting.

Namun, rekan-rekan dari abang becak tak menerima tanggapan yang disampaikan oleh kedua Staf Pemkab itu.

Dan, puluhan abang becak akhirnya masuk ke komplek tanpa menghiraukan hadangan dari petugas Satpol PP yang berjaga.

Puluhan abang becak yang berjumlah sebanyak sekitar 20 puluh ini awalnya ingin menemui Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution. Namun, mendapat info kalau Bupati sedang tidak berada di ruang kerjanya, puluhan abang becak pun langsung mengarah ke kantor DPRD.

Saat di DPRD, puluhan abang becak sempat mengancam akan terus berada di kantor DPRD apabila tak ada tanggapan dari DPRD mengenai keluhan mereka tersebut.

Erwin Nasution Wakil Ketua DPRD dari Golkar dan Harminsyah Batubara Wakil Ketua DPRD dari Demokrat yang berada di kantornya mempersilahkan perwakilan abang becak untuk beraudensi dengan mereka di ruang kerjanya.

Erwin dan Harminsyah menyampaikan bahwa yang menerima bantuan sembako dari pemerintah untuk saat ini didahulukan adalah masyarakat yang tidak termasuk dari kategori penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Dijelaskan mereka, bahwa pemerintah tentu akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak dari bencana Virus Copid-19 ini. Namun, bantuan yang diberikan disalurkan secara bertahap. Kemaren itu, sudah menyalurkan bantuan sembako bagi 500 KK yang berada di Kecamatan Panyabungan.

“Bantuan pemerintah itu disalurkan secara merata ke masyarakat. Ada jenis bantuan pemerintah itu disalurkan lewat penerima BLT dan PKH. Jadi, untuk yang tidak termasuk kategori kedua itu, nanti akan mendapat bantuan sembako dari pemerintah daerah. Tapi, itu disalurkan juga secara bertahap,” jelas keduanya.

Kedua pimpinan DPRD itu menyarankan kepada abang becak agar menemui Lurah dan Kepala Desa atau Keplingnya masing-masing. Kemudian, memastikan apakah sudah terdata dan mananyakan apakah termasuk pada kategori penerima bantuan BLT atau PKH.

“Orang bapak tanyakan dulu, apakah orang bapak ini termasuk di kategori penerima BLT atau PKH. Kalau belum termasuk di kategori itu sampaikan ke mereka biar di data mereka. Saat ini pemerintah sedang mengumpulkan data-data itu,” ujar kedua pimpinan DPRD.

Kepada wartawan, perwakilan abang becak mengeluhkan pendapatan mereka yang berkurang drastis atas dampak dari bencana Virus Covid-19 ini. Sebelumnya, menurut mereka bahwa penghasilan yang bisa didapat mencapai Rp.100 sampai 200 ribu.

Namun, saat keadaan pandemi Virus ini pendapatan mereka berkurang menjadi Rp, 20 sampai 50 ribu. “Kalau sekarang kalau bisa dapat 20 ribu atau 50 ribu per harinya, itu sudah hebat kali,” kata Dahruddin dan Ammar.

Mereka pun mengharapkan supaya lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah. Sebab, akibat dari pendapatan yang berkurang drastis mereka mengaku kalau kebutuhan keluarga mereka kini mulai terancam. “Kebutuhan keluarga pun sudah terancam tak lagi terpenuhi, belum lagi setoran ke pemilik becak kami,” keluh kedua abang becak itu. (Mag 01)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button